Membatik dari Tinta Mangrove, Ayu Paramita Raup Rp 3 juta per bulan

ANP • Tuesday, 3 Dec 2024 - 04:51 WIB

DELI SERDANG - Tangan kanan Ayu Paramita (30) begitu cekatan menggerakan canting saat mengikuti pola bunga di sehelai kain polos. Ketika tintanya habis, dia kembali mencelupkan canting ke wajan panas.

Tinta warna cokelat yang dia pakai itu bukanlah berbahan sintetis, tetapi alami. Tinta ini Ayu peroleh setelah mengolah akar mangrove yang mati di dekat perkampungannya, Desa Tanjung Rejo, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara.

“Kami mengambil pewarna itu dari akar pohon yang sudah mati, kami tidak ambil dari mangrove yang masih hidup. Jadi usaha kami ini tidak merusak lingkungan,” kata Ayu saat ditemui di Desa Tanjung Rejo, Senin (2/12/2024).

Ayu merupakan satu dari sekian warga setempat yang bergabung dalam Kelompok Sima Batik. Kelompok ini masuk dalam program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR), sebuah aksi konservasi mangrove yang diinisiasi oleh Pemerintah Indonesia dengan dukungan World Bank.

Program ini bertujuan untuk merehabilitasi ribuan hektar mangrove yang terdegradasi di empat fokus lokasi, yakni di Riau, Sumatera Utara, Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara. Langkah ini dilakukan demi memperkuat ketahanan pesisir, mengurangi emisi karbon, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Selain berfokus pada pemulihan ekosistem mangrove, M4CR juga mendorong pemberdayaan ekonomi lokal melalui berbagai program berkelanjutan yang melibatkan masyarakat. Mulai dari ekowisata, produksi kuliner lokal dan pelatihan pengelolaan sumber daya alam.

Ayu melanjutkan, ranting dan akar mangrove yang sudah mati itu dia olah dengan cara dicincang kemudian direbus dengan 10 liter air. Setelah direbus beberapa saat, air akan menyusut menjadi tujuh liter untuk dijadikan bahan tinta membatik kain.

“Batik kami ini memiliki khas tersendiri, karena menggunakan tinta dari mangrove. Kami sebetulnya ada batik dengan tinta sintetis, tergantung permintaan tapi yang paling laku memakai tinta mangrove,” jelasnya.

Kata dia, tinta yang dihasilkan menggunakan mangrove memiliki kualitas yang sangat baik. Meski demikian, dia tak menampik proses pengerjaannya cukup lama.

Ketika cuaca terik, proses pengeringan kain batik menggunakan tinta mangrove membutuhkan waktu tiga hari. Beda halnya ketika menggunakan tinta sintetis, hanya membutuhkan waktu sehari.

“Untuk (tinta) mangrove ini pewarnanya tidak bisa sama, misalnya ada pesanan 10 potong kain, pasti 10 kain itu tidak bisa sama warnanya, tetap ada bedanya. Dia (ranting) nimbulnya (tinta) berbeda-beda, misal ada yang lebih terang dan ada yang lebih gelap,” ungkap Ayu.

Sejauh ini, batik yang dia hasilkan dijual kepada para wisatawan domestik ataupun asing. Dalam sebulan, dia bisa menghasilkan 220 sentimeter kain batik dengan harga bervariasi.

“Kalau ini ada 2,20 meter harganya ada yang Rp 1 juta, Rp 1,2 juta dan Rp 800.000. Harga tergantung pola dan tingkat kesulitan,” ucapnya.

Kata dia, ada dua jenis batik yang diproduksi oleh kelompoknya, yakni batik tulis dan batik cap. Untuk batik tulis harganya jauh lebih mahal karena proses pengerjaan membutuhkan waktu lebih lama, dibanding dengan cara dicap.

“Kalau batik cap prosesnya agak cepat, dalam sebulan kami bisa dapat tiga kain, tapi kalau batik tulis hanya satu kain,” tuturnya.

Dalam sebulan, Ayu mengaku bisa mendapatkan cuan hingga Rp 3 juta-Rp 3,5 juta per bulan jika cuaca di perkampungannya cerah. Namun ketika cuaca hujan atau tak bersahabat, dia hanya mendapatkan duit sekitar Rp 1,5-Rp 2 juta per bulan.

“Kami berharap kepada pemerintah daerah agar membuatkan sanggar untuk membatik, jadi ketika hujan maka kain bisa dijemur dengan angin-angin saja, nggak mesti kena matahari, dan kalau musim hujan kena angin-angin saja bisa kering selama seminggu,” katanya.

Selain bisa menghasilkan cuan, membatik juga membawa dampak positif bagi Ayu sendiri. Dia kini bisa mengontrol emosi, karena membatik melatih kesabaran.

“Awalnya saya nggak suka membatik, karena kan harus sabar dan kalau nggak sabar sudah pasti nggak jadi. Tapi lama kelamaan saya nikmati, pelan-pelan yah enak sekarang, saya lebih cuka mencanting,” pungkasnya.

Sementara itu Kepala Desa Tanjung Rejo, Selamet mengajak masyarakat untuk ikut menjaga hutan mangrove demi pelestarian alam yang lebih baik. Kehadiran mangrove juga membawa dampak perekonomian positif bagi warga pesisir.

Hal itu dikatakan Selamet karena masih adanya warga yang mencoba-coba merusak mangrove. Mereka biasanya beraksi saat malam hari menggunakan boat atau perahu.

“Saat terang bulan mereka menebang dari boat langsung mereka bawa kayunya itu ke daerah Belawan,” ujar Selamet.

Untuk mencegah aksi ini, Selamet mengajak masyarakat setempat untuk meningkatkan pengawasan. Salah satu caranya melakukan patroli dengan cara berjalan kaki.
 
“Kami kejar pakai kaki, mereka lari memakai boat. Itu yang menjadi persoalan kami,” imbuhnya.

Selamet berharap pemerintah daerah bisa memberikan bantuan berupa perahu untuk mencegah adanya perusakan mangrove. Jika ada yang ingin merusak mangrove, tim bisa mengejar dan menangkapnya.

Untuk melindungi mangrove, pada tahun 2014 lalu Selamet mengeluarkan Peraturan Desa (Perdes) tentang perlindungan mangrove dan burung migran. Perusak mangrove akan dikenakan sanksi berupa mengganti 500 batang pohon, namun selama ini besaran denda masih diputuskan dari musyawarah desa.

“Waktu itu mereka memotong dibuat untuk kayu bakar, kami tahan, kami setop, kami denda berapa pohon yang dipotong,” katanya.

Nantinya denda yang dikenakan ke pelaku didasarkan pada jumlah pohon mangrove yang ditebang. Uang yang didapat dari denda itu digunakan untuk membeli bibit mangrove untuk ditanam kembali.

“Setelah kami denda, uang yang denda itu kami lakukan untuk penanaman ang pohon mangrove,” pungkasnya.