
Jakarta - Kemendikbud Ristek telah menyatakan pembelajaran tatap muka pada awal bulan September, akan diberlakukan bagi sekolah di wilayah PPKM level 1-3, dan terutama pada sekolah yang tenaga didiknya telah mendapatkan vaksinasi.
Profesor bidang Pulmonologi & Kedokteran Respirasi, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama mengatakan, rencana pelaksanaan pembelajaran tatap muka pada awal September, harus sangat dipersiapkan terutama pada sisi kesehatan masyarakat.
“Bagaimanapun juga harus dilakukan upaya semaksimal mungkin agar terjamin dan penularan dapat ditekan seminimal mungkin. Jadi kalau itu bisa terjadi, mungkin pembelajaran tatap muka bisa dilakukan,” ujar Tjandra kepada Radio Trijaya, Selasa (24/8/2021).
Protokol kesehatan dalam perjalanan anak dari rumah ke sekolah atau sebaliknya, juga harus diperhatikan. Begitu juga dengan monitoring kesehatan anak. “Salah satu yang penting adalah bagaimana memonitor kalau anak ada keluhan itu harus segera ditangani dan harus ada kemudahan untuk murid dan pendidik,” ujar Tjandra.
Menurutnya, peserta didik atau pendidik yang mengeluhkan kesehatannya, harus segera mendapatkan tes PCR sehingga harus ada kerja sama antara sekolah, dan puskesmas terdekat. Hal itu disebutnya sebagai proses yang penting.
“Untuk mempermudah hal ini, harus ada kontak antara sekolah dan fasilitas kesehatan terdekat, agar tes bisa dilakukan dengan cepat kalau ada keluhan,” tambahnya.
Selain itu, indikator yang harus diperhatikan dalam PTM ini, yaitu penularan rendah dalam masyarakat. “Tentu saja harusnya penularan di masyarakat relatif rendah itu indikator penting dari kacamata epidemiologi supaya pembelajaran tatap muka ini bisa digelar,” kata Tjandra.
PTM dipandang akan lebih baik jika dilakukan pada wilayah yang sedang menerapkan PPKM level 1 dan 2 terlebih dahulu, dibandingkan jika diterapkan langsung pada wilayah PPKM level 1, 2, dan 3. (EVIN)