Netty Aher Prihatin Ancaman Stunting Menguat Akibat Terbelenggu Impor dan Krisis Petani 

MUS • Thursday, 30 Sep 2021 - 09:07 WIB

Jakarta – Ketua DPP PKS Bidang Kesejahteraan Sosial  Netty Prasetiyani Aher  meminta pemerintah agar mengurangi belenggu impor  bahan makanan pokok  untuk mencegah ancaman stunting. 

"Upaya menurunkan angka stunting di Indonesia harus dilakukan secara komprehensif dari berbagai sisi, termasuk langkah penyediaan bahan pangan tinggi gizi secara mudah dan murah," ujar Netty dalam keterangan media, Kamis, 30/09/21. 

Kesejahteraan rakyat, katanya, sulit tercipta jika pemerintah masih bergantung pada impor bahan pangan. 

Menurut data BPS, dalam kurun waktu Januari hingga Agustus 2021,  Indonesia mengimpor lebih dari 15 juta ton bahan pokok senilai US$ 8,37 miliar atau setara dengan Rp 118,9 triliun. Menurut sumber yang sama, untuk komoditas jagung  sepanjang Januari-Agustus  sudah impor sebanyak 592.101,7 ton, sedangkan impor  ikan segar sebanyak  507,8 ton. 

BACA JUGA: Ganjar Siapkan Skema Entaskan Kemiskinan Ekstrem 5 Kabupaten di Jateng

"Kita seharusnya prihatin dan sedih dengan kondisi ini. Pemerintah harus mencari akar masalahnya, mengapa  dengan luas laut  mencapai 2/3 dari seluruh luas wilayah Indonesia atau sekitar 5,8 juta kilometer persegi, Indonesia masih bergantung pada impor ikan.  Seharusnya  potensi ini digali dan  dimaksimalkan untuk memenuhi kebutuhan pangan," ungkapnya. 

Kondisi tingginya impor bahan pangan  Indonesia ini menurut Wakil Ketua Fraksi PKS,  semakin mengancam angka stunting di Indonesia. 

"Indonesia  berpotensi kekurangan pangan jika tidak segera membangun kemandirian pangan. Ini dapat menjadi ancaman serius bagi penurunan  stunting  yang saat ini kita menjadi juara keempat dunia. Harusnya pemerintah lebih memperhatikan kehidupan dan kesejahteraan petani, tidak hanya sebatas swasembada pangan tapi juga harus diikuti dengan swasembada gizi" katanya. 

Netty meminta pemerintah memaknai  momentum  Hari Tani Nasional 24 September 2021 untuk membangun komitmen dan aksi membahagiakan petani. 

"Kita seharusnya membahagiakan petani dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumber  pangan dalam negeri untuk mencukupi kebutuhan. Tanah kita kaya akan sumber bahan pangan, seperti,  jagung, ubi kayu atau singkong, beras, kentang, kopi, teh hingga cengkeh," katanya. . 

Selain itu, Netty mengingatkan pemerintah agar memberdayakan  petani dan 
menyejahterakan kehidupan mereka agar kemandirian pangan tercapai dan ancaman stunting dapat dicegah. 

"Jangan sampai Indonesia negara agraris akhirnya kehilangan petani karena turunnya minat generasi muda untuk menjadi petani," katanya. 

Data BPS tahun 2013 sampai 2020 telah terjadi penurunan drastis petani muda usia 25-34 tahun yang tersisa hanya sekitar 2,9 juta.