
Jakarta – Pengamat Politik Internasional Universitas Gajah Mada, Siti Mutia Setiawati menilai, kekuasaan Taliban di Afghanistan merupakan suatu kemerdekaan bagi negara itu.
“Menurut saya ini adalah suatu kemerdekaan bagi Afghanistan, karena selama ini Afghanistan bukan negara merdeka. Pertama, kehadiran Amerika Serikat sejak 2001 atau sudah 20 tahun di Afghanistan dan bagaimanapun itu berarti tidak merdeka. Walaupun ada pemerintahan di sana, itu adalah buatan Amerika,” kata Siti dalam wawancara di Trijaya Hot Topic, Rabu (18/8/2021).
Menurut Siti, banyaknya masyarakat yang ingin meninggalkan Afghanistan, tak lepas dari rekam jejak Taliban di masa lalu.
“Taliban adalah warga Afghanistan sendiri, jadi mereka mendeklarasikan kemerdekaan dan mengambil kuasa, itu tidak apa–apa dalam politik. Masyarakat Afghanistan sendiri ingin kabur karena 'record' dari Taliban yang sering dipandang kejam terhadap masyarakat Afghanistan sendiri dan tidak memberi kebebasan kepada wanita, jadi wajar," kata Siti.
Karena itu sudah sepantasnya Indonesia menghormati kemerdekaan Afghanistan yang dideklarasikan Taliban.
“Tadi malah juru bicara Taliban dalam konferensi pers mengatakan mereka menjamin tidak akan ada kekerasan, serta transfer kekuasaan yang aman. Orang Amerika dan orang asing juga akan diperlakukan dengan baik, dan wanita tidak akan didiskriminasi.
Tetapi Taliban juga meminta 'international community respect' terhadap cara-cara Taliban yang mungkin akan berbeda. Saya juga melihat ada harapan dan mari kita dukung, dan selama ini kita melihat pemerintah Indonesia sangat concern terhadap penyelesaian Afghanistan,” papar Siti.
Walaupun sekarang dikuasai Taliban, Siti berpendapat, tidak ada salahnya Indonesia saling tetap berhubungan dengan Afghanistan.
“Kalau sekarang Taliban yang berkuasa, tidak masalah pemerintah Indonesia tetap berhubungan. Kita menuntut janji mereka, karena itu telah direkam seluruh dunia," tutup Siti Mutia. (vin)