Obituari Jaka Lelana: Jurnalis, Produser, Penderma Sejati

FAZ • Thursday, 3 Mar 2022 - 18:22 WIB

Radio Trijaya kehilangan salah satu pimpinannya. Sosok terbaik yang sudah berkiprah lebih dari 10 tahun di Radio Trijaya, dan belasan tahun di dunia jurnalistik radio, H. Jaka Lelana, S.Sos, M.Ikom (13 April 1979 - 3 Maret 2022) telah berpulang ke Sang Pencipta, Kamis (3/3/2022).

Sebelum dirawat di Rumah Sakit selama beberapa bulan ini, almarhum menjabat Head of News Gathering Radio MNC Trijaya Network, sekaligus Produser Talkshow "POLEMIK" MNC Trijaya.

Sederet program unggulan juga pernah diproduserinya, di antaranya "Tokoh Bicara", "Sosok Bicara", program Prime Time "Trijaya Hot Topic Petang", dan "Penulis Bicara". Belum termasuk program spesial berbentuk diskusi mendalam.

Sebagai produser, Bang Jaka atau Pak Jaka, begitu biasa disapa, selalu ingin memberikan narasumber terbaik bagi para penyiar yang diasuhnya. Beliau sering terlihat gusar, dicampur rasa penasaran, dan sedikit tegang, ketika narasumber pilihannya tidak berhasil dihubungi lewat telepon.

Beberapa kali disarankan untuk tenang atau tidak perlu memaksakan narasumber, tetapi Pak Jaka sering berpendapat, "Dia (narasumber) harusnya angkat (telepon) dong, pendengar kan menunggu." Ketika narasumber berhasil dihubungi, ekspresi bak sebuah kemenangan pun, ditunjukkannya.

Kegigihannya sebagai produser terasa kuat tidak hanya di gatekeeper, ruang kerja produser untuk merancang segala konten untuk penyiar. Pak Jaka sering bercerita bagaimana pengalamannya ketika menjadi jurnalis di lapangan.

Beberapa tugas yang sering dikisahkan, di antaranya liputan pada sekitar tahun 2000-an sampai 2010-an, yaitu reportase kegiatan mudik di Pelabuhan Merak - Banten. Beliau harus meninggalkan keluarga barunya, demi tugas menyiarkan mudik berhari-hari, yang saat itu masih terjadi kemacetan dan antrean panjang.

Pada beberapa bencana alam, termasuk gempa bumi di Sumatera Barat tahun 2009, Pak Jaka terdengar sangat antusias ketika harus menyalurkan donasi pendengar, di radio sebelumnya. Baginya, amanah berderma, membantu para pengungsi, dan mendistribusikan bantuan, menjadi prioritas seiring tugas-tugas jurnalistiknya.

Pak Jaka juga pernah meliput ibadah haji, langsung dari Tanah Suci. Cerita peribadahannya memenuhi panggilan Allah, jarang terdengar dibanding pengalamannya membantu sesama, khususnya jamaah kaum lanjut usia, yang butuh pertolongan. "Saya selalu ingin mengajak orang tua ke Tanah Suci," katanya suatu kali.

Baginya, liputan sangatlah penting untuk kepentingan perusahaan dan atau klien pengiklan. Tetapi aksi nyata, membantu masyarakat, berdonasi, termasuk menjalin silaturahmi dengan siapa pun, menjadi hal mutlak saat menuntaskan kerja jurnalistiknya.

Beliau pernah bercerita, saat di Tanah Suci, dia selalu keliling berbincang dengan semua pihak untuk memahami seluk-beluk penyelenggaraan ibadah. Semua pengampu kepentingan mulai dari pejabat sampai petugas di lapangan, diajaknya berkenalan dan dimintakannya nomor-nomor telepon, yang tidak hanya bermanfaat untuk liputan, tetapi juga untuk memberi solusi, pada ibadah haji tahun-tahun selanjutnya.

Kegigihannya memberikan yang terbaik bagi profesinya, sering diceritakan kepada jurnalis junior atau bahkan para pemagang. Meski kaya pengalaman meliput berbagai momen dan orang terhormat di negeri ini, Pak Jaka sering berpesan, pentingnya peran jurnalis di kehidupan sehari-hari.

"Kalau kita mengalami kemacetan, ya laporan, jangan diam saja," tuturnya suatu waktu. Laporan lalu lintas yang terkesan sederhana dan gampang, bisa dianggap Pak Jaka sebagai siaran mahapenting untuk kepentingan pendengar.

Tanpa memandang status karyawan, pemimpin redaksi sekalipun, jika ketahuan sedang terjebak macet, atau dekat lokasi kebakaran, dan peristiwa apa saja yang penting untuk pendengar, pasti akan diminta Pak Jaka untuk laporan pandangan mata.

Belum lagi kenangan di program "Polemik" MNC Trijaya. Talk show terhangat akhir pekan tersebut selalu menjadi beban pikirannya menjelang akhir pekan. Di tengah kesibukan menghubungi menteri, para pejabat, analis, atau orang-orang terbaik di bidangnya, Pak Jaka selalu berkomitmen satu hal, menjaga 'mood' semua pihak. Mulai dari para pimpinan, penyiar, narasumber, tim teknik, pemagang, office boy, sampai pramusaji di tempat siaran "Polemik".

Demi komitmen itu, beliau sering mengajak traktir kawan-kawan, membelikan jajanan, atau membawakan sajian kuliner, yang katanya khas dari sekitar kediamannya. Semata-mata agar rasa kebersamaan terjalin. Bukan sekali dua kali dilakukan, tetapi rutin dan menjadi ciri khasnya sampai menjelang akhir kehidupannya.

Di atas segalanya, Pak Jaka selalu ingin melayani pendengarnya. Sebagai pendengar setia radio, beliau memahami persis kebutuhan khalayak, khususnya kalangan konsumen berita. Tak perlu terjebak dengan pakem teori-teori radio masa kini, beliau teguh berpegang, publik perlu berita, yang disajikan secara menarik di udara. Di sanalah peran jurnalis, produser, atau apapun tugasnya, mendermakan seluruh kemampuannya untuk kepentingan masyarakat.

Selamat jalan, Jaka Lelana, jurnalis, produser, rekan kerja, pimpinan, senior, mentor, sahabat, penderma sejati. Karya dan pesanmu akan selalu menghiasi perjalanan Radio Trijaya. (MAR)