
Kendari- Perjuangan peralihan status guru honorer menjadi Guru ASN tildaklah mudah termasuk di daerah Penantian belasan hingga puluham tahun sering kali ditemukan dan bisa terpenuhi salah satunya dengan seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK/ P3K).
Penantian yang begitu lama banyak dirasakan hanya untuk mengharapkan gaji yang layak atas pengabdian sebagai seorang Guru. Hal itu dialami oleh berbagai guru honorer di seluruh indonesia termasuk diantaranya di Sulawesi Tenggara (Sultra).
Salah satu guru lulusan P3K dari Kota Kendari, Darlin T mengatakan dirinnya harus menannti selama lebih dari 15 tahun untuk menjadi guru ASN dengan status P3K. Program P3k mampu membuat dirinya meningkatkan penghasilan bagi kesejahteraan keluarga,
“Program ini mampu membuat saya memiliki gaji dari Rp 300 ribu perbulan sebagai guru honorer menjadi Rp 3,7 juta tiap bulannya,” ujar Darlin, dalam acara dialog dengan Dirjen GTK di Kota Kendari- Sultra, Selasa (20/8).
Darlin yang juga pengajar tingkat SD di Kendari menuturkan dirinya mengajar sebagai guru honorer sejak 2008 dan mengikuti program ASN P3K 2021 tes dan lulus. Darlin menegaskan dapat meningkatkan rasa percaya diri meningkat untuk pwngajaran dengan status ASN
“Rasa sungkan dan rasa malu hilang dengan sendirinya ketika mengajar disekolah demgan waktu yang lebih banyak,” tututnya.
Darlin menorong program ini dapat diteruskan agar bisa mengakngkat nasib jutaan guru honorer menjadi lebih sejahtera
“Karena program P3 dindasarkan prioritas pada waktu masa pengabdian sebagai guru dan tidak terpaut dengan umur guru honorer,” tandasnya.
Sementata itu, pengalaman serupa juga disampaikan oleh Krisnamaya, guru SD di Kota Kendari yang sudah menjadi ASN P3K setelah 19 tahun dan bisa lolos menjaidi guru penggerak.
“ Saya menjadi guru honorer selama 19 tahun akhirnya bisa bernafas lega ketika lolos sebagai ASN P3K pada tahun 2021 dan Padaa tahun yang sama juga lolos dalam program Guru Penggerak Angkatan 5 sekaligus lolos program sertifikasi,” ungkapnya.
Krisnamaya menyatakan tahun 2021 adalah tahun emas sebagai puncak raihannya sebagai ASN dan guru penggerak sekaligus.
“Jadi tahun 2021 adalah tahun emas bagi saya karena tiga kebijakan Ibu Dirjen bisa saya raih sekaligus,” katanya.
Meski mengikuti program Guru Penggerak pada usia 47 tahun, Krisnamaya mengaku tetap semangat untuk belajar dan meningkatkan kompetensinya.
“Usia saya sekarang 50 tahun tetapi saya ingin terus belajar. Dan program Guru Penggerak memungkinkan saya bisa terus belajar, berbagi praktik baik Pendidikan bersama teman guru lainnya,” tuturnya.
Apresiasi Terhadap Guru
Dirjen GTK Kemendikbudristek Prof. Nunuk Suryani menyampaikan kepuasannya atas kinerja para guru di wilayah Sulawesi Tenggara.
“Saya bersyukur bahwa guru-guru di sini sangat antusias mengikuti program dari Kemendikbudristek terutama dari unit Ditjen GTK,” ujar Dirjen Nunuk.
Diakui Dirjen Nunuk, Provinsi Sulawesi Tenggara menjadi salah satu provinsi yang dilaporkan memiliki capaian program Merdeka Belajar yang sangat baik. Karena itu untuk membuktikannya, Dirjen Nunuk terjun langsung menyambangi sekolah, dan berdialog dengan para guru baik guru penggerak, kepala sekolah penggerak, hingga ASN PPPK dana guru honorer.
“Saya dapat laporan provinsi Sultra memang bagus dalam implementasi program Merdeka Belajar. Karena itu saya cek langsung ke lapangan dengan mengunjungi sekolah dan berdialog dengan guru-guru. Dan ternyata memang benar,” jelas Dirjen Nunuk.
Kepada para guru, Dirjen Nunuk berpesan agar terus belajar dan meningkatkan kompetensinya melalui berbagai program yanag diluncurkan oleh Kemendikbudristek. Ia juga berpesan agar guru tetap pada komitmennya untuk menjalankan tugas pengaajarannya dengan baik.
“Meski sudah pintar membuat konten-konten menarik, saya berharap guru tetap komitmen pada tugas utamanya yaitu mengajar. Jangan lantas ingin menjadi youtuber kalau itu nantinnya mengganggu tugas mengajarnya,” Tandas Dirjen Nunuk.