
Jakarta - Tahun 1944 menjadi catatan sejarah Indonesia menjadi salah satu tempat saksi bisu terjadinya Perang Dunia II. Pertempuran antara tentara Jepang dan Amerika ini terjadi di salah satu wilayah di Indonesia yaitu di Kepulauan Biak, Numfor, Papua.
Sekian tahun peristiwa tersebut terjadi, kemudian tanggal 20-30 Mei 2024 yang lalu, Tim Teknis Gabungan Indonesia dan Jepang telah berhasil menemukan 9 kerangka manusia yang diduga kuat merupakan tentara Jepang yang gugur pada Perang Dunia II di Kabupaten Biak Numfor, Provinsi Papua. Semua kerangka tersebut dibawa ke Jakarta untuk dilanjutkan dengan penelitian dan pemeriksaan kepastian identitas dari kerangka tersebut dengan melakukan tes DNA.
Pembentukan Tim Teknis Gabungan ini serta penerapan prosedur yang memenuhi kaidah ilmiah, akademis, kesehatan, dan memperhatikan aspek sosial-budaya ini sesuai berdasarkan rangkaian perjanjian antara kedua belah pihak pemerintahan.
Direktur Pelindungan Kebudayaan, Judi Wahjudin menyampaikan, bahwa berdasarkan keberhasilan dan tentu saja ditambah dengan evaluasi, maka penerapan Prosedur Operasional Standar pada kegiatan berikutnya diharapkan akan memperoleh hasil yang lebih baik lagi.
"Penemuan sembilan kerangka ini merupakan hasil positif setelah pada 2019 lalu terjadi penandatanganan kesepakatan kerja sama antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Jepang, dalam hal ini Kemendikbud dan Kedubes Jepang, mengenai usaha ekskavasi, sisa-sisa, jasad dari para serdadu Jepang yang meninggal waktu perang dunia II, khususnya di daerah Papua,” ungkap Hilmar Farid selaku Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek).
Kegiatan eskavasi, pengumpulan, dan repatriasi kerangka tentara Jepang yang gugur tersebut bukan hanya sebatas identifikasi kerangka. Namun melalui kegiatan ini dapat lebih mendetail terkait identitas nama hingga keluarga kerangka.
"Terlepas dari sejarah masa lalu, tentunya upaya ini merupakan misi kita untuk memuliakan manusia, sekaligus pengingat agar tidak terulang di masa mendatang," tambahnya.
Disamping itu, berdasarkan aspirasi pemerintah daerah dan masyarakat setempat mengajukan rumusan agar setelah penemuan kerangka di Kabupaten Biak Numfor, dapat menjadi tempat bersejarah Jepang dan menjadi salah satu daya tarik tempat wisata untuk mengembangkan perekonomian dan sosial yang dapat bermanfaat untuk masyarakat lokal. (Von)