Cluster Keluarga Sumbang 50% Kasus Covid-19, Peran RT dan RW Menjadi Penting

MUS • Thursday, 15 Jul 2021 - 21:45 WIB

Jakarta – Seiring lonjakan kasus positif covid-19 di Indonesia, cluster keluarga pun mulai bermunculan. Satgas Penanganan Covid-19 mengakui fenomena ini, meski belum mengantongi data detilnya. 

“Satgas pusat belum mempunyai informasi detail tentang persentase sumbangan kasus dari cluster keluarga, namun menurut informasi dari satgas daerah cukup besar 50% mungkin bisa lebih dari itu,” kata Dzajuli Chalidyanto, dari tim Perubahan Perilaku Satgas Covid-19, dalam Trijaya Hot Topic Petang, Kamis (15/07/2021).

Dzajuli menyampaikan PPKM mikro tetap harus dilaksanakan saat ini, peran RT atau RW sangat dibutuhkan untuk mengayomi dan mengedukasi masyarakat terkait bahaya Covid-19. 

“Sebenarnya PPKM Darurat tidak bisa berdiri sendiri, perlu ada dukungan kebijakan lain seperti PPKM Mikro. Ada yang salah dengan pemahaman masyarakat itu, bukan berarti PPKM Darurat dilaksanakan tapi PPKM Mikro tidak,” jelas Dzajuli.

dr. Rizal dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta menambahkan PPKM darurat juga sangat penting didukung dengan vaksinasi dan penerapan protokol kesehatan. Penting tetap melakukan protokol kesehatan di rumah. Bagi anggota keluarga yang terpaksa melakukan kegiatan di luar rumah, sebelum melakukan kontak fisik dianjurkan untuk cuci tangan dan membersihkan badan.

“Saya setuju peran RT dan RW untuk mengayomi dan mengedukasi masyarakat terkait bahaya Covid-19. Masyarakat juga harus sadar akan pentingnya vaksin, saat ini vaksin sudah sangat mudah bahkan ada mobil vaksin keliling, untuk jadwal dan titik lokasinya dapat diakses pada aplikasi JAKI,” jelas dr. Rizal. 

Karakteristik Masyarakat Indonesia Penyebab Cluster Keluarga

Karakteristik masyarakat Indonesia adalah komunal, yang memiliki kepercayaan diri dan rasa aman jika berada di dekat keluarga. Hal ini menyebabkan berkembangnya cluster keluarga.

“Karakteristik masyarakat kita (Indonesia) itu komunal, mereka merasa percaya dan aman bila di dekat keluarga. Padahal mereka tidak mengetahui orang tersebut habis kontak dengan siapa dan darimana,” ungkap Devie Rahmawati, Pengamat Sosial Universitas Indonesia.

Selain itu penyebab lainnya adalah seseorang akan menghindari informasi yang menimbulkan rasa takut. Akibatnya edukasi terkait Covid-19 kurang tersampaikan. Karena itu disarankan untuk menggunakan pendekatan yang lebih persuasif, misalnya dengan mengedukasi lewat lagu dan film. (Ann)