.jpeg)
Jakarta – Kebocoran data pribadi masyarakat terulang lagi. Kali ini, terjadi pada 1,3 juta data pengguna aplikasi electronic Health Alert Card e-HAC milik Kementerian Kesehatan.
e-HAC merupakan Kartu Kewaspadaan Kesehatan versi modern dan menjadi salah satu syarat bepergian di dalam maupun luar negeri.
Dugaan kebocoran ini pertama kali diungkap oleh peneliti keamanan siber dari VPNMentor melalui sebuah posting di blog resminya.
Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Abdul Kharis Almasyhari menyesalkan kejadian ini. Karena baru Senin lalu, Komisi I rapat dengan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G Plate.
“Baru Senin lalu komisi I rapat dengan Menkominfo, kami tanyakan soal pedulilindungi karena ini jadi sangat powerful. Jangan sampai bocor. Saat itu pak menteri menyanggupi, siap mengawasi 24 jam, 7 hari seminggu,” kata Abdul Kharis Almasyhari dalam wawancara di program Trijaya Hot Topic edisi pagi, Rabu (1/9/2021).
Menurut Abdul Kharis, kasus kebocoran data yang terus terulang, menunjukkan para pengelolanya tidak punya kemampuan yang optimal. “Akhirnya yang dirugikan selalu pemilik data. Kalau memang para pengelola belum kompeten, ya sudahlah tidak usah mengumpulkan data masyarakat,” keluhnya.
Ia juga menyoroti solusi dari Kemenkes, yang terkesan menyederhanakan masalah dengan meminta masyarakat menghapus aplikasi e-HAC versi lama.
“Gak ada urusan. Kalau sudah bocor databasenya, aplikasi dihapus sama aja, sudah terlanjur lepas. Sudah lari datanya,” tukas politisi PKS ini. (MUS)