.jpg)
Kurniasih Mufidayati
Ketua Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga DPP PKS
Selama hampir 1,5 tahun kita dipaksa untuk menghadapi pandemi covid-19 di negeri ini dengan tanpa kejelasan kapan akan berakhir. Selama hampir 1,5 tahun kita dipaksa lebih banyak beraktivitas di rumah, dan anak-anak juga dipaksa belajar di rumah, hingga menimbulkan kejenuhan.
Berbagai permasalahan dalam keluarga bermumculan akibat tekanan yang tinggi dan berlama-lama di rumah. Pandemi berkepanjangan dan dipaksa untuk di rumah saja telah menimbulkan stress pada anak dan ibu. Pandemi yang menyebabkan kehilangan pekerjaan, berkurangnya pendapatan, tutupnya usaha juga telah menimbulkan stress di kepala keluarga.
Selama hampir 1,5 tahun pandemi juga banyak anak-anak kehilangan ayahnya atau ibunya, atau keduanya, ibu yang kehilangan suaminya atau ayah yang kehilangan istrinya. Kondisi ini tentunya membuat guncangan dalam keluarga, terutama untuk menghadapi hari-hari ke depan.
Pandemi telah memberikan dampak yang besar pada ketahanan keluarga terutama bagi mereka yang terkena lansung pandemi atau terdampak besar secara ekonomi akibat pandemi covid-19 ini.
Keluarga dan Tekanan Pandemi Covid-19
Keluarga menjadi sasaran yang sangat rentan dalam pandemi covid-19 ini. Bukan hanya tekanan psikologis dan emosi akibat terkungkung karena pandemi maupun tekanan ekonomi akibat kehilangan pekerjaan maupun kehilangan anggota keluarga. Covid-19 juga menjadi momok bagi keluarga karena adanya penularan antar anggota keluarga dan bermunculannya klaster keluarga di banyak kasus dan wilayah.
Ayah yang menularkan virus SARS Cov-2 ini ke anak dan istri dari tempat kerja atau perjalanan. Anak yang menularkan ke ibu dan ayahnya dari tempat pergaulan dan bermainnya, atau keluarga yang yang tertular dari tamu yang datang.
Hal yang mengkhawatirkan dari gelombang kedua pandemi covid-19 di Indonesia adalah meningkatnya jumlah anak dan remaja serta perempuan yang tertular. Ledakan covid-19 saat ini yang diduga disebabkan oleh varian Delta virus corona memang membuatnya lebih mudah menyerang anak dan remaja dibanding varian asalnya.
Data Satgas covid-19 menunjukkan proporsi anak usia 5 tahun ke bawah yang terpapar covid sudah mendekati 3%. Sementara proporsi usia 6-18 tahun mencapai 9,7%. Proporsi ini meningkat dibanding awal tahun lalu dimana balita yang terpapar covid masih dibawah 2%. Sementara proporsi anak dan remaja yang masih menjalani perawatan atau berstatus positif aktif mencapai 3,1% dan 10,4%.
Demikian pula jika melihat perbandingan antara kelompok laki-laki dan perempuan dimana proporsi kelompok perempuan yang terpapar covid lebih banyak (51,4%) dibanding laki-laki (48,6%). Proporsi yang menjalani perawatan juga lebih banyak perempuan dibanding laki-laki.
Ancaman penularan covid-19 yang semakin tinggi terhadap balita, remaja dan perempuan adalah ancaman buat keluarga. Mengingat ketiga kelompok tersebut adalah bagian penting dari keluarga. Sehingga dampak pandemi terhadap daya tahan keluarga bukan saja dari dampak psikis dan mental akibat sekian lama harus terkurung dan berkegiatan secara online, membatasi interaksi fisik dan sosial, tekanan kehilangan pekerjaan atau berkurang pendapatan, namun kini juga ancaman penularan covid-19 pada anak akibat varian Delta ini.
Semula anak dianggap relatif aman dari penularan covid-19 karena daya tahan tubuh yang lebih baik dan varian awal covid-19 yang tidak terlalu menular pada anak.
Menghadapi tekanan yang semakin tinggi dari pandemi covid-19 yang berkepanjangan terhadap keluarga, maka membangun keluarga tangguh menjadi sangat penting pada setiap keluarga Indonesia, terutama di episentrum pandemi. Bagi keluarga yang tidak terpapar covid-19, keluarga tangguh diwujudkan dalam bentuk keluarga yang secara bersama-sama disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan dan saling mengingatkan jika ada anggota keluarga yang akan melakukan kegiatan yang berpotensi menimbulkan penularan.
Ada kekompakan dan kerjasama antar anggota keluarga dalam menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) serta membangun suasana keluarga yang ceria dan damai untuk memperkuat immunitas tubuh. Ini bisa dicapai jika keluarga memiliki ketahanan yang kokoh yang ditopang oleh seluruh anggota keluarga.
Harus dibangun kesadaran bersama bahwa ada norma baru yang dibangun di keluarga bahwa saling mengingatkan untuk disiplin menjalankan 5M adalah bentuk kasih sayang kepada sesama anggota keluarga yang lain. Keluarga saling waspada agar tidak menjadi sumber terjadinya klaster keluarga mengingat klaster ini menjadi sumber penularan terbesar (mencapai 40%) khususnya di DKI Jakarta.
Bagi keluarga yang terpapar covid-19 dan sedang menjalani isolasi mandiri atau perawatan di Rumah Sakit, keluarga tangguh dibutuhkan agar dapat selalu kompak dalam menjalani isolasi mandiri, saling menguatkan untuk tidak takut dan khawatir menjalani tes swab, saling mendukung untuk menjalani isolasi dengan benar dan menikmatinya (enjoy).
Keluarga tangguh akan saling mendukung dalam berkonsultasi dengan petugas medis atau satgas covid-19 selama menjalani isolasi bersama, dan segera melakukan deteksi dan antisipasi jika ada salah satu anggota yang kondisinya menurun saat menjalani isolasi mandiri. Keluarga juga selalu bersama-sama dalam disiplin menjalani protokol kesehatan dan PHBS.
Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko kerentanan dan meningkatkan ketangguhan keluarga di tengah pandemi. Misalnya, melihat kebutuhan dan mendengarkan keluhan anggota keluarga. Saling memberikan rasa nyaman dan saling bantu agar mereka tetap tenang serta menghubungkan dengan berbagai alternatif solusi jika terjadi situasi darurat. Dan yang tak kalah penting yakni saling melindungi dari situasi yang lebih buruk, terutama jika berada pada zona berbahaya penularan covid-19 yang semakin tinggi seperti yang saat ini sedang berlangsung.
Membangun Keluarga Tangguh Menghadapi Pandemi Berkepanjangan
Membangun ketahanan keluarga menuju keluarga tangguh menjadi kata kunci dalam menghadapi kerentanan keluarga akibat pandemi civid-19 yang berkepanjangan. Ketahanan keluarga menuju keluarga tangguh diperlukan agar keluarga mampu bertahan dan bangkit dari berbagai tekanan yang bisa mempengaruhi mental, ketenangan jiwa, kerapuhan fisik bahkan keutuhan keluarga.
Banyak hal sederhana yang bisa dilakukan untuk membangun keluarga tangguh dalam mengahadapi pandemi. Mulai dari mengatur pengeluaran keluarga sesuai prioritas, sampai dengan mengelola harapan semua anggota keluarga agar tetap optimis bahwa pandemi akan selalu berlalu dan bersama bersiap menatap masa depan yang lebih baik.
Membangun keluarga tangguh di masa pendemi dimulai dengan membangun kesepahaman dan saling pengertian diantara anggota keluarga. Mendengarkan keluhan tiap anggota keluarga pada saat kebersamaan begitu kuat akibat dibatasinya aktivitas luar, sehingga bisa mengatasi dan mencarikan solusi atas keluhan tersebut.
Berikutnya adalah memberikan rasa nyaman dan saling membantu serta menguatkan dalam menghadapi pandemi ini. Suasana nyaman dan saling bantu ini pentiing untuk menghindarkan diri dari kecemasan berlebihan (anxiety) dan tekanan psikis akibat pandemi serta immunitas tubuh yang makin kuat
Di sisi manajemen keuangan keluarga, membangun keluarga tangguh dilakukan dengan membuat prioritas bersama untuk kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi. Pada saat ekonomi sulit sementara kebutuhan menjaga kesehatan meningkat akibat pandemi, sangat penting untuk membuat prioritas apa yang betul-betul dibutuhkan oleh keluarga.
Kebutuhan pokok tentu saja harus jadi prioritas, diikuti dengan kebutuhan untuk tetap sehat dan terhubung dengan orang lain. Kebetuhan yang tidak terlalu mendesak bisa ditunda dulu. Demikian pula dengan mencari alternatif-alternatif solusi dalam penggunaan anggaran keluarga untuk suatu kebutuhan dalam menghadapi pandemi.
Oleh karena itu, memperkokoh ketahanan keluarga menjadi hal yang sangat krusial di masa pandemi berkepanjangan ini untuk dapat mendukung terbentuknya keluarga tangguh. Ketahanan keluarga sendiri bertujuan untuk menciptakan keluarga tangguh yang mampu mengatasi persoalan internal keluarganya secara mandiri dan menangkal gangguan yang berasal dari luar, berbasis prinsip dan nilai-nilai keluarga serta berlandaskan keimanan. Keluarga yang memiliki ketahanan kuat, akan lebih mudah untuk mewujudkan keluarga tangguh.
Pada sisi lain, peningkatan kasus covid yang cukup tajam pada gelombang kedua ini membuat perlunya ada perlindungan ekstra terhadap ibu dan anak sebagai komponen penting sekaligus kelompok paling rentan dalam ketahanan keluarga. Kecenderungan meningkatnya kasus covid-19 pada anak, remaja dan perempuan harus jadi perhatian lebih dan tidak boleh dibiarkan berlanjut terus. Harus ada kebijakan dan upaya luar biasa untuk lebih mengendalikan penyebaran covid-19 saat ini yang sudah sangat mengkhawatirkan. Agar anak-anak, remaja dan perempuan dapat lebih terselamatkan dan keluarga tangguh dapat diwujudkan.