Kekeringan dan Polusi Udara, Ancaman Serius bagi Kesehatan dan Lingkungan

ANP • Tuesday, 15 Aug 2023 - 19:48 WIB

JAKARTA - Kualitas udara yang memburuk dan kekeringan yang melanda DKI Jakarta dalam beberapa hari terakhir telah menarik perhatian banyak pihak. Fenomena ini bukanlah peristiwa baru, melainkan merupakan permasalahan lingkungan yang telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir. Data terbaru yang dirilis oleh IQAir pada tanggal 15 Juni 2023 menunjukkan angka yang cukup mengkhawatirkan, yaitu indeks kualitas udara mencapai angka 157. Fakta ini menempatkan Jakarta sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di antara 10 kota besar di seluruh dunia.
    
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari mengatakan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tengah melakukan penelitian mendalam terhadap dampak polusi udara, baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung terhadap masyarakat. 

"Fenomena ini bisa berasal dari faktor alam maupun akibat aktivitas manusia, yang berpotensi menimbulkan implikasi fisik dan material yang signifikan. BNPB telah menginisiasi kajian internal guna menentukan sumbangan strategisnya dalam upaya mengurangi dampak pencemaran udara ini,” ujar Abdul Muhari pada siaran pagi di Trijaya Hot Topic MNC Trijaya FM, Selasa (15/8/2023).

Menurutnya, dampak dari polusi udara dan kekeringan pada kesehatan penduduk Jakarta adalah perhatian utama. Kondisi udara yang tidak sehat ini berkontribusi pada peningkatan risiko penyakit kronis dan tidak menular. Maraknya penyakit ISPA atau Infeksi Saluran Pernafasan Akut semakin meluas di kalangan penduduk. Terlebih lagi, anak-anak, lansia, dan individu dengan penyakit kronis menjadi lebih rentan terhadap dampak negatif ini.

Wakil Sekjen PB IDI, Nirwan Satria menjelaskan, penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dapat disebabkan oleh berbagai agen patogen seperti kuman, bakteri, dan virus. Selain itu, ISPA juga bisa timbul akibat faktor pencemaran udara. Keberadaan polusi udara dapat mengakibatkan dampak negatif terhadap kesehatan manusia, termasuk dehidrasi. 

"Lalu, perubahan iklim yang terjadi saat ini juga memiliki potensi untuk memicu peningkatan kasus ISPA dan menyebabkan masalah dehidrasi serta radang tenggorokan,” ungkap Dokter Nirwan.

Ia menjelaskan, upaya pencegahan dan mitigasi harus diambil untuk mengurangi emisi polutan udara. Langkah-langkah seperti memperkuat regulasi emisi kendaraan, mendukung energi terbarukan, dan mempromosikan transportasi umum ramah lingkungan menjadi penting untuk menghadapi krisis ini. (Andinzl-magang)