Emas VS Bitcoin, kenali kelebihannya raup keuntungannya

ANP • Saturday, 14 Sep 2024 - 10:35 WIB

Jakarta - Bulan Agustus menjadi bulan yang sangat bersejarah bagi emas (XAU). Meskipun dimulai pada level yang tinggi setelah kenaikan lebih dari 5% di bulan Juli, harganya terus bergerak lebih tinggi di sebagian besar bulan Agustus, mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di level $2.531 per ounce (oz) pada tanggal 20 Agustus.

Penuh dengan peristiwa-peristiwa besar yang menggerakkan pasar di bulan lalu (lihat daftar di bawah), membuat perjalanan sebagian trader menjadi kurang mulus. Investor emas harus menghadapi pengaruh peningkatan ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah dan Eropa Timur, mengalami volatilitas substansial akibat kejatuhan pasar saham besar, dan mencerna ekspektasi suku bunga investor yang makin dovish. Seperti yang sudah terjadi sebelum-sebelumnya, emas sekali lagi membuktikan nilai dasarnya sebagai aset safe haven dan mungkin akan terus bersinar di bulan-bulan mendatang.

Koreksi dalam pergerakan pasar emas dinilai masih wajar dalam tren bullish yang masih terjadi

Meskipun ada kemunduran sementara, emas terus bergerak lebih tinggi di bulan Agustus, dan harga logam kuning ini tetap bertahan di atas moving average 100-hari dan 200-hari. Meningkatnya ekspektasi kebijakan moneter yang lebih longgar di AS dan global, ketegangan geopolitik dan ketidakstabilan politik yang tak berkesudahan, serta permintaan struktural yang kuat dari bank-bank sentral turut mendorong harga emas ke level tertinggi sepanjang masa. Selain itu, gambaran teknis menunjukkan tanda positif, yang menyebabkan tren beli oleh investor.

Permintaan fisik emas adalah pendorong utama di balik kenaikan harga emas di pasar finansial. Baru-baru ini, laporan Departemen Sensus dan Statistik Hong Kong (C&SD) menunjukkan bahwa impor emas bersih Tiongkok melalui Hong Kong di bulan Juli naik sekitar 17% dari bulan sebelumnya. Meskipun data untuk bulan Agustus belum dirilis, tampaknya dapat disimpulkan bahwa pembelian Tiongkok mungkin tetap tinggi mengingat People's Bank of China (PBOC), bank sentral Tiongkok, telah memberikan kuota impor emas baru kepada bank komersial untuk mengantisipasi kenaikan permintaan. Ini penting karena Tiongkok adalah konsumen emas terbesar di dunia, dan pola pembeliannya dapat memengaruhi pasar global dan berdampak pada harga. Bahkan, menurut World Gold Council (WGC), PBOC merupakan pembeli tunggal emas terbesar di dunia pada tahun 2023, dengan pembelian bersih sebesar 7,23 juta oz. Menurut estimasi broker global Octa, bank-bank sentral global telah menambahkan lebih dari 130 ton emas ke dalam cadangan mereka pada tahun 2024.

Emas vs Bitcoin, mana yang lebih menguntungkan

Persaingan antara emas dan Bitcoin sudah bertahun-tahun menjadi topik hangat di industri jasa keuangan. Keduanya memiliki daya tarik tersendiri bagi investor, tetapi merepresentasikan pendekatan yang sangat berbeda dalam hal pelestarian kekayaan dan pertumbuhan modal. Kedua aset ini dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi, tetapi dengan cara yang sedikit berbeda. Nilai emas secara historis terkait dengan kemampuannya melindungi nilai dari depresiasi mata uang dan inflasi. Di sisi lain, Bitcoin sering dianggap sebagai lindung nilai terhadap emisi mata uang fiat yang tidak terkendali karena pasokannya tetap dan hanya 21 juta koin. Namun, sejarah Bitcoin yang lebih pendek menjadikan aset ini kurang dapat diprediksi dalam peran lindung nilai dibandingkan emas.

Emas dan Bitcoin memiliki respons berbeda terhadap peningkatan risiko global, termasuk konflik geopolitik dan resesi ekonomi. Ketika stabilitas global terganggu, emas cenderung naik, sementara Bitcoin, yang sering berkorelasi dengan indeks AS seperti S&P 500 dan NASDAQ, cenderung menurun. Pasalnya, Bitcoin dianggap sebagai aset berisiko tinggi dengan imbalan yang juga tinggi, dan biasanya dijual terlebih dahulu ketika sentimen risk-off menghantam pasar. Investor kemudian mengalihkan dana ke aset yang lebih dapat diandalkan dan tidak terlalu volatil. Hubungan ini terlihat jelas di bulan Agustus, ketika emas naik 2,2% sementara harga Bitcoin turun 8,5%. Namun, Bitcoin mengungguli emas sejak awal tahun dengan kenaikan 44%.

Seiring berjalannya waktu, situasi ini dapat berubah karena Bitcoin mendapatkan kredibilitas di kalangan investor institusi. Beberapa ETF Bitcoin diluncurkan awal tahun ini, yang mulai membentuk kembali pasar mata uang kripto. Secara khusus, ETF mengurangi volatilitas Bitcoin karena permintaan menjadi lebih stabil. Selain itu, ETF Bitcoin bersaing dengan ETF Emas untuk memperebutkan dana investor.

Menurut The Block, yang merupakan portal riset kripto, pada bulan Agustus 2024, arus masuk ke ETF BTC melebihi $200 juta, sehingga totalnya sejak diluncurkan mendekati $60 miliar. Sebagai perbandingan, total aset yang dikelola (AUM) dalam ETF emas berjumlah sekitar $90 miliar.

“Jika tren ini terus berlanjut, ETF Bitcoin dapat melampaui ETF emas pada akhir tahun. Dalam jangka panjang, persaingan dengan Bitcoin kemungkinan besar akan memberikan tekanan bearish pada harga emas,” kata Kar Yong Ang.

Kebijakan moneter global

Harga emas ditetapkan dalam dolar AS sehingga sangat sensitif terhadap perubahan suku bunga AS, inflasi AS, dan nilai greenback. Seperti yang telah disebutkan, pasar diposisikan untuk Fed yang dovish. Bahkan, data pasar swap suku bunga terbaru mengimplikasikan adanya penurunan suku bunga sekitar 220 bps oleh Fed pada akhir bulan Desember 2025. Ini berarti pasar memperkirakan bank sentral AS akan memangkas biaya pinjaman menjadi setengahnya dalam lima kuartal ke depan. Secara luas diperkirakan bahwa bank sentral lainnya juga akan mengikuti langkah yang sama. Para investor memperkirakan Bank Sentral Eropa (ECB) akan menurunkan suku bunga sebanyak tiga kali seperempat poin pada akhir bulan Januari 2025, sementara Bank of England (BoE) diperkirakan akan mengumumkan setidaknya dua kali penurunan suku bunga masing-masing sebesar 25 bps sebelum akhir bulan Februari 2025. Pada dasarnya, kebijakan moneter yang tidak terlalu ketat (atau lebih longgar) di seluruh dunia adalah faktor bullish utama untuk emas. Karena emas tidak menghasilkan pendapatan pasif dan tidak membayar bunga, biaya peluang untuk memilikinya menjadi lebih rendah saat bank sentral menurunkan suku bunga kebijakannya. Risiko utamanya tentu saja adalah inflasi. Jika inflasi tetap berada di atas target bank sentral atau, lebih buruk lagi, mulai meningkat, Fed dan bank sentral lainnya akan dipaksa untuk mempertahankan suku bunga yang lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama.   

Dari perspektif teknis, selama kerangka waktu 4 jam, kami mengamati tanda-tanda kelemahan pertama. RSI menandakan bearish divergence, dan tingkat pertumbuhan melambat. Meskipun secara umum emas berada pada tren bullish, harganya bisa turun ke level support 2.475,00. Pada level ini, garis tren naik dan moving average 200-hari akan berperan sebagai support. Karena tren umumnya bullish, harga dapat memperbarui nilai maksimum setelah koreksi ringan. Jika gagal bertahan di level 2.475, harga bisa turun ke 2.360–2.400.

Pada kerangka waktu mingguan, kami juga melihat bearish divergence dan kemungkinan formasi bearish wedge, yang bisa menjadi sangat negatif untuk harga emas. Namun, bukan berarti harga akan langsung turun. Pertama, harga dapat terkoreksi menuju moving average eksponensial 20-minggu, rebound untuk menguji level 2.600, dan kemudian turun lagi ke level 2.400 pada akhir tahun. Pada saat ini, moving average 50-minggu diperkirakan akan berada di dekat level 2.400, yang dapat menjadi titik entry jangka panjang yang baru bagi pembeli emas.

Harga emas masih berpeluang naik hingga tahun 2025

Secara keseluruhan, kami melihat gambaran yang beragam. Pada dasarnya, emas 'patut dibeli', tetapi faktor teknis menunjukkan bahwa koreksi jangka pendek mungkin akan terjadi. Emas akan menguji level $2.600 dan dapat bergerak menuju $3.000 pada tahun 2025. Akan tetapi, analisis teknis mengindikasikan bahwa harga dapat mencapai level tertinggi ini hanya setelah koreksi bearish yang sehat.  

“Ada begitu banyak alasan bagi harga emas untuk terus naik di bulan September, sehingga risiko terbesar bagi pembeli emas tampaknya adalah rasa puas diri. Terlalu banyak faktor bullish yang sudah diperhitungkan. Jika investor mulai berspekulasi bahwa ada sesuatu yang tidak berjalan sesuai rencana, mereka mungkin akan mengurangi eksposur net-long secara drastis sehingga menyebabkan aksi jual besar-besaran pada harga emas. Ini bukanlah skenario dasar kami karena kami percaya bahwa emas akan terus naik secara perlahan, tetapi kita harus bersiap menghadapi periode volatilitas di atas normal dan kemungkinan koreksi tajam ke bawah. Jalan menuju $2.600 per ounce tidak akan mudah,” ujar Kar Yong Ang, analis broker global Octa.