.jpg)
JAKARTA – Universitas Dian Nusantara (UNDIRA), melalui Lembaga Riset dan Pengabdian Masyarakat (LRPM) yang dipimpin oleh Dr. Ir. Muhammad Hanafi, MBA., IPU, menegaskan komitmennya untuk memperkuat kerjasama internasional dalam pengembangan riset dan pendidikan, khususnya di bidang energi terbarukan dan kendaraan listrik.
Dr. Muhammad Hanafi menjelaskan bahwa beberapa Memorandum of Understanding (MoU) akan diformalkan dalam waktu dekat. “Setelah konferensi ini, kami akan memformalkan beberapa MoU kerja sama, di antaranya di bidang riset dan pengembangan serta pertukaran mahasiswa dengan Queen Mary University,” tegas Lembaga Riset dan Pengabdian Masyarakat (LRPM) yang dipimpin oleh Dr. Ir. Muhammad Hanafi, MBA., IPU, di Jakarta, Kamis (31/7/2024).
Kolaborasi ini juga mencakup penyelenggaraan acara internasional yang akan mendukung pengembangan teknologi di bidang teknik elektro, teknik mesin, dan informatika. “Teknik elektro, teknik mesin, dan informatika akan menjadi backbone untuk konsep teknologi dari electrical dan renewable energy,” kata Dr. Hanafi.
“Riset kami akan diarahkan menuju teknologi kendaraan listrik. Kerjasama dengan NBRI dan Queen Mary University akan mendukung laboratorium dan riset ini," tambahnya.

Hanafi mengatakan, Universitas Dian Nusantara berharap dapat meluncurkan hasil riset ini pada tahun depan, dengan tujuan untuk pengembangan Sumber Daya Manusia yang mumpuni. “Kami berharap penelitian UNDIRA dapat dikenal sebagai pionir dalam energi terbarukan,” tambahnya.
Dr. Hanafi juga menyoroti tantangan yang harus diatasi, termasuk infrastruktur pengisian daya untuk kendaraan listrik, standarisasi baterai, dan ekosistem rantai pasokan. “Infrastruktur pengisian daya dan standarisasi baterai adalah tantangan utama. Selain itu, kita harus memastikan ekosistem rantai pasokan, mengingat banyak material yang harus diimpor,” jelasnya.
Pendanaan juga menjadi fokus utama. “Pendanaan sangat penting untuk mencapai target ambisius kami. Kami harus memastikan bahwa ada sumber dana yang cukup untuk proyek-proyek besar ini,” kata Dr. Hanafi.
Menurutnya, perubahan perilaku masyarakat terhadap energi hijau juga menjadi perhatian penting. “Kami perlu memastikan bahwa masyarakat siap menerima transformasi menuju energi hijau. Hal ini memerlukan pendekatan sosial dan ekonomi yang komprehensif,” tambahnya.
Dengan potensi bahan baku yang dimiliki Indonesia, Dr. Hanafi optimis bahwa Indonesia dapat menjadi produsen dan konsumen utama dalam industri energi terbarukan. “Dengan komitmen pemerintah untuk hilirisasi, kita bisa mencapai tujuan ini. Namun, kita perlu meningkatkan riset dan pengembangan, serta kerjasama internasional untuk penyediaan teknologi,” jelasnya.
Ia mengaku, kerjasama internasional diharapkan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Indonesia. “Kerjasama dengan universitas luar negeri tidak hanya terkait teknologi, tetapi juga untuk meningkatkan kualitas SDM kita melalui riset bersama dan transfer teknologi. Dengan begitu, kita bisa menjadi pionir dalam pengembangan energi terbarukan,” kata Dr. Hanafi.