Ziarah Kebangsaan Sebagai Wujud Meneguhkan Nilai-nilai Pancasila

MUS • Thursday, 2 Jun 2022 - 12:20 WIB

Jakarta - Dalam memaknai hari Pancasia 1 Juni 2022, Panitia Nasional Tribute WR Supraptman melakukan ziarah kebangsaan dengan menziarahi Pahlawan Nasional Sultan Agung di makam Raja-raja Pajimatan Imogiri, diteruskan ke makam Pahlawan Nasional Pencipta lagu Padamu Negei Kusbini dan makam pencipta lagu Satu Nusa Satu Bangsa, Liberty Manik di Makam seniman dan budayawan Girisapto Imogiri.

“Menjadi Indonesia bukan perkara mudah, sejarah telah mencatat tentang berbagai perjuangan yang telah dilakukan oleh putra-putri terbaik negeri. Berbagai peran dengan berbagai profesi maju bersama dengan semangat untuk menjadi negara yang "merdeka". Bahwa pada tanggal 17 Agustus 1945, negara yang merdeka itu bernama Indonesia," ujar Sigit Sugiti Panitia Nasional Tribute WR Supratman. 

Sebagai negara baru, perjuangan tidak begitu saja berhenti. Seluruh anak bangsa dengan penuh ketulusan melanjutkan perjuangan untuk mengisi kemerdekaan. Sebagaimana para pejuang pendahulu memperjuangkan kemerdekaan.

Kesadaran untuk terlibat menjadi bagian yang memperjuangkan kemerdekaan tercatat dalam sejarah perjuangan mencapai kemerdekaan Indonesia. Tiga komponis terbaik: Kusbini, L. Manik, dan WR. Supratman, dengan kepekaan rasa yang dalam berhasil mengubah syair lagu yang menunjukan kecintaannya terhadap tanah airnya yang sedang dijajah.

Memberikan "penghargaan" kepada tiga komponis pejuang menjadi penting. Dalam falsafah Jawa dikenal dengan "mendem jero mikul duwur", yang secara harafiah bisa diartikan dengan " memuliakan".

Sangatlah pantas untuk memuliakan, ketiga komponis pejuang tersebut. Karya-karya yang dihasilkan memiliki roh yang berhasil hidup dalam diri setiap anak bangsa yang menyanyikan. Pada konteks lain, apa yang dilakukan oleh ketiga komponis pejuang tersebut menjadi bukti bahwa berjuang bisa dilakukan oleh siapa saja dengan berbagai profesi yang dimiliki oleh setiap generasi.

Para pendahulu telah berjuang dengan keterbatasan yang ada, dan terbukti mampu memberikan karya terbaiknya sebagai bentuk bakti dan cintanya kepada negeri, dan generasi penerus berkewajiban untuk menjaga, mengembangkan dan mempertahankan negeri Indonesia untuk selama-lamanya.

“ Setiap dari kita bisa menjadi "pahlawan", untuk selalu memberikan yang terbaik bagi Indonesia, kesadaran menjadi bagian dari Indonesia, setidaknya telah termanifestasikan dari syair lagu ketiga komponis pejuang, yang berhasil  menggugah emosi kita untuk selalu mencintai Indonesia," pungkas Sigit.