
Jakarta - Pengembangan dan penguatan bahasa daerah menjadi komitmen pemerintah untuk terus dilaksanakan. Kamtor Bahasa Provinsi Maluku mengungkapkan telah melaksanakan progran priotas dalam mendukung capaian pengembangan bahasa daerah.
Kantor Bahasa Maluku telah melakukan kegiatan prioritas selama januari - September 2021. Kegiatan itu meliputi Pengayaan Kosakata Bahasa, Penyusunan Kamus Dwibahasa Serua-Indonesia Konservasi Sastra Lisan Maku Maku Usi Rosa Etnik Nuaulu, Revitalisasi Bahasa Daerah di Provinsi Maluku.
Dalam laporan tertulis yang diterima MNCTrijaya FM, Kepala Kantor Bahasa Maluku Sahrill S.S, M.Pd mengungkapkan kegiatan Pengayaan Kosakata Bahasa Indonesia dengan mengumpulkan kosakata unik dari bahasa daerah di Provinsi Maluku untuk diusulkan ke KBBI sebagai pengaya kosakata bahasa Indonesia. Tahun 2021. Kantor Bahasa Maluku melakukan pengumpulan data dari dua bahasa daerah, yaitu bahasa Marlasi dan Bahasa Batuley.
“Semua kesulitan tersebut terbayarkan dengan adanya sambutan yang hangat dari masyarakat Desa Marlasi dan Benjuring. Hasil yang didapatkan dari proses pengumpulan data, Lokakarya dan Sidang Komisi Bahasa Daerah adalah 1.200kosakata budaya dari dua bahasa yang akan diusulkan ke dalam KBBI. Setelah data tersebut selesai diolah, akan dikirimkan kepada tim redaktur untuk diusulkan ke KBBI,” ujar Sahril dalam kutipan laporan secara tertulis, Jakarta, Kamis (7/10).
Kantor Bahasa Maluku juga melakukan Penyusunan Kamus Dwibahasa Serua-Indonesia sebagai sumber data kamus karena bahasa tersebut merupakan salah satu bahasa yang terancam punah. Bahasa Serua dituturkan oleh masyarakat di Desa Waru, Kecamatan Teon Nila Serua, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku.
“Tindak lanjut dari kegiatan ini adalah penerbitan kamus Dwibahasa Serua-Indonesia yang saat ini masih dalam proses penyusunan naskah.Selain itu, kamus tersebut akan dialihwahanakan dalam bentuk aplikasi gawai (mobile apps) yang kemudian dapat diunduh dan diakses melalui ponsel pintar,” jelas Sahril.
Kegiatan lain juga dilakukan Kantor Bahasa Maluku berupa Konservasi Sastra Lisan Maku Maku Usi Rosa Etnik Nuaulu di Dusun Rouhua, Desa Sepa, Maluku Tengah, untuk pelindungan bahasa dan sastra daerah. Dalam kegiatan ini Kantor Bahasa Provinsi Maluku melakukan pendokumentasian rangkaian prosesi adat Maku Maku Usi Rosa. Maku Maku Usi Rosa adalah ritual prosesi adat yang dilakukan oleh Etnik Nuaulu dengan tujuan untuk penghapusan dosa.
“ Prosesi adat itu berisi rangkaian acara adat, yaitu Pasawari Sone Kahuae Rereta (perjalanan mengelilingi lapangan adat) dan Usi Rosa (penebusan dosa). Tarian Cakalele dan Maku Maku juga menyertai prosesi adat tersebut. Prosesi adat dilaksanakan dalam kurun waktu lima tahun sekali dan berlangsung selama 15 hari itu diikuti oleh 100 pemuda dan pemudi Etnik Nuaulu yang bermukim di Dusun Rouhua, Desa Sepa, Maluku Tengah,” tutur Sahril.
Selian itu dalam rangka, menjaga kelestariam bahasa daerah, Kantor Bahasa Provinsi Maluku melakukam revitalisaai Revitalisasi Bahasa Daerah diperuntukkan bagi bahasa daerah yang penggunaannya mengalami pergeseran sehingga dapat mengakibatkan suatu bahasa menuju terancam punah.
Sahril mengungkapkan sejumlah kegiatan yang dilakukan yaitu membangkitkan penggunaan bahasa daerah terutama generasi muda, menunbuhkan sikap posiyif, mengedukasi masyarakat, menambah jumlah penutur bahasa daerah.
“ Menambah keterampilan penutur generasi muda dalam berbahasa daerahnya. Meningkatkan ranah penggunaan bahasa daerah sesuai dengan konteks pemakaiannya,” jelas sahril.
Menurut Sahril, Kegiatan revitalisasi bahasa daerah dilakukan dalam bentuk pentas bahasa daerah dengan beberapa lomba yang menggunakan bahasa daerah. Kegiatan dilakukan di tiga lokasi, yaitu Pulau Saparua, Desa Wamlana, dan Banda Eli. Pentas ini di kemas diantaranya dalam bentuk lomba berbahasa daerah, yaitu Lomba Pidato berbahasa daerah, Bertutur Cerita Rakyat Berbahasa Daerah, Cipta dan Baca Puisi Berbahasa Daerah, Cipta lagu Berbahasa Daerah, Drama Berbahasa Daerah.
“Hasil yang didapatkan dari kegiatan ini, yaitu menumbuhkan minat dan antusias generasi muda dalam menggunakan bahasa daerahnya. Tindak lanjut dari kegiatan ini akan dilakukan evaluasi seberapa besar keberhasilan kegiatan revitalisasi ini di lokasi revitalisasi tersebut,” tandas Sahril dalam laporannya.