BESS PLUS, Teknik Khusus Atasi HNP dengan Hasil Optimal

ANP • Sunday, 11 Aug 2024 - 10:26 WIB

Jakarta - Majunya teknologi tata laksana low back pain memungkinkan dilakukan tanpa operasi terbuka seperti dulu. Bahkan dapat dilakukan hanya dengan sayatan kecil sehingga proses pemulihan pasca-operasi lebih cepat dan membantu mencegah atau menurunkan risiko terjadinya morbiditas. 

Low back pain atau nyeri punggung bawah yang tak kunjung hilang dapat membuat penderitanya tak dapat bergerak leluasa sehingga mengganggu aktivitas kerja dan menurunkan produktivitas. Keluhan ini menjadi salah satu alasan penderitanya datang berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan solusi yang tepat.  

Nyeri punggung bawah merupakan nyeri terjadi di area punggung bawah yang sumbernya berasal dari tulang belakang bagian punggung bawah, otot, saraf dan struktur lainnya di area tersebut. 

Salah satu penyebab LBP berkepanjangan adalah degenerasi diskus intervertebralis terutama segmen lumbal. Diskus intervertebralis adalah bantalan yang ada di antara ruas tulang belakang. Kalau diskus mengalami kerusakan bisa membuatnya membengkak, menonjol sampai menekan saraf di tulang belakang sehingga menimbulkan gejala yang salah satunya adalah nyeri. Kondisi ini dikenal dengan istilah saraf kejepit tulang belakang. 

Herniasi (penonjolan) bantalan tulang belakang memiliki beragam istilah medis, seperti herniated disc, slipped disc, bulging disc atau herniated nucleus pulposus (HNP). Penyebabnya cukup beragam. Bisa karena beban berlebihan akibat aktivitas berat di luar kemampuan, cedera pada tulang belakang, usia, peradangan dan lainnya. 

Spine Endoscopy Atasi HNP dengan Sayatan Kecil

Endoskopi tulang belakang kini sudah dapat menjadi salah satu solusi untuk membebaskan saraf tulang belakang dari tekanan bantalan tulang belakang yang menonjol. Metode ini tentu membawa perubahan yang bermakna bagi penderita saraf kejepit dalam hal perbaikan gejala sehingga kualitas hidup juga membaik. 

Inovasi dalam ranah endoskopi tulang belakang juga terus berkembang dengan kemunculan Biportal Endoscopic Spinal Surgery (BESS). Endoskopi BESS dianggap sebagai penyempurna dari metode endoskopi tulang belakang generasi sebelumnya yang menggunakan satu akses atau uniportal.  Memang metode dua portal ini sudah dapat dilakukan di banyak sarana layanan kesehatan yang berfokus pada tulang belakang. 

“Tingginya keberhasilan endoskopi biportal yag pernah kami lakukan selama ini, kami yakin bisa menjadi yang terdepan karena sudah dapat melakukan teknik endoskopi biportal terbaru yakni BESS PLUS. Teknik BESS PLUS tak banyak yang bisa melakukannya. Mungkin dapat dikatakan tim dokter spesialis bedah saraf di RS Jakarta ini menjadi pionir BESS PLUS karena sudah melakukannya sejak lama dengan hasil yang lebih baik,” papar Dr. dr. Wawan Mulyawan, Sp.BS, Subspes N-TB. 

“PLUS disini adalah singkatan dari Preservasi Ligamentum FlavUmS yang memiliki tambahan manfaat pada pasien, misalnya kemungkinan risiko terjadinya cedera pada struktur sekitar saraf dapat dicegah dengan teknik bedah minimal endoskopi biportal ini,” lanjut dr. Wawan. 

Sayatan kecil, tingkat keberhasilan yang baik, durasi tindakan lebih singkat dan proses pemulihan juga lebih cepat. Sama dengan BESS sebelumnya. 

Keberhasilan Endoskopi Biportal BESS PLUS

Endoskopi biportal mengandalkan kamera di portal pertama agar dokter dapat mengeksplorasi area tulang belakang, dan probe satu lagi masuk di portal kedua untuk mengakses bantalan tulang yang bermasalah. “Tentu teknik ini menguntungkan pasien karena hanya memerlukan sayatan yang kecil,” kata dr. Danu Rolian, Sp.BS. 

“Untuk metode endoskopi biportal BESS PLUS sudah rutin kami lakukan pada pasien dengan saraf kejepit berbagai derajat, dan perbaikan gejala setelahnya sangat baik, proses recovery cepat dan komplikasi pun sangat minim,” jelasnya lebih lanjut. 

Keberhasilan ini dipresentasikan oleh dr. Danu Rolian, Sp.BS dkk dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan Ke-5 (Indonesian Neurospine Society/INSS) di tahun 2023 lalu. Studi bertajuk ‘One Year Clinical Outcome of Biportal Endoscopic Spine Surgery in Dealing with Lumbal Degenerative Spine Diseases’ ini dilakukan pada 145 pasien selama periode Agustus 2021-Juli 2022. 

Derajat bantalan tulang belakang yang berhasil diatasi dengan BESS selama studi ini berlangsung adalah derajat 2 (prolaps), derajat 3 (ekstrusi) dan derajat 4 (sekuestrasi). Selain derajat, endoskopi biportal ini juga dapat mengatasi jepitan saraf tulang belakang lebih dari 1 segmen. Sebagian besar, jepitan saraf tulang belakang terjadi pada level L4-L5 sebanyak 47%. 
 
Kemudian pasca-BESS dievaluasi selama 12 bulan dengan menilai NRS (Numeric Rating Scale), nilai VAS (Visual Analogue Scale) fungsi motorik dan otonom, serta keberhasilan atau komplikasi yang kemungkinan terjadi setelahnya. 

Secara keseluruhan, tindakan endoskopi tulang belakang biportal berhasil mengatasi jepitan di 1 level (11%), 2 level (44%), dan 3 level (45%). VAS pada kaki dan tulang belakang secara signifikan menurun, dari rerata 7 menjadi 1 setelahnya.   

BESS PLUS menjadi bentuk penanganan kasus dalam studi ini yang bertujuan untuk membantu menghilangkan nyeri dengan prinsip dekompresi atau membebaskan jepitan. 

Berbeda dengan teknik endoskopi uniportal, peralatan endoskopi biportal akan “mengambang” sehingga membuat sudut kerja yang lebih luas untuk mengatasi tonjolan bantalan tulang belakang. “Kondisi ini akan memperluas visual dokter di area epidural tulang belakang jadi dengan mudah mengakses beberapa arah sekaligus, sehingga lapisan lemak, pembuluh darah, ruang duramater di area tulang belakang tetap terjaga dengan baik,” jelas dr. Danu lebih lanjut.

Utamanya, BESS PLUS dilakukan dengan menjaga keutuhan ligamentum flavum semaksimal mungkin agar dapat memperkecil risiko robeknya lapisan duramater dan mencegah risiko kebocoran cairan setelah tindakan. “Jadi dapat dikatakan BESS PLUS ini merupakan perbaikan teknik dari BESS yang sudah ada dengan menjaga ligamentum flavum, karena ligamentum flavum bertugas menstabilkan susunan tulang belakang sehingga tingkat kestabilan tulang belakang pasca-BESS bisa tetap terjaga.”

BESS PLUS ini juga dapat menjadi salah satu solusi untuk membantu mengatasi masalah lain pada tulang belakang yang dapat menyebabkan nyeri, seperti stenosis spinalis (menyempitnya rongga tulang belakang), menebalnya sendi faset (facet joint), penebalan jaringan (hipertrofi) yang menjepit saraf, bone spur (taji tulang atau osteofit). 


Nilai ‘Plus’ pada Endoskopi Biportal BESS PLUS

“BESS PLUS ini juga memberikan nilai ‘plus’ bagi dokter saat tindakan karena memperluas visual dan dapat mengatasi tonjolan bantalan tulang belakang dari berbagai arah inilah yang membedakan dengan endoskopi tulang belakang uniportal,” papar dr. Danu.  

Di ujung presentasinya dr. Danu menyimpulkan beberapa faktor ‘plus’ dalam BESS PLUS ini yakni dapat mengatasi tonjolan bantalan tulang belakang yang menekan saraf tulang belakang tanpa mengganggu jaringan di sekitarnya, dari segala arah. “Risiko otot dan ligamentum cedera saat tindakan, dan risiko perdarahan dapat diminimalkan dengan BESS PLUS. Nilai ‘plus’ lainnya, pasca tindakan BESS PLUS tulang belakang tetap stabil karena ligamentum flavum terjaga dengan baik dan tidak lagi bergantung pada obat pereda nyeri terus menerus.”

Sigma Brain and Spine Center, Layanan Baru di RS Jakarta

Sejalan dengan proses menuanya seseorang akan mengalami proses degenerasi pada tulang belakangnya. Degenerasi ini bisa berupa berkurangnya cairan di bantalan tulang belakang, peradangan, kerusakan jaringan dan tulang belakang kehilangan elastisitasnya sehingga stabilitas tulang belakang terganggu. 

Akibat beban berlebihan misalnya kelebihan berat badan, tulang belakang akan tertekan saat menahan beban sehingga lama kelamaan kemungkinan dapat memengaruhi struktur tulang yang salah satunya bantalan tulang belakang. 

Selain usia, pekerja yang sering duduk lama apalagi membungkuk, bekerja dengan alat getar, berkendara dalam waktu lama, sering mengangkat beban berat, pernah jatuh, memiliki risiko mengalami masalah pada bantalan tulang belakangnya yang lama kelamaan bisa melejit keluar dari tempat semulanya dan menekan saraf tulang belakang. Saat inilah kemungkinan akan muncul salah satu gejalanya yakni nyeri tulang belakang (low back pain) yang ketika tidak mendapatkan penanganan dapat mengganggu produktivitas harian. 

“RS Jakarta aware akan hal ini, oleh sebab itu kami menggandeng tim dokter spesialis bedah saraf yang sudah sangat berpengalaman melakukan 2000 tindakan endoskopi BESS dengan tingkat keberhasilan yang tinggi untuk bergabung di rumah sakit ini di bawah nama Sigma Brain and Spine Center,” papar dr. Heru Pramanto, MARS sebagai CEO RS Jakarta. 

BESS PLUS kini menjadi salah satu andalan penanganan tanpa operasi untuk saraf kejepit atau HNP dengan hasil yang lebih baik. “RS Jakarta tak hanya mengedepankan kualitas hidup pasien menjadi lebih baik tetapi juga telah menjadi pionir dalam teknik baru endoskopi tulang belakang, yakni BESS PLUS.” 

Layanan yang dimiliki RS Jakarta kini semakin lengkap dengan hadirnya para tim dokter spesialis bedah saraf Sigma Brain and Spine Center, seperti penanganan stroke, trigeminal neuralgia dengan PBC dan PRFR, kyphoplasty untuk mengatasi keropos tulang belakang, dan Stereotactic Brain Lesioning untuk penyakit Parkinson.