Kuliner Minahasa Naik Kelas di Ibukota

FAZ • Friday, 29 Oct 2021 - 20:04 WIB

Gampang-gampang susah mencari santapan khas Minahasa Sulawesi Utara di Jakarta. Jika anda berada di Jakarta Pusat, sejumlah restoran bisa menjadi pilihan, di antaranya kawasan Senen, Gondangdia, dan Menteng, atau jaringan restoran yang sudah terkenal di daerah Petojo Selatan.

Ragam sajian halal maupun nonhalal tersedia, mulai dari kue panada, pisang goreng sambal roa, ikan rahang tuna rica, sate ragey sarat lemak, sampai bubur Manado yang menyehatkan.

Namun, hanya ada satu tempat makan yang berbagi halaman dengan cagar budaya, yaitu gereja Immanuel, seberang stasiun Gambir. Karena berada di kawasan kantor pusat organisasi gereja salah satu yang terbesar di Indonesia, yaitu Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB), tempat makan ini menjadi langganan para pendeta dan pelayan-pelayannya.

Lokasinya di Jl. Medan Merdeka Timur, juga dekat dengan perkantoran termasuk Kementerian Luar Negeri, Kementerian Agama, Kantor Pusat Kementerian Perhubungan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta masih banyak lagi. Kalangan pegawai juga kerap terlihat di sana.

Tempat kuliner yang dimaksud adalah Saung Immanuel. Nama Immanuel tentu saja merujuk pada gereja berusia ratusan tahun di distrik Weltevreden alias Gambir. Sementara saung merupakan bangunan nonpermanen sederhana, yang beberapa tahun lalu ditempati, di bawah pohon rindang kompleks gereja.

Saat ini, Saung Immanuel sudah pindah ke bangunan permanen di sebelah belakang gereja. Bersama dua tempat makan nonhalal lainnya, Saung Immanuel mampu menarik pengunjung, dengan tempat makan semi-indoor dan lagu-lagu daerah Minahasa maupun lagu rohani Kristen.

Karena gereja Immanuel sedang direnovasi besar-besaran, maka tempat parkir di sana pun berkurang. Tetapi penikmat kuliner tak perlu terlalu terganggu dan tetap bisa membawa pulang maupun ‘delivery’.

Layanan pesan antar di sana, baru tersedia saat awal Pandemi Covid-19. Berawal dari kesadaran pemiliknya saat awal PSBB, yang menyebabkan omzetnya terus menurun.

Pemilik “Saung Immanuel” Ibu Juli menceritakan, awalnya dia tidak terlalu ingin bergabung dengan layanan platform digital. Menurutnya, dagangannya cukup laku hanya dengan jualan di luar jaringan. Namun wabah mengubah segalanya.

“Karena sepi. Awal pandemi cuma bisa mengumpulkan ratusan ribu Rupiah per hari, maksimal Rp 400 ribu. Sepi sekali,” cerita Juli, Rabu (27/10/2021).

Setelah 1-2 bulan menghadapi hantaman pandemi, Juli pun memutuskan ikut layanan GoFood. Juli tentu tidak sendiri, ada jutaan mitra usaha GoFood yang baru bergabung selama pandemi.

Dalam Webinar Asosiasi Media Siber Indonesia, VP Affairs & Groceries GoJek Rosel Lavina  menyebutkan pertumbuhan mitra usaha GoFood. “Pertumbuhan 33 persen dari tahun lalu, yaitu dari 750 ribu menjadi 1 juta mitra usaha,” jelas Rosel.

Tren tersebut juga tergambar dalam Riset Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. Jumlah pengusaha pemula yang memanfaatkan GoFood meningkat selama masa pandemi, yaitu 47 persen dibanding sebelumnya 31 persen. Pendapatan mitra UMKM GoFood rata-rata naik pada 2021 dibanding 2020.
Dalam riset tersebut juga disebutkan, 4 dari 5 UMKM percaya, GoFood turut mendorong pertumbuhan usaha, dengan manfaat Utama berupa kesempatan promosi GoFood, perluasan akses pasar, kemudahan pengelolaan melalui aplikasi GoBiz, dan pelatihan kewirausahaan.

Manfaat tersebut pun diaminkan Juli. “GoFood sangat membantu, dalam sebulan bisa dapat Rp 54 juta dari GoFood saja,” katanya.

Meski belum terlalu pulih seperti sebelum pandemi, tetapi Juli sudah cukup optimis dibanding masa awal pandemi yang sangat sepi. Dia tak lagi merasa pesimis harus berbelanja sejak pukul 5 pagi di Pasar Senen, dan membuka usahanya pada pukul 8 pagi.

Dengan berbagai keuntungannya, termasuk kemudahan memperbarui ketersediaan menu, dia memiliki harapan agar GoFood memiliki fitur yang mencegah pembatalan pemesanan.

“Beberapa kali dibatalkan konsumen, itu bagaimana kalau yang dipesan bubur Manado, harus dimasak saat itu juga, tetapi tidak jadi. Kalau pun ada konsumen lain membeli, kan dikirim dalam keadaan panas-panas,” tutur Juli yang dibantu memasak oleh ibunya.

Menurut Juli, tidak masalah jika pembatalan makanan siap saji, tetapi dia berharap ada mekanisme tersendiri agar pembatalan dicegah, apalagi untuk menu tertentu yang memerlukan persiapan ekstra. “Sekarang saya selalu bilang ke teman-teman (sesama pengusaha –Red.), ikut saja digital GoFood,” terang Juli.

Jadi, untuk Anda pecinta kuliner Sulut, dengan cita rasa seperti di kampung halaman, dan varian yang jarang ditemui di restoran lain, jangan lupa sempatkan mampir ke Saung Immanuel atau cek menunya di GoFood, di antaranya: Rahang tuna ekstra besar, yang panjangnya melebihi piring makan kita, aneka sajian kua asang (kuah asam), goropa woku (kerapu), miedal (campuran bubur Manado dan mi), mi cakalang, nasi kuning, kabator, nasi jaha (jahe), sampai es kacang merah. Cukup menggiurkan bukan? (*)

_

Penulis: Marlene Karamoy