
Jakarta - Untuk menekan polusi udara di Jakarta, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno sejak pekan lalu sudah mengusulkan untuk kembali menerapkan program work from home (WFH). Usulan itu sudah dituangkan dalam bentuk kebijakan berupa surat edaran.
"Pemerintah menerapkan pembagian sistem WFH atau WFO bagi pegawai pemerintah dan pegawai swasta sebagai upaya mengurangi penggunaan kendaraan pribadi," tegas Menparekraf Sandiaga Uno dalam The Weekly Brief with Sandi Uno, di Jakarta, Senin (21/8/2023).
Hal itu sesuai dengan Surat Edaran Sesmen/Sestama No. SE/4/KP.00/S.3/2023 tanggal 16 Agustus 2023 tentang Pelaksanaan Tugas Kedinasan Bagi Pegawai Kantor Pusat di Lingkungan Kemenparekraf/Baparekraf sebagai respons atas arahan presiden terkait kualitas udara yang buruk di Jakarta, disampaikan bahwa komposisi maksimal 75 persen pegawai menjalankan tugas kedinasan dari rumah atau maksimal 25 persen tugas kedinasan dari kantor atau WFO (work from office).
"Kita bikin sistem WFH ini berkaca dari pengalaman kita selama pandemi, yang kami yakini hasilnya cukup efektif untuk mengurangi polusi udara karena bisa mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan lebih memilih naik kendaraan umum," kata Sandi.
"Tapi tak usah khawatir, masyarakat bisa tetap berkunjung ke tempat wisata seperti biasanya. Namun kita harapkan lebih memilih menggunakan kendaraan umum atau mungkin kendaraan listrik, karena di Ancol misalnya bisa parkir gratis masuk kalau menggunakan kendaraan listrik yang lebih ramah lingkungan," lanjutnya.
Pada pekan lalu, Sandiaga, mengatakan polusi udara di Jakarta menunjukkan kualitas tidak baik yang ditopang oleh berbagai faktor. Salah satunya emisi dari kendaraan bermotor. Selain akan kembali menerapkan sistem WFH, pria yang akrab disapa Sandi ini juga mengimbau pegawai di Kemenparekraf/Baparekraf untuk menggunakan transportasi umum saat hendak berangkat dan pulang bekerja di kantor.
"Saya juga akan menggunakan kendaraan umum dan (olahraga) lari ke kantor sebagai upaya menurunkan polusi di Indonesia," katanya. Selain itu, Sandiaga mendorong berbagai pihak untuk menyediakan ruang terbuka hijau dan penggunaan sumber energi ramah lingkungan di destinasi-destinasi wisata di Indonesia," ujarnya.
"Kualitas udara di Jabodetabek ini memang sudah semakin memprihatinkan, terutama diakibatkan oleh beberapa fenomena yaitu transportasi, industri, dan juga cuaca. Tapi kita telah mencanangkan bahwa Kemenparekraf akan gerak cepat untuk menangani permasalahan ini," sambungnya.
Sandi menambahkan, dirinya juga akan mulai untuk tidak menggunakan mobil meskipun kendaraan yang digunakannya adalah mobil listrik. "Saya mulai memakai kendaraan umum dan lari ke kantor sebagai bagian dari menurunkan polusi yang ada di Indonesia," ungkapnya.
Untuk jangka panjang, Sandi mengatakan perlu ada peningkatan dari segi ruang terbuka hijau, konversi dari industri yang tidak menggunakan energi ramah lingkungan. Selain itu, beberapa destinasi wisata termasuk destinasi super prioritas akan diarahkan untuk memanfaatkan elektrifikasi.
"Saya merasakan sendiri polusi, karena saya lari pagi dan kita harus mampu untuk menghadirkan kualitas udara yang baik, karena itu yang dilihat oleh para wisatawan kita," jelasnya.
Menurut Sandi, kotornya udara Jakarta akibat polusi bakal berdampak negatif terhadap pariwisata di Indonesia. Ia pun meminta agar bersama-sama mengatasinya, serta mengontrol supaya tidak berkepanjangan atau berlarut-larut. "Kita harapkan apa yang diterapkan di Beijing juga akan kita lakukan di sini, sehingga tidak ada dampak secara menahun masalah polusi ini. Masalah ini akan jadi top of mind atau pusat perhatian kita," tutur Sandiaga.
Sandi mengakui dirinya juga ikut terdampak polusi udara di Jakarta. Kejadian ini dirasakannya ketika melakukan lari pagi, dan sangat terasa parahnya kondisi udara di Jakarta.
"Hampir lima atau enam kali seminggu saya lari di luar dan ternyata pagi itu yang paling parah. Baru siang itu turun sedikit, jadi 13 Agustus lalu pagi, di Jakarta itu kota terburuk kualitas udaranya di dunia. Baru di sekitar jam 11 siang, turun di nomor 8 terburuk di dunia," terangnya.