Kesadaran Masih Rendah, Untar: Resistensi Antibiotik Jadi Ancaman Global

AKM • Wednesday, 24 Jul 2024 - 15:57 WIB
Untar Gelar Seminar Internasional bertema "Antibiotic Resistance: The Silent Pandemic" kolaborasi

Jakarta - Resistensi antibiotik merupakan ancaman serius bagi kesehatan masyarakat global. Jika tidak mendapatkan pengawasan yang baik, resistensi antibiotik dapat berkontribusi pada meningkatnya masalah kesehatan dan menjadi penyebab kematian utama. 

Kesadaran masyarakat yang masih rendah terhadap dampak penggunaan antibiotik yang tidak tepat merupakan tantangan signifikan dalam memperbaiki Kesehatan Global. 

"Ini yang menyebabkan resistensi antibiotik dianggap sebagai desain pandemic," ujar Dr. dr. Shirly Gunawan, Sp.FK Ketua Panitia seminar internasional bertema "Antibiotic Resistance: The Silent Pandemic" kolaborasi Universitas Tarumanagara (Untar) dengan INTI Internasional University, Malaysia di Auditorium Gedung J, Kampus I Jakarta dalam keterangan resminya hari ini.

Sementara itu, Rektor Untar Prof. Dr. Ir. Agustinus Purna Irawan, MT., M.M., I.P.U mengatakan, isu resistensi antibiotik menjadi fokus bersama untuk diatasi. 

"Dokter, pembuat kebijakan, peneliti dan kita semua perlu bekerja sama untuk mengedukasi penggunaan antibiotik dengan bijak kepada masyarakat, memberi kontribusi penemuan pengobatan dengan metode baru guna mencegah terjadinya infeksi," kata Rektor dalam sambutannya.

Pada kesempatan yang sama, Prof. Dr. Geetha  Subramaniam dari INTI International University mengungkapkan, angka kematian akibat resistensi antibiotik diperkirakan mencapai puncaknya pada tahun 2050 dengan 10 juta jiwa, menyaingi kematian akibat kanker. Resistensi antibiotik bukan sekedar masalah kesehatan, tetapi juga terkait dengan faktor ekonomi dan kemiskinan. 

"Hal ini memperlihatkan bagaimana ketidaksetaraan dapat memperburuk krisis Kesehatan Global," katanya.

Di sisi lain, Prof. Dr  Stephen Kidd, The University of Adelaide, Australia menerangkan respon bakteri terhadap stres di dalam tubuh manusia serta reaksi terhadap antibiotik. Ia juga menyoroti pentingnya riset untuk inovasi dalam pengembangan antibiotik yang lebih efektif, sejalan dengan upaya mendorong kemajuan industri dan infrastruktur kesehatan.

"Hasil penelitian menunjukkan resistensi antibiotik ditemukan akibat perubahan karakteristik bakteri secara genetik," ucapnya.

Lalita Ambigai Sivasamughham dari INTI International University memaparkan hasil penelitiannya yang menggunakan bahan alami seperti daun mimba, pare, dan serai, menunjukkan karakteristik anti bakteri yang konsisten. Penelitiannya ini sejalan dengan prinsip konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, berfokus pada penggunaan bahan alami sebagai alternatif antibiotik yang ramah lingkungan. 

"Saya percaya bahwa penelitian yang lebih mendalam mengenai metode ekstraksi serta pemahaman tentang struktur senyawa tanaman dapat mengembangkan alternatif antibiotik berbasis tanaman, sehingga dapat diproduksi dan dikonsumsi secara massal di masa depan," ujarnya.

Hal lain terkait antibiotik disampaikan Prof. Dr.  Anshoo Agarwal dari Northern Border University, Kingdom of Saudi Arabia. Ia menyatakan resistensi antibiotik seringkali muncul akibat penggunaan yang tidak tepat, membuat konsumsi antibiotik tidak lagi menunjukkan khasiatnya untuk menghadapi bakteri. Ditambahkannya, antibiotik tidak dapat mengobati penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus atau jamur.

“Pengetahuan yang cukup bagi masyarakat untuk memahami fungsi antibiotik dapat mengurangi kemungkinan penyalahgunaan antibiotik sehingga dapat meminimalisir potensi resistensi antibiotik,” ucapnya.

Dalam seminar ini dr. Velma Herwanto, Sp.PD, Ph.D., FINASIM, FACP FK Untar menyoroti penurunan penemuan antibiotik sejak 1950 dan berakhir pada 1987. Meskipun demikian, angka resistensi antibiotik terus meningkat. 

“Ini menandakan urgensi untuk menggunakan antibiotik secara rasional lewat diagnosis penyakit yang benar, meresepkan antibiotik dengan dosis yang sesuai terhadap pasien,” ujarnya.

Seminar internasional ini turut dihadiri Dekan Fakultas Kedokteran (FK) Untar Dr. dr. Noer Saelan Tadjudin, Sp.KJ. dan Dekan Faculty of Health and Life Sciences INTI International University Prof. Lee Shiou Yih.