
Jakarta - Relawan sebagai ujung tombak pelayanan Palang Merah Indonesia (PMI) dihadapkan langsung dengan persoalan di masyarakat. Namun, alih-alih menjadikan masyarakat sebagai objek pelayanan, PMI melibatkan unsur masyarakat untuk melayani sesama. Seperti dalam Program Kesiapsiagaan Epidemi dan Pandemi atau Community Epidemic and Pandemic Preparedness Program (CP3).
Di provinsi Banten, CP3 diklaim telah meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat secara signifikan dalam menghadapi epidemi dan pandemi. Koordinator CP3 PMI Banten, Awang Hendriawan menjelaskan, kelebihan relawan masyarakat adalah lebih diterima oleh lingkungannya. Hal ini lantaran mereka berasal dari wilayah tersebut.
"Perannya luar biasa, bukan hanya kegiatan yang ditentukan PMI, tapi di kegiatan lain. masyarakat juga lebih dekat dengan Sibat (Siaga Bencana Berbasis Masyarakat) PMI, tempat bertanya juga," terang Awang.
Awang melanjutkan, di Banten terdapat 180 relawan Sibat yang terlibat dalam CP3. Sejumlah relawan asal Kabupaten Pandegelang ini bertugas mencegah sejak dini Kejadian Luar Biasa (KLB) seperti demam berdarah dan covid-19. Tugas tersebut, kata Awang, kemudian dilaporkan untuk dilanjutkan dengan respon oleh relawan PMI.
"Sibat CP3 melakukan tracing. Bila ada temuan, oleh supervisornya kemudian dilaporkan dan diupload ke sistem. Nanti diterima langsung oleh Pusat, dan Dinas Kesehatan," tambahnya.
Pencegahan juga dilakukan Sibat CP3 dengan rutin melakukan sosialisasi kesehatan, surveilance berbasis masyarakat, sosiasliasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), serta kegiatan kemasyarakatan.
Salah satu tantangan dalam kampanye kesehatan adalah mewujudkan perubahan perilaku. Dibutuhkan strategi serta interaksi yang intens antara relawan dengan masyarakat. Oleh Sibat, tantangan tersebut dapat tertangani dengan baik berkat sikap ulet dan tekun mereka. Awang mengatakan, berdasarkan survei dan evaluasi, kesadaran masyarakat akan lingkungan dan perilaku hidup bersih dan sehat meningkat.
"Sebelum ada Sibat kesadaran kesehatan kurang, meningkatlah sekarang," imbuh Awang.
Awang menambahkan, pada tahap kedua program dukungan Palang Merah Australia dan Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) ini ditambahkan dua desa baru. Secara total, jumlah desa yang dijangkau program ini di Banten adalah enam desa.
"Ini kan berakhir di 2022. Sudah ada exit strategy bagaimana agar tetap berlangsung. Sekarang ada 6 desa, kalau bisa diduplikasi, dan ini dikoordinasikan dengan pemerintah daerah. Jangan sampai program selesai, selesai juga Sibat," tukas Awang.