22 Tahun Pengelolaan Hulu Migas, Bekerja Untuk Ibu Pertiwi

MUS • Saturday, 10 Aug 2024 - 21:05 WIB
Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto meninjau pembangunan FPSO Marlin Natuna

BUAT kebanyakan orang, industri hulu migas seringkali dipandang sebagai high profile business. Dipenuhi angka investasi ratusan triliun, aktivitas eksplorasi yang rumit, plus berbagai istilah njelimet

Padahal dibalik segala kompleksitasnya, industri hulu migas memberi dampak luar biasa bagi keuangan negara. 

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Dwi Soetjipto, mengungkapkan hingga Juni 2024, penerimaan negara dari sektor ini mencapai 7,6 miliar dolar AS, setara dengan Rp114 triliun.

Bahkan jika diakumulasi selama 22 tahun dibawah kelolaan SKK Migas, sumbangsih industri ini telah menembus jumlah fantastis. 

"Selama 22 tahun, industri hulu migas menjadi penyumbang kedua terbesar penerimaan negara setelah pajak, dengan total kontribusi Rp5.045 triliun," kata Dwi.

Tentu saja, kontribusi ini tak datang tanpa usaha. SKK Migas dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) terus mencari dan mengembangkan cadangan migas baru demi memastikan keberlanjutan industri ini untuk generasi mendatang.

“Kita harus berupaya menjaga kecukupan energi di masa depan,” imbuh Dwi.

BACA JUGA: SKK Migas dan KKKS Fokus Tingkatkan Produksi Migas di Tengah Tantangan 2024

Bukti dari komitmen ini tampak jelas pada tahun 2023, di mana industri migas mencatat sejarah dengan penemuan dua cadangan gas jumbo: di Blok North Ganal Kalimantan Timur, dan sumur eksplorasi Layaran-1 South Andaman.

Tidak berhenti di situ, menjelang peringatan HUT Kemerdekaan RI 2024, ExxonMobil Cepu Limited menghadirkan kabar gembira dengan temuan kolom minyak di sumur eksisting Lapangan Banyu Urip. Dalam beberapa hari, sumur B-13 mampu memproduksi rata-rata 13.300 barel minyak per hari.

Melihat tren ini, Indonesia layak optimis, kolaborasi SKK Migas dan KKKS mampu mewujudkan visi besar 2030, yakni produksi minyak 1 juta barel per hari dan 12 miliar standar kaki kubik gas per hari. 

Untuk mencapai itu, Dwi Soetjipto mengajak seluruh insan hulu migas terus berbenah dan meninggalkan cara-cara usang dalam bekerja. “Mari kita adopsi mindset baru untuk memperkuat cara-cara kerja kita, yaitu having a sense of urgency, sense of crisis, innovative, result-oriented, dan collaborative," pesan Dwi.

Bagi SKK Migas, mengejar target produksi bukan sekedar urusan bisnis, tapi menjadi lahan pengabdian bagi ibu pertiwi. Dari lautan dalam hingga lapangan yang luas, industri ini terus bekerja mengukir prestasi demi Indonesia.

"Kontribusi kita semua dalam mewujudkan long term plan merupakan bentuk bakti dan pengabdian kita untuk negeri di masa yang akan datang," pungkas Dwi.