
Jakarta - Majelis Hukama Muslimin (MHM) kantor cabang Indonesia menggelar dialog “Peran Tokoh Agama Dalam Merawat Kerukunan dan Menjaga Kelestarian Alam”, untuk menyambut Hari Toleransi Internasional dan Conference of the Parties ke-29 (COP29) di Baku, Azerbaijan.
Pendiri Majelis Hukama Muslimin, Quraish Shihab, meminta para tokoh agama di tanah air mengedukasi umat soal pelestarian lingkungan demi mengatasi krisis iklim. Karena ajakan untuk berperan mengatasi krisis iklim merupakan bagian dari perintah agama.
“Peranan ulama dalam konteks kelestarian lingkungan adalah ikut serta menyadarkan masyarakat, bahwa alam adalah titipan Tuhan dan kita harus menjaganya. Karena setiap gangguan terhadap alam, bertentangan dengan perintah Tuhan, ujar Quraish Shihab dalam diskusi di Jakarta, Senin (11/11/2024).
Tapi lanjut Quraish Shihab, seruan moral untuk menjaga alam bukan hanya tugas ulama. "Melainkan tugas setiap individu di antara kita," katanya
Dalam kesempatan yang sama, anggota Komite Eksekutif Majelis Hukama Muslimin cabang Indonesia, Tuan Guru Bajang Muhammad Zainul Majdi, menjelaskan kaitan antara kerukunan dengan kelestarian alam.
Menurut TGB, isu pelestarian lingkungan harus terus dikampanyekan, karena pemanasan global dapat melahirkan konflik di tengah masyarakat.
“Pemanasan global akan berdampak pada naiknya air laut, sehingga mengancam masyarakat pesisir yang juga merupakan kelompok marginal. Pemanasan suhu global juga mengancam rantai pasok pangan dan bisa menyebabkan penyakit yang tidak diketahui sebelumnya. Permasalahan ini pada akhirnya akan menciptakan rentetan konflik, urai TGB.
Korelasi isu kerukunan dan kelestarian lingkungan, mendorong Majelis Hukama Muslimin untuk berperan aktif mengatasi masalah pemanasan global, yang bukan hanya menjadi tantangan para saintis, tapi juga pemuka agama.
Sejumlah upaya telah diinisiasi Majelis Hukama Muslimin, antara lain dengan menghadirkan Paviliun Iman pada COP-28 di Abu Dhabi dan COP-29 di Azerbaijan.
Paviliun Iman ini menjadi platform bagi para tokoh agama untuk bertemu dengan para penentu kebijakan dunia dan berdialog hingga timbul kesepahaman bersama tentang masalah aksi iklim.
"Kita bersyukur dalam kasus perubahan iklim, agama, sains, opini publik mengarah pada arah yang sama bahwa ini harus segera ditangani dengan sungguh-sungguh," pungkas dia.