
JAKARTA – Indonesia dan Norwegia resmi meluncurkan tahap keempat Result-Based Contribution (RBC-4), menandai keberlanjutan kemitraan strategis kedua negara dalam mendukung pengurangan emisi gas rumah kaca melalui program REDD+ (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation).
Acara peluncuran yang berlangsung di Jakarta, pada Selasa (10/12/24), ini dihadiri oleh Utusan Khusus Presiden Bidang Perubahan Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, serta Duta Besar Norwegia untuk Indonesia Rut Kruger Giverin.
Dalam RBC-4, Indonesia memperoleh pembayaran sebesar USD 60 juta atas keberhasilan mengurangi emisi gas rumah kaca periode 2019–2020. Hal ini menambah total dana hasil RBC yang diterima Indonesia menjadi USD 156 juta sejak RBC-1 pada tahun 2016.
Peluncuran RBC-4 menjadi bagian penting dalam kerangka kerja FOLU (Forestry and Other Land Use) Net Sink 2030. Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyatakan bahwa program ini merupakan kelanjutan kemitraan baik antara Indonesia dan Norwegia.
“RBC-4 menandai komitmen yang kuat untuk kerja sama internasional dalam menghadapi tantangan iklim global. Dana ini digunakan untuk pengelolaan hutan lestari, penyerapan karbon, konservasi keanekaragaman hayati, dan penegakan hukum,” jelasnya.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menambahkan bahwa dukungan dari Norwegia memperkuat langkah Indonesia dalam mengurangi emisi deforestasi dan degradasi hutan.
“Kolaborasi ini mencerminkan pendekatan yang strategis dan berorientasi hasil untuk mencapai FOLU Net Sink 2030,” ujarnya.
Kerja sama Indonesia-Norwegia dalam program RBC dimulai pada 2016. RBC-1 hingga RBC-3 menghasilkan pembayaran total USD 96 juta, mencerminkan keberhasilan Indonesia dalam mengurangi emisi karbon sebesar 31,2 juta ton CO₂e selama periode 2016–2019.
Pada 2022, kedua negara memperbarui komitmen kerja sama melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU). Kesepakatan ini mencakup lima prioritas utama, termasuk pengurangan emisi dari deforestasi, peningkatan penyerapan karbon melalui pengelolaan hutan, dan konservasi keanekaragaman hayati.
Di kesempatan yang sama, Mantan Menteri LHK, Siti Nurbaya, yang terlibat dalam pembahasan awal RBC-4, menekankan pentingnya hubungan ini.
“Kemitraan ini didasarkan pada kesetaraan dan bukti nyata, memungkinkan kedua negara mengambil tindakan bersama untuk mencapai tujuan iklim masing-masing,” jelasnya.
Sementara itu, Duta Besar Norwegia, Rut Kruger Giverin, mengungkapkan apresiasinya terhadap kepemimpinan Indonesia dalam mengurangi emisi deforestasi.
“Indonesia telah memberikan contoh luar biasa di tingkat global. Kerja sama ini menunjukkan bagaimana negara-negara dengan banyak hutan hujan dapat bermitra dengan negara barat untuk melawan perubahan iklim,” ungkapnya.
Peluncuran RBC-4 menjadi tonggak penting dalam kerja sama Indonesia dan Norwegia. Selain mendukung tujuan iklim nasional, inisiatif ini diharapkan menjadi inspirasi global untuk aksi kolektif dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.