200 orang ikut Russian Language Training & Cultural Exchange hasil kerja sama Unkris dan Ural State Pedagogical University Russia

ANP • Saturday, 9 Nov 2024 - 08:19 WIB

JAKARTA – Setelah berlangsung sekitar 2 bulan, akhirnya program “Russian Language Training & Cultural Exchange,” hasil kerja sama Universitas Krisnadwipayana (Unkris) dan Universitas Pedagogis Negeri Ural (Ural State Pedagogical University) Russia resmi ditutup pada Kamis (7/11/2024). Tercatat 200 orang terdiri atas dosen, mahasiswa dan masyarakat umum mengikuti kelas pembelajaran bahasa Rusia di Fakultas Ilmu Administrasi secara gratis yang berlangsung 23 September – 9 November 2024 tersebut.

Program “Russian Language Training & Cultural Exchange” merupakan kerja sama terkait implementasi Tri Darma Perguruan Tinggi, khususnya bidang Pengabdian Kepada Masyarakat. Kelas pembelajaran terbagi dalam 10 kelas, dan dilaksanakan setiap hari, mulai dari hari Senin sampai dengan hari Sabtu. 
Hadir dalam acara penutupan ini, Prof. Dr. Gayus Lumbuun, S.H., M.H. (Ketua Pembina Yayasan Unkris), Amir Karyatinm S.H. (Ketua Pengurus Yayasan Unkris), Dr. Ismail Razak, S.E., M.E.S (Rektor Unkris), Irjen. Pol. (Purn.) Dr. Drs. Ali Johardi, S.H., M.H. (Presiden Eksekutif Unkris), Jajaran Pengurus Yayasan Unkris, Dr. Ade Reza Hariyadi, S,IP., M.Si, (Dekan FIA Unkris) dan jajaran Struktural FIA serta para mahasiswa peserta Russian Language Training. 

Dalam sambutannya Prof. Gayus Lumbuun menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada Universitas Pedagogis Negeri Ural (Ural State Pedagogical University, Russia), khususnya kepada 2 orang dosen mereka yang mengajar bahasa Rusia di Unkris sejak 23 September 2024, Anastasia Phetukova dan Anna Shchepina. 

“Terimakasih kepada Dekan FIA beserta seluruh jajarannya atas keberhasilan pelaksanaan program ini,” ujar Prof Gayus.

Selanjutnya, Prof. Gayus Lumbuun mengutip pidato Presiden Soekarno yang dibacakan di hadapan Sidang Majelis Umum PBB ke-XV "To Build the World A New" (Membangun Dunia Baru) pada tanggal 30 September 1960. Pidato ini merupakan kritik Presiden Soekarno terhadap keprihatianan kepada negara-negara di Asia dan Afrika yang masih banyak berada di bawah penjajahan. 

“Menurut Soekarno, bahwa Indonesia merupakan taman bunga yang indah dengan segala kekakayaan alam yang berlimpah dan hal ini membuat daya tarik bagi banyak negara di dunia,” lanjut Prof Gayus. 

Mengacu kepada semangat Soekarno untuk membangun dunia yang baru, yang damai dan adil, serta memiliki keindahan yang menarik banyak orang, maka Prof. Gayus Lumbuun, berharap kepada semua pihak-pihak pemangku kebijakan di Universitas Krisnadwipayana, agar menjadikan kampus tercinta ini sebagai kampus yang membangun sesuatu yang baru. Yakni Unkris baru yang lebih maju, mampu bersaing secara global melalui kolaborasi dengan institusi-institusi luar negeri, khususnya kolaborasi yang sudah terjalin dengan Universitas Pedagogis Negeri Ural (Ural State Pedagogical Universsity, Russia). 
Prof Gayus menekankan pentingnya semangat nasionalisme Soekarno, melalui podatonya yang ditetapkan oleh UNESCO sebagai 1 dari 64 ‘Warisan Ingatan Dunia’ menjadi landasan mental dan spiritual bagi pemangku kebijakan, dosen, karyawan dan para mahasiswa untuk membangun “Unkris Baru  To Build Unkris A New”.

Dalam acara ini dilaksanakan juga penyerahan plakat Unkris yang disampaikan oleh Prof. Gayus Lumbuun dan penyerahan Merit Sertifikat oleh Rektor Unkris, Dr. Ismail Razak, SE, MS kepada Anastasia Phetukova dan Anna Shchepina, dilanjutkan penyerahan sertifikat oleh Ketua Pengurus Yayasan Unkris kepada 10 mahasiswa/i yang mewakili 10 kelas peserta kursus Bahasa Rusia, serta pemberian kenang-kenangan khas Indonesia kepada Anastasia Phetukova dan Anna Shchepina oleh Dekan FIA, Dr. Ade Reza Hariyadi, S,IP., M.Si.