Penguatan Literasi Dalam Kebhinekaan, Kemendikbudristek Gelar Kongres Bahasa Indonesia (KBI) XII 2023

AKM • Thursday, 26 Oct 2023 - 10:30 WIB

Jakarta- Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) menyelenggarakan Kongres Bahasa Indonesia (KBI) XII. di Jakarta pada 25-28 Oktober 2023. KBI XII merupakan forum kebahasaan dan kesastraan tertinggi di Indonesia yang diselenggarakan secara berkala setiap lima tahun yang pertama berada di Solo pada tahun 1938. KBI telah berkontribusi dalam  perkembangan bahasa  Indonesia dan kehidupan bangsa Indonesia. Melalui KBI telah lahir berbagai kebijakan yang  berdampak pada berkembangnya peraturan perundang-undangan, pedoman dan acuan, program dan kegiatan, hingga produk dan layanan kebahasaan dan kesastraan.

"Dengan menghimpun semua unsur pemangku kepentingan untuk bertukar pikiran dan informasi terkini tentang penanganan bahasa, khususnya bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang ada di Indonesia, KBI XII diharapkan dapat menghasilkan putusan-putusan bernas sebagai penentu arah kebijakan nasional kebahasaan dan  kesastraan yang adaptif dan strategis. Dengan menyadari kondisi, potensi, tantangan, permasalahan, dan dinamika perkembangan bahasa Indonesia serta pengaruhnya terhadap pendidikan nasional dan kehidupan berbangsa dan bernegara", ujar Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemenbudristek  E Aminudin Aziz saat jumpa pers di Jakarta, Rabu (25/10).

Saat ini, katanya, KBI XII akan berfokus pada kerangka berpikir ihwal penguatan literasi dalam bingkai kebinekaan dan pemanfaatannya untuk memajukan bangsa. Sehubungan dengan fokus tersebut, KBI XII mengangkat tema “Literasi dalam Kebinekaan untuk Kemajuan Bangsa”. Slogan “Adibasa, Adiwangsa” menyiratkan bahwa bahasa yang baik merupakan modal besar untuk menjadi bangsa yang unggul.

''Tema tersebut dipumpunkan pada tiga subtema yang selaras dengan tiga program prioritas Badan Bahasa, yaitu revitalisasi bahasa dan sastra daerah, literasi bahasa dan sastra Indonesia, serta internasionalisasi bahasa Indonesia", ucapnya.

Badan Bahasa selaku penyelenggara Kongres Bahasa Indonesia XII mengungkapkan bahwa ada tiga perbedaan pada kongres kali ini dibandingkan dengan perhelatan serupa yang telah dilaksanakan sebelumnya. Perbedaan pertama adalah pelaksanaannya bisa diikuti oleh peserta dengan moda hibrida, yaitu luring dan daring.

“Tidak pernah sebelumnya kongres diadakan secara daring dan luring. Akibat dari pandemi Covid-19, mode hibrida seperti ini menjadi praktik yang biasa diselenggarakan untuk acara-acara besar dan luas,” ujar Aminudin Aziz.

Aminudin mengungkapkan, peserta yang diundang secara luring berjumlah lebih kurang 500 orang. Artinya, mereka hadir langsung di acara KBI XII. Selain itu, ada sekitar 1.000 peserta kongres yang terdaftar secara daring.

Perbedaan kedua yaitu penyelenggaraan Kelas Mahir (Master Class) pada awal Oktober 2023 sebagai program pelatihan intensif bagi para profesional di bidang kebahasaan. Ada dua bidang yang ditawarkan dalam Kelas Mahir, yaitu Leksikografi Korpus dan Linguistik Forensik.

“Kelas Mahir Leksikografi ini diadakan melalui kerja sama dengan Leksikon, lembaga yang biasa mengembangkan kamus-kamus di dunia. Dari ratusan peserta, kami hanya memfasilitasi untuk 15 sampai 20 orang saja,” ucap Aminudin.

Program ini dikaitkan dengan rencana Badan Bahasa untuk menambah pengayaan entri atau lema dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dari kondisi yang baru mencapai sekitar 121.000 entri untuk ditargetkan tahun depan menjadi 200.000 entri. Untuk Kelas Mahir Linguistik Forensik, Badan Bahasa bekerja sama dengan Universitas Aston di Inggris yang merupakan salah satu pusat lingusitik forensik terbaik di dunia. Fokusnya pada model-model ujaran kebencian.

“Pertambahan kasus kriminal di negeri kita ini yang dilaporkan ke kepolisian jumlahnya hingga ribuan, dalam satu tahun angkanya terus meningkat,” imbuhnya.

Perbedaan ketiga adalah pemberian anugerah Hoesein Djajadiningrat yang merupakan penghargaan tertinggi di bidang kebahasaan dan kesastraan. Nama Hoesein Djajadiningrat dipilih karena sosoknya melekat dalam perjuangan menjayakan bahasa dan sastra Indonesia pascakemerdekaan.

“Hoesein juga menjadi tokoh yang diberi kepercayaan memimpin lembaga bahasa yang saat itu bernama Lembaga Bahasa dan Kesusastraan pada tahun 1957-1960. Penghargaan Hoesein Djajadiningrat diberikan kepada orang yang dinilai memiliki kepedulian dan sumbangsih yang luar biasa terhadap pengembangan dan pembinaan bahasa Indonesia dan daerah serta penginternasionalan bahasa Indonesia,” ungkapnya.