Plus minus emas sebagai instrumen investasi dalam kondisi saat ini

ANP • Saturday, 14 Sep 2024 - 10:24 WIB

Jakarta - Agustus menjadi bulan yang sangat bersejarah bagi emas (XAU). Meskipun dimulai pada level yang tinggi setelah kenaikan lebih dari 5% di bulan Juli, harganya terus bergerak lebih tinggi di sebagian besar bulan Agustus, mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di level $2.531 per ounce (oz) pada tanggal 20 Agustus.

Penuh dengan peristiwa-peristiwa besar yang menggerakkan pasar di bulan lalu (lihat daftar di bawah), membuat perjalanan sebagian trader menjadi kurang mulus. Investor emas harus menghadapi pengaruh peningkatan ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah dan Eropa Timur, mengalami volatilitas substansial akibat kejatuhan pasar saham besar, dan mencerna ekspektasi suku bunga investor yang makin dovish. Seperti yang sudah terjadi sebelum-sebelumnya, emas sekali lagi membuktikan nilai dasarnya sebagai aset safe haven dan mungkin akan terus bersinar di bulan-bulan mendatang.

Meskipun ada kemunduran sementara, emas terus bergerak lebih tinggi di bulan Agustus, dan harga logam kuning ini tetap bertahan di atas moving average 100-hari dan 200-hari. Meningkatnya ekspektasi kebijakan moneter yang lebih longgar di AS dan global, ketegangan geopolitik dan ketidakstabilan politik yang tak berkesudahan, serta permintaan struktural yang kuat dari bank-bank sentral turut mendorong harga emas ke level tertinggi sepanjang masa. Selain itu, gambaran teknis menunjukkan tanda positif, yang menyebabkan tren beli oleh investor.

Permintaan fisik emas adalah pendorong utama di balik kenaikan harga emas di pasar finansial. Baru-baru ini, laporan Departemen Sensus dan Statistik Hong Kong (C&SD) menunjukkan bahwa impor emas bersih Tiongkok melalui Hong Kong di bulan Juli naik sekitar 17% dari bulan sebelumnya. Meskipun data untuk bulan Agustus belum dirilis, tampaknya dapat disimpulkan bahwa pembelian Tiongkok mungkin tetap tinggi mengingat People's Bank of China (PBOC), bank sentral Tiongkok, telah memberikan kuota impor emas baru kepada bank komersial untuk mengantisipasi kenaikan permintaan. Ini penting karena Tiongkok adalah konsumen emas terbesar di dunia, dan pola pembeliannya dapat memengaruhi pasar global dan berdampak pada harga. Bahkan, menurut World Gold Council (WGC), PBOC merupakan pembeli tunggal emas terbesar di dunia pada tahun 2023, dengan pembelian bersih sebesar 7,23 juta oz.

Menurut estimasi broker global Octa, bank-bank sentral global telah menambahkan lebih dari 130 ton emas ke dalam cadangan mereka pada tahun 2024.

Selain bank sentral, investor global juga tetap cukup bullish terhadap emas. Menurut Commodity Futures Trading Commission (CFTC), spekulan besar (manajer uang dan dana leverage) menambah eksposur net-long mereka pada kontrak berjangka dan opsi emas COMEX sebanyak 47.909 kontrak di bulan Agustus, hingga menjadi 236.818 kontrak net-long. Mereka mempertahankan eksposur net-long terbesar dalam emas selama lebih dari empat tahun. Menurut LSEG, sebuah perusahaan finansial, ETF yang didukung oleh emas fisik menghasilkan arus masuk bulanan ketiga berturut-turut di bulan Agustus, yaitu 21,94 ton.

Konflik di Timur Tengah dan Eropa Timur, seperti permusuhan Israel-Hamas, krisis Laut Merah, dan ketegangan yang sedang berlangsung antara Rusia dan Ukraina, telah mengganggu stabilitas politik dunia dan menimbulkan banyak kekhawatiran mulai dari gangguan pasokan minyak dan makanan hingga prospek konflik di seluruh dunia. Emas, yang dianggap sebagai aset 'safe haven', biasanya mengalami peningkatan permintaan selama ketidakpastian dan ketidakstabilan politik. Meskipun sangat sulit memproyeksikan resolusi konflik geopolitik, apalagi meramalkan munculnya konflik baru, negosiasi perdamaian di wilayah-wilayah dengan konflik paling panas nyatanya pun belum dimulai.

"Sampai ada jalan yang jelas menuju stabilitas, investor akan lebih memilih untuk berhati-hati dan hanya akan membeli emas 'untuk berjaga-jaga'. Tidak ada yang ingin shorting emas ketika berita tentang insiden militer lain di sini atau di sana mulai disiarkan," ujar Kar Yong Ang, analis broker global Octa.

Pemilihan umum AS yang akan datang makin memperumit lanskap politik global, yang menambah alasan lain untuk kenaikan harga emas. Karena statusnya sebagai safe haven, emas biasanya mengalami peningkatan minat beli selama volatilitas pemilu. Data historis menunjukkan bahwa pada tingkat mikro, harga emas cenderung naik pada bulan-bulan menjelang pemilu dan dapat terus berlanjut jika hasil pemilu tersebut diperdebatkan atau menyebabkan pergeseran kebijakan yang signifikan.

Permintaan fisik untuk emas dapat terus meningkat berkat Tiongkok dan India, dua konsumen utama emas. Secara khusus, nilai mata uang nasional Tiongkok, renminbi (RMB), naik lebih dari 2% selama satu bulan terakhir. Ini bukanlah perkembangan menggembirakan bagi negara yang ekonominya sangat bergantung pada ekspor. Oleh karena itu, pihak berwenang Tiongkok dapat melonggarkan kuota impor emas supaya kenaikan yuan tidak terlalu tinggi. Hasilnya, permintaan fisik dan investasi emas di Tiongkok mungkin meningkat dalam beberapa bulan ke depan.     

Permintaan retail di India mungkin akan tetap kuat menyusul keputusan pemerintah untuk memotong bea impor emas dan perak dari 15% menjadi hanya 6%. Keputusan ini dibuat menjelang musim perayaan India (Oktober–Maret) dan dapat meningkatkan konsumsi perhiasan di negara tersebut.