.jpg)
Jakarta – Presiden Rusia, Vladimir Putin memerintahkan pasukan pencegah nuklir Rusia dalam siaga tinggi, pada Minggu (27/02). Hal ini pun menambah ketegangan di tengah perang panas invasinya ke Ukraina. Namun dengan panasnya situasi saat ini, masih banyak mispersepsi terkait apa yang sebenarnya terjadi antara Rusia dan Ukraina.
Menanggapi hal tersebut, Pengamat Hubungan Internasional Universitas Indonesia, Prof. Hikmahanto Juwana, menjelaskan bahwa konflik ini terjadi karena ada dua perspektif yang berbeda antara Rusia dan Ukraina. Dimana Rusia mengkhawatirkan Ukraina bergabung ke NATO. Lalu adanya penyerangan terhadap pasukan separatis Pro-Rusia oleh Ukraina.
Ukraina sendiri beranggapan bahwa saat ini mereka adalah negara bebas. Dimana mereka bebas untuk memilih netral atau bergabung bersama NATO. Sementara Rusia beranggapan bahwa siapapun Presiden Ukraina saat ini, harus berpihak kepada Rusia, karena Ukraina dulunya merupakan bagian dari Uni Soviet.
“Sayangnya mereka menggunakan kekerasan, dan ujungnya adalah rakyat sipil yang tidak berdosa yang harus menanggung konsekuensi,” Ujar Hikmahanto dalam Trijaya Hot Topic Pagi, Selasa (01/03/2022).
Terkait dengan sikap Indonesia terhadap peristiwa ini, Hikmahanto mengatakan bahwa ia mendukung apa yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo. Karena merujuk pada Pasal 1 angka 3 dari Piagam PBB, disebutkan bahwa jika ada sengketa Internasional, negara-negara diminta untuk menyelesaikannya secara damai dan jangan sampai berakibat pada keamanan dan perdamaian Internasional.
Sementara Kemenlu menyatakan bahwa tidak seharusnya sebuah negara menyerang negara lain, ini berdasar pada Pasal 1 angka 4 Piagam PBB. Namun menurut Hikmahanto, jika Indonesia menggunakan Pasal tersebut, Ia khawatir akan menimbulkan konflik baru.
Hikmahanto menegaskan seharusnya Indonesia belajar dari pengalaman karena Indonesia sendiri pernah menghadapi situasi semacam ini, kala isu Timor-Timur. Indonesia berada dalam posisi meyakinkan kepada dunia bahwa Timor-Timur itu berintegrasi, namun negara-negara lain melihat Indonesia melakukan pencaplokan terhadap Timor-Timur.
“Kenapa sih para Diplomat kita gak belajar dari cerita itu, sehingga apa? sehingga kita bisa membuat satu resolusi yang netral,” Tegas Hikmahanto menutup Trijaya Hot Topic Pagi. (fad).