
Jakarta - Dosen Universitas Bhayangkara Jakarta, Rr. Dinar Soelistyowati pada tanggal 22 Mei 2024, berhasil meraih gelar Doktor ilmu Komunikasi Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sahid Jakarta, dengan penelitian berjudul “Virtual Public Sphere Di Media Sosial (Kajian Kritis Habermas Atas Fenomena Digital Hoaks Whatsapp Group Alumni Iluni Menwa UI)”.
Disampaikan Dinar Soelistyowati, suatu kebanggaan atas pencapaian yang selama ini diidam-idamkan.
"Akhirnya apa yang menjadi harapan bersama, baik itu harapan universitas, fakultas, khususnya saya pribadi sudah terlaksana, semua berkat kerja keras saya untuk mencapai apa yang memang saya idamkan untuk mendapatkan gelar Doktor dalam bidang ilmu komunikasi ini,” ungkap Dinar Soelistyowati.
Dengan ringkasan yang sangat menarik, Dinar memilih judul ” Virtual Public Sphere Di Media Sosial (Kajian Kritis Habermas Atas Fenomena Digital Hoaks Whatsaap Group Alumni Iluni Menwa UI)”.
Saat ini banyak sekali informasi hoaks baik di media sosial, salah satunya pada platform Whatsapp Group. Ciri khas di era Post truth saat ini kita kebingungan untuk menentukan informasi mana yang benar dan mana yang salah. Karena semuanya seperti serba abu-abu.
“Untuk itu, struktur yang ada di dalam alumni Menwa UI, itu sangat membantu dalam memitigasi penyebaran hoaks, juga bisa mengendalikan entitas yang terdapat di dalamnya untuk lebih berhati-hati dan bisa menggunakan etika komunikasi serta memperkuat literasi ilmiahnya, supaya mereka tidak sembarang untuk sharing. Jadi, filter dulu sebelum mereka sharing,” kata Dinar.
Lebih lanjut kata Dinar, dari hasil penelitian imliahnya terkait etika komunikasi di group whatsaap, dia menyampaikan, memang tidak bisa mengontrol orang secara penuh dalam proses aktifitas berkomunikasinya.
“Tapi paling tidak, belajar dari diri kita sendiri untuk lebih aware terhadap apa yang mau kita lakukan, caranya adalah dengan menanamkan Pendidikan di dalam keluarga, dan kemauan dari diri sendiri untuk bisa menjaga lisan dan tulisan, sehingga akan terbentuk komunikasi yang kondusif dalam bermedia sosial,” jelasnya.
Intinya saat ini di era digital, semua orang harus bisa memperkuat diri dengan wawasan yang luas serta ilmu pengetahun yang mumpuni, dengan mericek informasi yang didapat dengan menggunakan penalaran dan logika pada literasi ilmiah.
"Karena tanpa literasi ilmiah yang kuat, kita tidak punya pegangan untuk bisa melakukan bentuk-bentuk komunikasi yang ideal. Jadi dimana literasi itu juga, menempatkan posisi kita harus seperti apa dalam melakukan komunikasi dengan lawan bicara kita,” tuturnya
Seperti yang disampaikan dalam sidang promosi Doktoral Ilmu Komunikasi, Dinar memberikan contoh pada situasi berkomunikasi melalui media digital terkait topik kasus pembunuhan Vina di Cirebon yang belum terungkap hingga sampai saat ini. Dinar menggambarkan situasi proses berkomunikasi yang terjadi di kalangan netizen Indonesia.
“Netizen kita itu terlalu solid, saking solidnya kadang mereka lupa, yang mereka geruduk di media sosial itu, bukan orang yang sebenarnya mereka tuju, yang penting nama akunnya ada kemiripan dengan si pelaku (Egi) sehingga akan menimbulkan situasi digihoax yang akan terus di share kemana-mana tanpa di saring lagi sehingga menimbulkan fitnah.
“Berkaca pada hal tersebut, maka mereka harus melakukan literasi ilmiah sehingga wawasan dan pengetahuan terbuka luas. Karena pemahaman yang minim dalam mengolah suatu informasi akan berdampak fatal yaitu bisa merugikan orang lain. Untuk itu Dinar mengingatkan bahwa mengupgrade diri dengan pendidikan yang baik otomatis juga meningkatkan semangat dan keinginan untuk meningkatkan wawasan melalui literasi ilmiah yang komprehensif,” tuturnya.