
Batam - Di masa transisi energi, industri hulu migas masih memegang peranan penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Karena itu peningkatan produksi migas sangat diperlukan, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan sektor energi, namun juga feedstock pembangunan sektor industri tanah air.
Hal itu dikatakan Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto, saat membuka Pre Indonesia Upstream Oil And Gas Supply Chain Management And National Capacity Building Summit 2024 yang berlangsung 3-4 Juli 2024 di Batam.
Menurut dwi, peran manajemen rantai pasok sangat krusial, untuk memastikan ketersediaan barang dan jasa pendukung di industri migas agar berjalan optimal dan efisien.
"Fungsi pengelolaan rantai pasok sangatlah krusial. Karena fungsi ini harus dapat memastikan ketersediaan barang, peralatan dan jasa pendukung agar berjalan dengan baik dan efisien," kata Dwi di Batam, Rabu (3/7).
Untuk mewujudkan hal itu, SKK Migas dan KKKS terus mendorong industri penunjang migas dalam negeri untuk lebih kompetitif, tidak hanya di dalam negeri tetapi juga di lingkup internasional.
"Proses pengadaan harus menjamin terjadinya kompetisi antara para penyedia barang dan jasa. Salah satu contohnya adalah pemaketan dan spesifikasi dapat menjadi faktor pembeda dalam terjadinya kompetisi," ujar Dwi.
SKK Migas, tambah Dwi, melihat potensi bagi anak bangsa untuk menjadi “tuan di negerinya sendiri” masih sangat besar. Permintaan dari dalam negeri melonjak, seiring masifnya kegiatan hulu migas berdasarkan rencana strategis (Renstra) IOG 4.0.
"Dampak dari pelaksanaan Renstra ini antara lain terlihat dari pelaksanaan kegiatan pengeboran yang sangat massif. Tahun 2020 yang hanya mampu mengebor 240 sumur karena terkendala covid-19, kini pada tahun 2024 ditargetkan dapat mengebor 932 sumur atau naik sebesar 388 persen," jelas Dwi.
Karena itu sinergi dan kolaborasi para pabrikan dengan mengusung semangat “Indonesian corporate” diharapkan dapat meningkatkan kapasitas dan kapabilitas produk-produk nasional.
"Sehingga diharapkan pabrikan lokal mampu mengembangkan kapasitas dan kemampuannya, dari yang semula hanya importir sekarang menjadi produsen dan memasok barang ke KKKS. Bahkan beberapa diantaranya sukses menembus pasar global," tuturnya.
Dengan semakin tingginya Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), diharapkan peredaran uang akan meningkat. "Sehingga mampu menggerakkan industri barang dan jasa nasional, menyerap tenaga kerja di berbagai daerah, dan meningkatkan perekonomian nasional," tukas Dwi.