Aliansi Indonesia Damai (AIDA) Mengajak Para Jurnalis Menyajikan Pemberitaan dari Perspektif Korban Terorisme

FAZ • Tuesday, 10 Sep 2024 - 13:07 WIB

Jakarta - AIDA (Aliansi Indonesia Damai) menggelar kegiatan Short Course bagi para awak media, terkait "Penguatan Perspektif Korban dalam Peliputan Isu Terorisme". Kegiatan ini diselenggarakan selama dua hari, 7-8 September 2024 di Oria hotel Jl. Wahid Hasyim Jakarta Pusat 

AIDA merupakan Lembaga yang fokus pada isu-isu perdamaian melalui inspirasi kisah korban dan mantan pelaku terorisme. Di mana dalam pergerakannya Aida memiliki visi Membangun Indonesia yang damai berdasarkan nilai saling menghormati, saling percaya dan persaudaraan.

Aliansi Indonesia Damai (AIDA) juga memiliki misi yakni memberdayakan, melatih dan mendorong korban terorisme untuk menjadi duta perdamaian dengan menyadarkan masyarakat akan dampak negatif kekerasan agar setiap orang menahan diri dari penggunaan aksi kekerasan dalam mengejar suatu tujuan.

Selain itu AIDA juga mendorong, mempromosikan dan memfasilitasi penempaan hubungan antara korban dan mantan pelaku aksi terorisme guna menciptakan suara yang kuat dan bersatu untuk perdamaian.

Direktur Aliansi Indonesia Damai (AIDA) Hasibullah Satrawi mengatakan, media massa memiliki peran besar dalam menyebarluaskan narasi alternatif guna menangkal ekstremisme. Selama ini bisa jadi tanpa disadari media massa kerap mengamplifikasi pesan-pesan yang justru diinginkan oleh pelaku teror.

“Nah yang lebih penting peran jurnalis untuk menyajikan pemberitaan isu terorisme yang bisa memperjuangkan pemenuhan hak-hak korban, “ jelas Hasibullah.

Hasibullah berharap dari pelaksanaan short Course kali ini tentunya dapat terjalin hubungan yang baik antara jurnalis dan para penyintas terorisme. Kedepan bila ada event terorisme, mungkin aksi teror atau penangkapan terduga pelaku atau peringatan tragedi teror, para jurnalis semakin memperkaya perspektifnya, yaitu juga meng-cover perspektif korban.

Hanif Suranto salah satu pembicara mengajak para jurnalis untuk melakukan hijrah jurnalisme pasif ke jurnalisme aktif, dari sekedar melaporkan fakta menjadi untuk tujuan apa fakta itu dilaporkan, dari jurnalisme elit ke jurnalisme perspektif korban.

Hanif juga mengingatkan jangan sampai media hanya menjadi corong bagi kelompok teror untuk menyebarkan ancaman dan ketakutan ditengah masyarakat.

Peserta pelatihan para jurnalis dari berbagai media dengan narasumber pelatihan adalah Dr. Asep Setiawan dari Dewan Pers, Solahudin (Peneliti PKTKS UI), Hanif Suranto (Dosen UMN), Sucipto Hadiprabowo (Ketua YPI/lembaga yang mewadahi para korban) dan Arif Siswanto alias Abu Mahmudah (Eks. Sekretaris Mantiqi II Jamaah Islamiyah)