Survei Kinerja Gubernur di Dunia Maya

MUS • Sunday, 9 Jan 2022 - 08:58 WIB

Jakarta – Center for Indonesian Reform (CIR) bekerjasama dengan Datasight Indonesia melakukan monitoring online atas kinerja Gubernur di Indonesia. Direktur Datasight, Radhiatmoko menyebut penelitian ini dilakukan untuk melihat besaran publikasi media dan percakapan media sosial terhadap sejumlah kepala daerah. 

Penelitian dilakukan selama sebulan penuh, mulai tanggal 1 - 31 Desember 2021. 

“Sepanjang periode tersebut kami berhasil menghimpun 52.310 artikel dan pembicaraan di media sosial terkait kinerja Gubernur se-Indonesia. Hasilnya terdapat empat nama Gubernur yang memiliki jumlah pemberitaan dan ulasan terbesar di media sosial,” terang Radhiatmoko, yang juga mengajar Digital Sociology di Universitas Indonesia. 

“Keempatnya adalah Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dengan 18.359 ulasan, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo dengan 10.704 ulasan, Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil dengan 10.525 ulasan, serta Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa dengan 5.142 ulasan,” jelas Radhiatmoko.

Selain itu, muncul nama Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi (2.065), Gubernur Banten, Wahidin Halim (1.652), Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman (1.553), Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi (1.032), Gubernur Nusa Tenggara Barat, Zulkieflimansyah (660) dan Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji (618).

Radhiatmoko menjelaskan Ridwan Kamil unggul dalam pemberitaan di media online (10.525 artikel), diikuti Anies (9.170 artikel), Ganjar (5.759 artikel) dan Khofifah (5.142 artikel). 

Penyebutan nama Anies di media sosial lebih tinggi dibanding Gubernur lain. Di aplikasi twitter nama Anies disebut sebanyak 8.795 kali dan Youtube 381 kali. Nama Ridwan Kamil di Twitter disebut 5.174 kali dan Youtube 93 kali.

Pencarian di Facebook dan Instagram masih minim untuk bisa dilacak publik.

“Nama Ganjar di twitter disebut 4.726 kali dan Youtube 215 kali.

Sedangkan nama Khofifah di Twitter disebut 2.215 kali dan Youtube 39 kali,” pungkas Radhiatmoko.

Dari peta word cloud, pemberitaan dan percakapan tentang Anies sudah mengarah pada diksi “Presiden” dan “Pilpres”, meski isu penanganan Covid dan pemulihan kesehatan masih terlihat.

Ridwan Kamil lebih menonjol personal branding, ketimbang isu Presiden atau pemulihan ekonomi dan kesehatan.

Ganjar seperti Anies, lebih kuat diksi Presiden, yang diperkuat dengan isu Elektabilitas berdasar survei. 

Untuk Khofifah lebih menonjol isu Menteri daripada Presiden, topik bencana Semeru mencuat di tengah Covid.

Radhiatmoko menambahkan dari sekian banyak ulasan tentang Anies, cukup besar warganet yang berpandangan netral (51,92%) ketimbang mereka yang bersifat pro (30,04% sentiment) atau kontra (18.04% sentimen negatif).

Sementara tentang Ganjar, dari 10.704 pemberitaan dan ulasan, terdapat 47,30% sentimen netral, 43,54% positif dan 9,16% negatif.

Sikap netral menunjukkan masih menunggu kinerja kongkret para Gubernur.

“Untuk pemberitaan dan ulasan media sosial terkait Ridwan Kamil: 51,43% bersentimen netral, 38,15% positif dan 10,42% negatif.

Sedangkan terkait Khofifah terlacak sentimen netral 44,90%, positif 45,74% dan negatif 9,35%,” kata Radhiatmoko.

Sentimen positif Anies dibentuk pendukungnya melalui hestek: #PeopleOfTheYear2021 dan #DukungAniesPresiden2024, sedangkan sentiment negatif bersumber dari hestek: #AniesGagalTotal dan #SumurResapAnggaran.

Pendukung RK menampilkan hestek positif dengan memperkuat citra personal: #RidwanKamil, #KangEmil, #Cawapres2024 serta #JabarJuara.

Sementara pendukung Ganjar memperkuat hestek: #SahabatGanjar serta memperluas #SahabatGanjarBali dan #SahabatGanjarJambi.

Pendukung Khofifah menggunakan hestek: #PeopleOfTheYear2021 dan #RI2KBFM, serta isu local: #PrayForLumajang dan #ingatpesanibu.

Menanggapi hasil monitoring itu, Direktur Center for Indonesian Reform, Mohammad Hidayaturrahman menyebut saat ini peran media online dan dan media sosial sangat mempengaruhi pemikiran pemilih. 

Info yang disajikan media dan kemudian ditanggapi di media sosial, bisa menjadi referensi bagi masyarakat untuk memahami isu aktual dan tokoh yang terlibat di dalamnya. 

“Sebagian isu di media online dan media sosial berpengaruh terhadap perilaku pemilih di Indonesia. Pengaruhnya parsial, tidak bersifat absolut. 

Artinya pemilih yang terpengaruh terhadap pemberitaan di media online atau perbincangan media sosial, tidak memiliki bahan referensi lain. 

Mereka tergiring untuk membangun dukungan dan simpati,” jelas HIdayaturrahman. 

Namun, lanjut Hidayat, pemberitaan di media online dan perbincangan medsos tidak akan berpengaruh terhadap pemilih yang memiliki pengalaman berinteraksi langsung dengan objek yang diberitakan. 

Sebab, interaksi langsung yang akan dijadikan dasar opini dan sikap terhadap objek. 

“Bila berita di media online sama dengan hasil interaksi, maka itu menguatkan.

Namun bila berita di media online berbeda dengan hasil interaksi, maka yang dipegang adalah hasil interaksi, bukan berita di media,” tegas Hidayat. 

Ia menambahkan, dalam pandangan teori realitas sosial maka tidak semua yang terjadi di media dapat menggambarkan realitas di dunia nyata. 

Karena ada proses konstruksi terhadap apa yang muncul di media online, terlebih lagi di media sosial. 

Bila mengkaji representasi dari kemunculan isu yang ada di media sosial atau media online, maka realitas yang terbentuk di media sosial, paling maksimal 30 persen menggambarkan realitas di dunia nyata. 

“Berbeda soalnya, bila apa yang muncul di media sosial, didesakkan untuk menjadi semacam agenda yang diikuti oleh publik pada dunia nyata. Hal itu akan menjadi rekayasa politik yang menarik di era digital,” tandas Hidayat. (Jak)