
Jakarta - Generasi muda menjadi tulang punggung bagi penerus perjalanan bangsa dan kesuksesan pembangunan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, terdapat 64,16 juta jiwa pemuda atau 23,18% dari total penduduk Indonesia pada 2023. Merujuk pada Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009, tentang Kepemudaan, pemuda adalah WNI berusia 16-30 tahun. BPS mencatat, mayoritas pemuda paling banyak berada pada kelompok usia 19-25 tahun, yakni 39,78%. Kemudian diikuti kelompok usia 25-30 tahun sebanyak 39,05% dan kelompok 16-18 tahun dengan 21,17%.
Jumlah yang besar ini menunjukan betapa pentingnya peran generasi muda bagi bangsa Indonesia yang memiliki keberagaman Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA). Disisi lain, gemerasi muda saat ini juga menghadapi berbagai tantangan zaman didepan mata yang tidak mudah dan bisa mengkhawatirkan. Hal itu berupa perpecahan bangsa, pemahaman ideologi yang keliru, politik kekuasaan, korupsi, pelanggaran hukum, etika nilai dan konstitusi.
Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah dengan menguatkan kembali Sosialisasi 4 pilar MPR yang terdiri dari PANCASILA, UUD 1945, NKRI, DAN BHINNEKA TUNGGAL IKA. Kehadiran 4 pilar MPR harus mendapat dukungan dari berbagai lapisan masyarakat. Hal ini sebagai cara dan upaya agar masyarakat secara merata bisa memaknai dan mendalami 4 pilar yang selama ini menjadi pondasi bangsa dan bernegara.
Adapun menjadi kewajiban dan tugas mulia Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) sebagai gabungan DPR dan DPD RI hasil pemilu 2024 agar dapat terus melanjutkan sosilalisasi 4 pilar secara masif kepada berbagai kalangan termasuk bagi generasi muda. 4 Pilar MPR RI disosialisasikan kepada seluruh Rakyat Indonesia berdasarkan amanat pasal 5 huruf a dan huruf b, Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2014[2] tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD (MD3). Dengan aturan itu, MPR RI juga ditugasi untuk memasyarakatkan Ketetapan MPR, Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika kepada masyarakat di seluruh wilayah tanah air.
Kegiatan Sosialisasi 4 Pilar MPR
Data terkait Efektifitas sosialisasi 4 pilar MPR yang sudah berjalan selama 10 tahun lebih dapat diketahui dari survei yang dilakukan oleh Setjen MPRRI dengan Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah pada tahun 2022. Survei dengan 1500 sampel dari 34 propinsi dengan metode wawancara tatap muka mengungkap masyarakat yang mengetahui 4 pilar MPR masih 43.1% (masih dibawah 50 persen) dan yang tidak mengetahui sebeesar 56.9%. Sementara itu, mereka yang mengetahui 4 pilar MPR terdiri dari berbagai generasi dengan dasar usia yakni Gen Z (17-23 tahun) 11%, Gen X (24-39 tahun) 37.6%. Milenial (40-55 tahun) 39.8%, Baby Boomer (56- 74 tahun) 11.6%,,
Dengan fakta hasil survei imi maka dapat diketahui bahwa usaha sosialisasi 4 pilar kepada masyarakat selama ini termasuk kepada generasi muda sudah berjalan baik, namun masih belum maksimal dan masih dibawah angka 50 persen. Dengan kondisi ini maka perlu segera dilakukan perbaikan dan harus terus dilanjutkan secara masif dan luas sosialisasi 4 pilar MPR kepada masyarakat termasuk bagi generasi muda terutama oleh MPRRI baru hasil pemilu 2024 yang akan dilantik pada 20 Oktober 2024 mendatang.
Wakil Ketua MPR RI, Dr. Lestari Moerdijat, S.S., M.M mengatakan kalangan muda merupakan kelompok sasaran sosialisasi yang paling penting dalam upaya melestarikan nilai-nilai kebangsaan yang terkandung dalam 4 konsensus kebangsaan itu.
“Dari sejumlah kelompok sasaran sosialisasi 4 pilar, kalangan muda merupakan kelompok sasaran sosialisasi yang paling penting dalam upaya melestarikan nilai-nilai kebangsaan yang terkandung dalam empat konsensus kebangsaan itu,” ujarnya.
Menurutnya, Anak muda yang menjadi sasaran sosialisasi 4 pilar yakni mahasiswa dan kelompok pemuda.
"Mahasiswa sebagai kelompok terpelajar dan pemuda yang sedang terlibat aktif dalam kehidupan bermasyarakat diharapkan dapat meneruskan pemahaman terhadap empat konsensus kebangsaan kepada lingkungan sekitar dimulai dari rumah sendiri,” tuturnya.
Disisi lain, cara dan metode juga menentukan keberhasilan dalam melakukan sosialisasi 4 pilar dengan meyesuaikan materi sesuai kelompok dan sasaran sosialiasi. Hal ini bisa dilakukan interaksi dalam bentuk dialog, animasi, termasuk media seni dan budaya sekaligus mempertimbangkan nilai dan pemahaman yang mudah dicerna masyarakat.
“Misalnya, kepada anak muda ajakan berpartisipasi melalui interaksi lebih diutamakan, penggunaan media yang menarik, animasi kekayaan nilai kebangsaan dan kemasan lainnya. Metode penyampaian patut mempertimbangkan pengetahuan, nilai dan implementasi pemahaman dalam kehidupan sehari-hari termasuk media seni dan budaya untuk menyampaikan pesan dan nilai kebangsaan misalnya melalui pertunjukan wayang dan ketoprak,,” ungkap Lestari.
Dalam Undang-Undang (UU), MPR ditugasi melaksanakan agenda pemantapan kehidupan berbangsa dan bernegara melalui sosialisasi Empat Pilar MPR RI.
“Jadi pelaksanaan sosialisasi empat pilar bukan sekedar dibutuhkan atau tidak. Namun merupakan bagian dari pelaksanaan undang-undang yang merupakan bagian dari membangun kesadaran berbangsa dan bernegara, khususnya melibatkan publik dalam dinamika pembelajaran bersama, menguatkan nilai-nilai kebangsaan,” tegasnya.
Dengan kata lain, sosialisasi 4 Pilar MPR menjadi penting untuk dilakukan dengan juga memperhatikan generasi muda sebagai estafet pembangunan bangsa. Selain itu, harus diperhatikan metode dan cara yang digunakan sesuai target atau sasaran yang dituju. Hal ini tentu untuk menambah ketertarikan dan kemudahan masyrakat untuk mencerna pemahaman 4 pilar MPR.
Harus Terus Dilaksanakan
Keberadaan dan keberlangsungan 4 Pilar MPR sebagai pondasi berbangsa dan bernegara saat ini masih dibutuhkan. Hal dilakukan dalam menciptakan wawasan kebangsaan yang berujung dengan terciptanya karakter kebangsaan ditengah masyarakat.
Pakar Hukum Tata Negara, Prof Juanda mengatakan sosialisasi 4 pilar MPR harus terus dilaksanakan secara berkelanjutan kepada masyarakat secara meluas dimulai dari wawasan kebangsaan dan kemudian dapat menciptakan karakter kebangsaan.
“Lebih bermnafaat 4 pilar masih dilakukan sosialisasi. Dilakukan sosialiasi, sasarannya adalah dari tidak tahu menjadi lebih tahu dan lebih tahu lagi,” tegasnya.
Ketika dapat meningkatan transfer kebangsaan, transfer pengetahuan dan wawasan kebangsaan akan memunculkan karakter kebangsaan atau watak kebangsaam yang melekat dalam pemikiran hingga sikap dan tingkah laku keseharian . Hal ini tentu menjadi sangat dasar dalam membangum Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia yang berkualitas dan unggul menuju Indonesia emas 2045.
Menurut Juanda, karakter kebangsaan menjadi antibodi bagi kita semua dalam rangka menghalau menghindari perbuatan yang tidak baik.
“Watak itu menjadi antibodi bagi kita semua dalam rangka rangka, menghalau menghindari perbuatan yang KKN, melanggar hukum dan nilai-nilai. Dan itu dapat tercipta, ketika karakter kebangsaan itu sudah terbangun dengan baik,” tegasnya.
Sasaran dan kolaborasi
Pandangan serupa untuk langkah optimal kegiatan sosialisasi 4 pilar ini dapat ditujukan kepada generasi muda sebagai gemerasi penerus. Mereka bisa dimulai dari usia sekolah SMP, SMA hingga Perguruan Tinggi.
“Karena tidak bisa membangun bangsa ini tanpa melibatkan generasi muda. Kita fokus kepada generasi muda sebagai bagian dari sebuah proses pembangungam SDM Indonesia ke depan,” kata Prof Juanda.
Ketika generasi muda sudah mendapat perhatian dengan baik, maka sasaran lainnya yang bisa sekaligus dilakukan secara bersamaan adalah ASN, pejabat pusat hingga daerah, yang bisa menjadi sumber keteladanan. Hal ini menjadi sebuah konponen yang saling dan melengkapi, integeratif dan satu kesatuan secara sistemik.
“Untuk bagusnya, dari generasi muda, rakyat dan pejabat menjadi sebuah konponen saling terkait dan integratif satu kesatuan maka secara sistemik. Langkah ini bisa dilakukan MPR dengan lebih banyak melibatkan berbagai pihak termasuk perguruan tinggi dan kementrian serta pemda.’ pintanya.
Pelaksanaan sosialisasi 4 Pilar MPR menjadi keharusan keberlanjutan yang terus dilakukan kepada masyarakat terutama bagi generasi muda secara masif dan meluas. Hal ini dilakukan dengan metode dan strategi pengemasan materi yang menarik. Hal ini agar masyarakat mudah memahami sehingga memiliki wawasan kebangsaan hingga menjadi karakter kebangsaan dalam pemikiran, sikap dan tindakan sehari-hari. Semoga!!