Seminar Nasional Internal Audit 2024 Hasilkan 5 Rekomendasi

MUS • Saturday, 7 Dec 2024 - 20:24 WIB
Muhamad Sidik Heruwibowo, Komisaris Utama, PT Bank Raya Indonesia

Jakarta - Yayasan Pendidikan Internal Audit (YPIA) menggelar Seminar Nasional Internal Audit (SNIA) di Bali yang diikuti oleh internal auditor dari perwakilan instansi pemerintahan, swasta dan masyarakat umum, (4-5/12/2024)

Di tengah dinamika bisnis, disrupsi digital, dan krisis iklim yang terjadi saat ini, ekspektasi key- stakeholder atas organization sustainability, keamanan siber dan strategi manajemen risiko yang inovatif menjadi makin meningkat. 

Peran audit internal tidak lagi terbatas pada pengawasan (fungsi assurance), tetapi juga diharapkan menjadi penggerak inovasi dan pendorong keberlanjutan bisnis (trusted advisor).

Transformasi budaya menjadi salah satu kunci bagi organisasi untuk memastikan daya saing dan relevansi jangka panjang. Oleh karena itu, kami mengikuti SNIA 2024 yang mengusung tema "Cultural Transformation: Integrating ESG, Cybersecurity, and Innovative Risk Management". 

Berdasarkan berbagai materi yang diulas serta diskusi yang berkembang selama SNIA 2024, kami merekomendasikan langkah-langkah strategis untuk mengintegrasikan nilai-nilai keberlanjutan ke dalam strategi organisasi/korporasi untuk memperkuat keamanan siber yang inklusif, dan mengadopsi innovative risk management guna menciptakan keunggulan kompetitif pada era transformasi digital.

Hasil rekomendasi ini dibacakan oleh perwakilan peserta SNIA 2024, Muhamad Sidik Heruwibowo, Komisaris Utama, PT Bank Raya Indonesia (Persero) Tbk.

Lima rekomendasi yang dihasilkan dari SNIA 2024 antara lain:

1. Membangun Adaptive Leadership untuk Menyikapi Era TUNA (Turbulence, Uncertainty, Novelty, and Ambiguity) 

Adaptive Leader memainkan peran penting dalam menghadapi tantangan yang muncul pada era TUNA (Turbulence, Uncertainty, Novelty, and Ambiguity). Adaptive Leader tidak hanya mampu mengelola ketidakpastian dan dinamika pasar, tetapi juga memainkan peran penting dalam menciptakan budaya organisasi yang bebas dari korupsi (minimizing fraud risk) dengan memanfaatkan berbagai tools diantaranya adalah Fraud Risk Scenario dan Dynamic Risk Scoring Models.

Mampu mengantisipasi pola perubahan, merancang strategi berbasis scenario planning, dan mengintegrasikan prinsip-prinsip etika, transparansi, akuntabilitas, dan keberlanjutan dalam setiap keputusan, untuk memastikan keberlangsungan organisasi di masa depan.

2. Mengintegrasikan ESG (Environmental, Social, and Governance) dalam Core Strategy Organisasi perlu mengadopsi ESG-driven innovation dengan adaptasi dari berbagai framework terkini yang relevan seperti dirilis melalui International Financial Reporting Standards (IFRS) S1 dan S2, Global Reporting Initiative (GRI) serta Task Force on Climate-Related Financial Disclosures (TCFD).

Penggunaan sustainability metrics, seperti carbon footprint tracking atau supply chain transparency, tidak hanya memenuhi tuntutan regulator, tetapi juga meningkatkan daya saing di mata investor dan konsumen serta tanggung jawab untuk generasi yang akan datang.

Transformasi budaya berbasis ESG harus menjadi prioritas untuk mencapai long-term value creation.

3. Membangun Cyber-Resilient Ecosystem dengan Pendekatan Budaya Kolaboratif

Di era kejahatan siber yang makin canggih, cybersecurity resilience memerlukan digital- zero trust culture yang mengedepankan kolaborasi lintas fungsi. Melibatkan semua pihak dalam organisasi melalui cyber awareness program, real-time threat intelligence sharing. dan multi-layered security protocol untuk menciptakan sistem yang tangguh terhadap ancaman sekaligus membangun kepercayaan stakeholder.

4. Mengadopsi Predictive Risk Analytics untuk Mengelola Ketidakpastian

Organisasi perlu beralih dari reactive risk management menjadi predictive risk analytics. Predictive risk analytics memungkinkan identifikasi risiko secara dini, memberikan tenggat waktu yang cukup untuk memitigasi risiko sebelum risiko menjadi ancaman nyata.

Collaborative governance framework juga diperlukan dalam menciptakan ekosistem risiko yang mampu mendukung inovasi dan mitigasi secara simultan.

5. Mendorong Behavioral Alignment untuk Mengakselerasi Transformasi Budaya di Organisasi

Transformasi budaya harus berfokus pada behavioral alignment di semua lini organisasi. Transformasi budaya mencakup data-driven decision-making, peningkatan kolaborasi lintas fungsi, dan strategic agility untuk mendorong inovasi.

Organisasi perlu menerapkan continuous learning ecosystem dan change management program untuk memastikan budaya yang responsif terhadap tantangan global sekaligus mendukung integrasi ESG, keamanan siber dan manajemen risiko yang inovatif secara berkesinambungan.

Demikian hasil dan rekomendasi Seminar Nasional Internal Audit 2024 agar mendapat perhatian dari para Auditor Internal, eksekutif, dan pemangku kepentingan baik di tingkat daerah, nasional dan regional.

Rangkaian acara Seminar Nasional Internal Audit yang digelar selama dua hari di tutup oleh Ardan Adiperdana selaku Ketua Pembina YPIA.

Dalam penutupan SNIA ia menyampaikan peran internal auditor meningkatkan efisiensi untuk memberikan kontribusi menurunkan ICOR dan peran internal auditor menurunkan korupsi di institusi atau organisasi tempatnya berada. 

"Integrating ESG dan Cybersecurity menjadi isu utama pada gelaran SNIA. Transformasi budaya merupakan hal yang harus dilakukan oleh organisasi untuk kemajuan di masa yang akan datang, kata Ardan.