
Jakarta — Kepedulian kepada perjalanan Irama Musik Tanah Air, Musisi, arranger, produser, dan pianis Rudy Octave secara resmi meluncurkan Buku Indonesia Darurat Irama pada hari ini di Jakarta, Senin (28/10).
Buku ini lahir dari perjalanan karir Rudy yang telah menekuni dunia musik selama 35 tahun. Melalui karya ini, ia mengupas sejarah, perkembangan, serta kekayaan irama musik, khususnya musik latin, yang telah mempengaruhi banyak budaya, termasuk Indonesia.
Dalam buku ini, Rudy Octave menelusuri jejak panjang perjalanan musik latin yang terbentuk dari kolonisasi bangsa Eropa di Amerika. Musik ini merupakan hasil akulturasi dan asimilasi budaya Eropa, khususnya Spanyol, Prancis, dan Portugis, yang menciptakan identitas baru seperti bangsa mestizo di Amerika Latin dan bangsa Brasilieros di Brasil.
“Musik latin tumbuh semakin kuat seiring eksodus para musisi dari Amerika Selatan ke Amerika Serikat, yang kemudian menjadi pusat industri musik dunia. Pengaruh musik latin ini mencapai berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, dan memberikan dampak besar pada perkembangan musik lokal,” ujar Rudy dalam sambutannya.
Buku Indonesia Darurat Irama mencatat lebih dari 161 jenis irama musik latin, lengkap dengan sejarah dan asal-usulnya. Menurut Rudy, irama adalah elemen penting yang memungkinkan musik untuk berkembang lebih dinamis, memperkaya alunan musik, dan menciptakan gerakan tari yang khas dan terstruktur.
“Hal ini memberikan dimensi baru bagi musik dan tarian, serta memudahkan orang dalam mempelajarinya,” katanya.
Rudy menyakini dokumentasi nama-nama irama sangat penting agar masyarakat lebih mudah dalam mengidentifikasi, menyebut, dan mengkomunikasikan jenis-jenis musik tersebut.
“Dengan dokumentasi yang baik, setiap irama juga menjadi identitas daerah dan bangsa yang melahirkannya,” tuturnya.
Pada acara peluncuran, Rudy Octave mengombinasikan irama latin dengan musik tradisional Indonesia. Dua lagu daerah turut dibawakan dalam acara ini, yaitu “Lenggon” dari suku Dayak Kanayatn, Kalimantan Barat, dan “Rahwana Gandrung” dari suku Sunda, Jawa Barat. Dengan irama ska, Rudy menyajikan karya tradisional ini bersama Laskar Dayak dan Ki Dalang Bubun Subandara, menampilkan kombinasi unik yang memikat para hadirin.
Peluncuran Indonesia Darurat Irama, membuka mata kita bahwa Indonesia, dengan keberagaman budaya dan alat musik tradisionalnya, hampir tidak memiliki pencatatan baku mengenai irama asli nusantara.
Rudy Octave mengajak masyarakat Indonesia untuk lebih sadar dan memahami kekayaan irama musik nusantara yang belum banyak terungkap.
“Buku ini menyajikan penjelasan yang kontekstual dan interaktif, memberikan pemahaman baru mengenai teori musik yang masih jarang disorot di tanah air,” imbuhnya.
Melalui karyanya ini, Rudy Octave menegaskan bahwa irama musik nusantara adalah kekayaan intelektual yang harus kita jaga dan lestarikan.
“Dengan kemajuan teknologi, bahwa irama-irama tersebut dapat terdokumentasi dan tersebar luas, mengangkat citra budaya Indonesia di mata dunia,” harapnya.
Buku Indonesia Darurat Irama, menjadi kontribusi penting bagi dunia musik dan budaya Indonesia. Bagi para penikmat seni, buku ini adalah jendela untuk memahami lebih dalam tentang potensi dan kekayaan irama yang kita miliki sebagai bangsa.