
Surabaya - Akademisi Universitas Trunojoyo Madura Surokim Abdus Salam menyampaikan, Mahfud dipilih karena potensi elektoralnya yg bisa menambal kekurangan Ganjar. Mahfud menurut Surokim yang juga pengamat politik dar Surabaya Survey Center menambahkan, dari sisi modal ekonomi bisa dikatakan minimalis, tetapi dipilih PDIP karena potensi elektoral.
Mahfud dengan segenap integritas dan pengalaman serta ketokohannya menurut Surokim bisa memperkuat ganjar dan juga sesuai kebutuhan saat ini. Selain itu punya pengalaman yg relatif lengkap baik di legislatif, eksekutif maupun yudikatif. Mahfud juga tokoh nahdliyin yang tidak diragukan loyalitasnya pada Gus Dur, dan sikapnya sederhana, lugas, tegas dan apa adanya relatif disukai pemilih milenial.
"Jadi paket lengkap Pak Mahfud. Pengalaman luar biasa di semua lini. Nadliyin juga sangat kuat. Apalagi beliau juga dikenal sebagai Gusdurian," ujar Surokim.
Kondisi dan konteks saat ini juga membutuhkan tokoh yang kuat untuk mewujudkan daulat hukum dan Mahfud termasuk tokoh yang punya kapasitas dan integritas untuk itu.
Potensi Mahfud menurut Surokim yang juga menjabat Pembantu Rektor Universitas Trunojoyo, akan mampu mengaet suara swing voters dan undecided voters yang cukup menjanjikan.
"Pak Mahfud juga dekat dengan kelompok anak muda. Pengalaman sebagai akademisi tentu akan mudah membuatnya bergaul dengan kelompok ini yang sering kali menjadi kelompok swing voters," lanjut Surokim.
Hal lain yang membuat PDIP memasang Mahfud sebagai pendamping Ganjar Pranowo adalah modal sosial integritas dan kejujurannya yang potensial akan menarik perhatian pemilih dan jika biss dijaga, dipelihara dan dimaksimalkan akan bisa mengaet pemilih liar yang belum menentukan pilihan.
" Kejujuran dan integritas Pak Mahfud siapa yang tidak tahu. Ini sangat menarik dan tentu akan mengarahkan pemilih untuk memberikab dukungan kepadanya," tambah Surokim.
Terkait dengan kondisi di koalisi, sejauh ini menurut Surokim semua bisa menerima sosok Mahfud dan tidak ada kendala karena selama ini yang resisten hanya PKB dan Golkar, yang secara kebetulan tidak berada dalam koalisi yang sama dengan PDIP, sehingga relatif aman.
"Untuk komunikasi dengan koalisi saya kira Pak Mahfud bisa diterima. Yang resisten kan hanya PKB dan Golkar saja," lanjut Surokim.
Tentu yang lebih menarik lagi menurut Surokim, PDIP juga memberikan rasa bangga bagi masyarakat Madura. Karena dengan Mahfud sebagai cawapres, bisa menumbuhkan solidarity dan proximity di kalangan masyarakat Madura yang tersebar di Indonesia, yang potensial menambah dukungan untuk Ganjar - Mahfud.
"Bagi Madura tentu ini kebagahagian dan kebanggaan. Mereka tersebar di Indonesia tentunya sangat potensial menjadi ceruk suara," papar Surokim.
Secara simbolic, Surokim menilai power Mahfud juga kuat dan bisa diterima lintas elemen dan golongan. Namun demikian tetap saja ada yang tidak suka, seperti barisan politisi dan pengusaha hitam karena menurut Surokim, kelompok itu cenderung tidak suka dengan tipikal Mahfud yang susah diajak kompromi dan melanggar hukum
Sementara terkait pertarungan di Jatim, Surokim menilai tetap akan sengit dan menentukan. Namun jika cermat mengamati data swing dan undecided voters pemilih jatim masih tinggi masih diatas 30% Pemilih yang belum fix menentukan pilihan sejauh ini.
Mahfud tentu diharapkan bisa menguatkan ceruk pemilih nahdliyin di segmen itu juga. Apalagi Jatim juga basis dan Mahfud juga punya ikatan langsung dengan kultur nahdliyin, khususnya pendukung Gus Dur.
"Mahfud di Jatim tetap menjanjikan dan potensinya besar untuk mengambil ceruk suara dari swing votersnya," pungkas Surokim.