.jpg)
Jakarta - Kedutaan besar AS di Jakarta melaksanakan diskusi informatif dengan pakar keamanan siber AS dan Indonesia untuk membahas bagaimana kemajuan teknologi berdampak pada kebebasan dan hak asasi manusia dalam menggunakan internet. Diskusi ini menghadirkan pakar siber AS sekaligus pendiri Stratigos Security, Beau Woods, Pendri PIKAT Demokrasi (Pusat AI dan inovasi teknologi untuk Demokrasi) Damar Juniarto, serta Kepala Ekosistem Pendidikan di Telkom Indonesia, Sri Safitri di Kantor @America (29/05/2024).
Dr. Awaludin Marwan, Senior Lecture, Bhayangkara University of Jakarta sebagai moderator, membuka diskusi dengan mengingatkan peserta bahwa di dunia dengan perkembangan digital yang sangat pesat seperti sekarang, perlu adanya awareness terkait hak asasi manusia, seperti respek terhadap privasi seseorang serta mengutamakan norma dalam menggunakan inovasi digital.
"Ada tiga hal yang bisa diperhatikan saat seseorang menggunakan kebebasan berkekspresinya dalam ranah digital. Pertama, kebebasan berekspresi di sosial media harus didasari pada fakta dan tidak sembarangan menyebarkan pemberitaan bohong seperti video viral dan sebagainya. Kedua, kita harus berpikir bahwa kebebasan berbicara tetap harus berhati-hati untuk tidak menyakiti perasaan seseorang. Terakhir, adanya Artificial Intelligence (AI) harus digunakan dengan bijaksana agar tidak menghasilkan dampak negatif seperti adanya voice fakes dan deep fake videos yang bisa merugikan orang-orang tertentu." Papar Beau Woods, Pendiri Stratigos Security.
Beau juga mengungkap mengenai culture di AS yang mengajarkan kebebasan berpendapat dan kebebasan berekspresi sedari dini. Bahwa kebebasan (freedom) memang termasuk dalam hak asasi manusia yang sudah diberikan sejak lahir. Namun penggunaannya di zaman kemajuan internet harus dibarengi dengan tanggung jawab moral yang baik.
Sedangkan Sri Safitri, Kepala Ekosistem Pendidikan di Telkom Indonesia berpendapat kalau tidak ada yang namanya kebebasan berinternet, "Sebagai mahasiswa, sebagai orang yang berpendidikan kita harus selalu berhati-hati dalam menggunakan internet. Baik saat kita memposting sesuatu, membicarakan sesuatu dan lain sebagainya. Karena banyak pencari kerja yang memantau aktivitas kita di media sosial, sehingga kita harus selalu berhati-hati dalam menggunakannya."
"Internet memang memberi kita banyak informasi, serta banyak manfaat lain yang memudahkan hidup kita. Namun dalam internet juga banyak dampak negatifnya, seperti internet abuse, digital divide dan lain sebagainya. Maka tidak ada yang namanya internet freedom, yang ada adalah bagaimana kita sebagai pengguna harus lebih proper dan berhati-hati dalam menggunakannya." tambah Fitri.
Kolaborasi antara Indonesia dan Amerika Serikat di bidang Cyber Security memiliki banyak manfaat, diantaranya banyak program yang bisa membuat anak muda Indonesia belajar Cyber Security di Amerika. Dalam prosesnya bisa saling berbagi pengalaman serta pengetahuan untuk diterapkan dii Indonesia, karena Indonesia merupakan salah satu negara yang tidak memiliki Cyber Security yang benar-benar bisa mengontrol perilaku internet penggunanya secara nyata. (AYN)