Pusat Plasma Nutfah Nasional, Upaya Jangka Panjang Pelestarian Hayati

FAZ • Wednesday, 11 Dec 2024 - 07:35 WIB

PENAJEM PASER UTARA - Pembangunan Pusat Plasma Nutfah Nasional resmi dimulai setelah acara groundbreaking yang dilaksanakan pada Selasa, 15 Oktober 2024. Terletak di Kelurahan Mentawir, Kabupaten Penajam Paser Utara, Provinsi Kalimantan Timur, pusat ini akan mencakup area seluas 93,2 hektare. Pembangunan fisik yang telah dilakukan sejauh ini mencapai 2,02% atau sekitar 2,04 hektare dari total luas area.

Pusat Plasma Nutfah Nasional adalah inisiatif untuk pengelolaan keanekaragaman hayati jangka panjang melalui pengelolaan plasma nutfah atau sumber daya genetik. Inisiatif ini sejalan dengan upaya Indonesia dalam melestarikan keanekaragaman hayati dengan beberapa tujuan utama: mengurangi risiko kepunahan spesies, menjaga kemurnian genetik spesies, serta mengelola interaksi manusia dengan satwa liar untuk hidup berdampingan dengan alam.

Pusat ini diharapkan memberikan berbagai manfaat jangka panjang, antara lain pelestarian keanekaragaman hayati, mendukung ketahanan pangan, serta menghadapi tantangan perubahan iklim dan pertanian. Pusat Plasma Nutfah Nasional juga akan menjadi sumber penelitian ilmiah yang penting, memungkinkan pengembangan varietas tanaman baru yang lebih tahan terhadap hama, penyakit, dan kondisi lingkungan yang ekstrem.

Selain itu, pusat ini akan berkontribusi pada restorasi ekosistem yang terdegradasi dengan menyediakan bahan genetik untuk pemulihan spesies yang terancam punah. Pusat ini juga berfungsi sebagai tempat edukasi yang dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pelestarian keanekaragaman hayati, mendukung keberlanjutan lingkungan, dan kehidupan masa depan.

Sebagai bagian dari upaya global untuk konservasi, Norwegia turut berpartisipasi dalam pembangunan Pusat Plasma Nutfah Nasional. Duta Besar Norwegia untuk Indonesia dan Timor Leste, Rut Krüger Giverin, turut hadir dalam acara groundbreaking tersebut. Dalam sambutannya, Dubes Ruth mengungkapkan apresiasi terhadap pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) yang disertai upaya perlindungan hutan dan sumber daya alam. Ia juga menekankan bahwa pembangunan pusat ini akan sangat berguna untuk melestarikan kekayaan biodiversitas Indonesia.

Lebih lanjut, Dubes Ruth menyampaikan bahwa Norwegia memiliki lembaga serupa, yakni Svalbard Global Seed Vault, yang menyimpan koleksi benih dari seluruh dunia untuk melestarikan keanekaragaman hayati global, khususnya dalam bidang pertanian. Norwegia dan Indonesia juga telah menjalin kolaborasi yang efektif dalam pengendalian iklim, terutama di sektor hutan dan lahan, yang ditujukan untuk menurunkan emisi dan melindungi hutan tropis.

Pembangunan Pusat Plasma Nutfah Nasional ini dibagi menjadi empat zona, yaitu Zona A (Kawasan Utama, yang mencakup Biobank, Seedbank, Hub Center, dan Kantor Pendukung), Zona B (Perkampungan Tradisional), Zona C (Kawasan Wisata Edukasi dan Rekreasi), dan Zona D (Kawasan Pendukung Untuk Aktivitas Publik).

Selain itu, teknologi konservasi juga terus dikembangkan, termasuk Assisted Reproductive Technology (ART) dan Biobank, yang dikembangkan melalui kerja sama KLHK dengan IPB, khususnya di Sekolah Kedokteran Hewan IPB. Pusat ART dan Biobank Nasional ini mendukung pengembangan teknologi terkini untuk pelestarian satwa terancam punah di Indonesia dan akan berkolaborasi dengan Pusat Plasma Nutfah Nasional di Mentawir.

Pengembangan teknologi Seed Bank yang dilakukan oleh Universitas Gajah Mada (UGM) juga berperan penting dalam mendukung Pusat Plasma Nutfah Nasional, dengan fokus pada pelestarian sumber daya genetik tanaman.

Secara keseluruhan, Pusat Plasma Nutfah Nasional di IKN diharapkan dapat menjadi pusat koleksi plasma nutfah Indonesia, wadah untuk riset dan edukasi keanekaragaman hayati, serta pusat inovasi dalam aplikasi teknologi reproduksi, Biobank, Seed Bank, dan pemanfaatan data dan informasi plasma nutfah Indonesia.