
BEKASI - Kepulan asap hitam membumbung tinggi di kawasan East Jakarta Industrial Park (EJIP), Bekasi, Jawa Barat, Rabu (16/10). Kepanikan pun sempat melanda puluhan pekerja di sekitar lokasi saat terjadi kebakaran besar yang diduga berasal dari tumpahan limbah berbahaya dan beracun (B3).
Menurut pantauan di lapangan, kebakaran terjadi ketika sebuah drum berisi limbah B3 terjatuh saat dipindahkan, menyebabkan cairannya tumpah ke lantai. Dalam waktu singkat, cairan tersebut tersulut percikan api, membakar seluruh area gudang penyimpanan. Salah seorang karyawan mencoba menggunakan alat pemadam kebakaran, namun upayanya gagal menghentikan kobaran api.
Pihak perusahaan segera menghubungi tim Emergency Response PT EJIP untuk mendapatkan bantuan. Dengan cepat, tim emergency mengirimkan kendaraan pemadam kebakaran dan melibatkan perusahaan pengolah limbah B3, PT Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLI). Tim dari PPLI dan armada pemadam kebakaran lainnya pun segera dikerahkan ke lokasi.
Namun, kebakaran tersebut ternyata hanya bagian dari simulasi kedaruratan dalam rangka kegiatan "The Sub-regional Workshop on Hazardous Wastes and Chemicals Emergencies" yang digelar oleh Secretariat of Basel, Rotterdam, and Stockholm Conventions (BRS Secretariat) bersama Joint Environment Unit (JEU) dari United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA). Acara ini juga didukung oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI serta Basel and Stockholm Convention Regional Centre for Southeast Asia (BSCRC-SEA).
Workshop yang berlangsung dari 14-17 Oktober ini diikuti oleh lebih dari 50 perwakilan industri dan dihadiri peserta dari 18 negara. Acara dibuka oleh Direktur Pengolahan Limbah B3 KLHK, Achmad Gunawan Widjaksono, pada 14 Oktober, serta menghadirkan narasumber internasional, termasuk Francesca Cenni dari BRS Secretariat dan Diego Reyes dari UNEP/OCHA JEU.
"Simulasi ini bertujuan untuk menguji kesiapsiagaan tim emergency response dalam menangani situasi darurat saat terjadi paparan limbah B3," kata Agus Kartiwan, Manager K3 PPLI, di sela-sela kegiatan simulasi.
Sementara itu, Presiden Direktur PT EJIP, Kenichiro Yoshida, menyampaikan apresiasinya atas simulasi ini.
"Kami ingin menunjukkan kesigapan tim emergency response EJIP dalam menghadapi potensi bencana di kawasan industri," ujarnya.
Data dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bekasi menunjukkan terdapat lebih dari 6000 industri di wilayah tersebut, menjadikannya kawasan industri terbesar di Asia Tenggara. Namun, masih banyak perusahaan yang belum teredukasi mengenai pentingnya kesiapsiagaan terhadap potensi bencana akibat limbah B3.
Melalui workshop ini, Sekretaris DLH Kabupaten Bekasi, Sukmawati, berharap kesadaran industri mengenai pentingnya keberadaan tim emergency response dapat meningkat.
"Ini adalah langkah penting untuk memastikan setiap perusahaan siap menghadapi potensi bencana akibat dampak teknologi," tutupnya.