
Madinah - Usai puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armina), Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi siap menyambut kedatangan jemaah gelombang dua yang mulai didorong secara bertahap dari Makkah ke Madinah sejak 10 Juli lalu.
"Alhamdulillah kita melaksanakan rapat koordinasi di daker Madinah bersama para kepala sektor dan para kasie membahas persiapan menghadapi puncak gelombang dua, termasuk juga persiapan kepulangan jemaah dari Madinah ke Indonesia," ujar Direktur Jenderal (Dirjen) Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama, Prof. Hilman Latief, di Madinah, Selasa (11/7).
Dalam rapat koordinasi ini dibahas kesiapan tim akomodasi dan transportasi, serta langkah antisipasi keterlambatan dan perubahan jadwal penerbangan.
BACA JUGA: Satu Jemaah Indonesia yang Hilang Ditemukan Meninggal Dunia, 2 Lagi Masih Dicari
"Kita ingin menjaga betul, meminimalisir perubahan-perubahan yang ada sehingga jemaah tetap nyaman saat berada di Madinah dan juga kepulangannya ke tanah air," ujar dia.
Kedatangan lebih dari 100 ribu jemaah haji gelombang dua ke Madinah, akan berdampak terhadap padatnya kota Madinah. Situasi ini harus diantisipasi, karena rawan menyebabkan jemaah tersesat.
"Petugas harus siap mengantisipasi kepadatan di Madinah. Yang paling utama adalah mengantisipasi jemaah haji yang tersesat atau hilang," pesan Hilman.
Karena itu Hilman meminta para petugas tetap siaga agar fenomena jemaah tersesat atau hilang bisa dihindari.
"Madinah itu bagi orang yang tidak familiar, gerbangnya dianggap sama semua. Begitu keluar kok lain posisi gedungnya, belokannya. Potensi tersesatnya besar," tukas dia.