Artificial Intelligence Mendunia, Masyarakat Perlu Bijak Menanggapi Informasi

ITK • Monday, 13 May 2024 - 13:13 WIB

JAKARTA – Melissa Hathaway selaku Presiden Hathaway Global Strategies LLC di Amerika Serikat mengutarakan perkembangan AI mempunyai potensi besar untuk memberikan disinformasi bagi masyarakat pada Kamis (7/5/2024) melalui zoom meeting di @America, Pacific Place, Jakarta Pusat dengan tujuan memberikan kesadaran kepada masyarakat untuk semakin bijak menanggapi informasi di media sosial yang memanfaatkan peralatan AI.

Menurut Melissa, sudah banyak media yang memanfaatkan AI untuk memanipulasi masyarakat dengan tools yang tersedia, seperti foto yang diubah atau diganti dengan hal lain yang bisa memengaruhi kepercayaan masyarakat. Hal ini dapat berakibat fatal dan telah menjadi disinformasi sehingga bertolak belakang dengan fakta. Hingga saat ini, perkembangan AI yang bisa disalahgunakan oleh masyarakat masih belum diawasi secara ketat, ini mempengaruhi seberapa luas penyebaran informasi palsu.

Perkembangan AI sudah meningkat lebih dari 1000% di dunia pada tahun terakhir, demikian ungkap Melissa dari hasil studi yang beliau peroleh. Terlebih, menggunakan AI untuk keperluan seseorang tidak membutuhkan biaya yang mahal sehingga penyebaran informasi palsu dengan mudah terjadi di dunia. Dengan harga yang tidak mahal dan pengawasan yang masih minim, pengguna tools AI belum tentu bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya yang secara sengaja ataupun tidak sengaja mempengaruhi orang lain.

 

Di Singapura, sudah ada peraturan untuk larangan menggunakan AI secara sembarangan oleh pengguna sehingga pengawasan terhadap penyebaran disinformasi begitu ketat, sayangnya masih banyak negara yang belum menerapkan hal tersebut. Menurutnya, ini sungguh bertentangan dengan pemikiran yang logis dan disebut sebagai The death of truth, yang mana masyarakat perlu membedakan manakah informasi yang benar dan salah. Tentunya masyarakat perlu memverifikasi informasi melalui sumber-sumber yang bisa dipercaya. Ini bergantung kepada seluruhnya, apakah bisa bijak ketika menerima informasi atau tidak.

Sebelum pembaca menyebarkan informasi tersebut kepada orang lain, masyarakat perlu mengetahui terlebih dahulu, apakah berita tersebut memang sesuai dengan kenyataannya. Kesalahan dalam menyebarluaskan berita kembali kepada kenalan, kerabat, atau orang lain memiliki pengaruh yang besar dalam segi kredibilitas. Berpikir tentang hal tersebut, setidaknya dapat mengurangi potensi disinformasi yang semakin besar di dunia.

Lustarini selaku Staf Kementerian Komunikasi dan Informasi mengungkap bahwa sebenarnya AI masih belum mendominasi, tetapi sudah meningkat di dunia. Selanjutnya, Bu Ides menanggapi AI yang memiliki sisi buruk dengan sisi cerah pada kondisi saat ini, yang mana AI di Asia masih belum begitu menargetkan media-media yang ada. Masyarakat pun masih menggunakan media arus utama untuk mempercayai peristiwa yang ada di sekelilingnya. Ini adalah hal positif yang sekiranya tidak membutakan masyarakat dari disinformasi yang sudah meluas. Lanjutnya, perkembangan generasi AI memang sudah meningkat, tetapi tidak meningkat signifikan. Tentunya AI akan terus berkembang pada masa yang akan datang. 

Laban Laisila selaku Kepala Narasi Newsroom mengungkap titik cerah kehadiran AI di dunia. 

"Perkembangan AI memberikan manfaat dalam mengidentifikasi objek menggunakan tools yang tersedia. Saat ini sudah ada penggunaan AI di media yang bersifat netral, seperti animasi gemoy pada saat pemilihan calon presiden dan wakil presiden 2024. Itu adalah contoh penggunaan AI yang baik karena masih netral dan tidak menimbulkan disinformasi." ujar Laban.

Adapun presenter AI sudah menggunakan ini untuk menganalisa, investigasi, dan menggunakan kecerdasan buatan untuk mengidentifikasi suatu objek. Seperti contohnya, Laban mengungkap bahwa sudah ada media yang memanfaatkan tools di AI untuk mengidentifikasi kapal yang melakukan illegal fishing. Ini bisa berdampak baik untuk mengurangi tingkat kriminalitas negara.

Nyatanya, penggunaan AI bukan hanya untuk mengubah seseorang menjadi bentuk kartun dan animasi, melainkan juga ada banyaknya manfaat lain yang bisa digunakan dengan tools dari AI.

“Kalau kita mau menggunakannya baik, maka akan menjadi baik,” demikian tutup Laban. (CHEL)