Dokter Paru: Virus Corona Varian Baru 30% Lebih Berbahaya 

MUS • Thursday, 17 Jun 2021 - 23:26 WIB

Jakarta – Indonesia darurat gelombang kedua pandemi covid-19. Data terbaru, Kamis (17/6/2021) total kasus corona di tanah air sudah mendekati angka 2 juta, seiring dengan penambahan kasus positif harian yang mencetak rekor 12.624 orang. Cepatnya penambahan kasus, disebabkan oleh virus varian baru yaitu, B117, B1617, dan B1351.

“Virus varian baru ini lebih cepat penularannya, 12 kali lipat dibanding varian lama,” kata Epidemiolog UI, Tri Yunis Mico, pada Trijaya Hot Topic Petang, Kamis (17/6/2021).

Puncak kasus dari varian baru diprediksi akan berlangsung beberapa kali. Menurut perkiraan Tri Yunis, apa yang terjadi saat ini sudah memasuki puncak ke-8, dan akan terus berlangsung 5 hingga 6 minggu kedepan

Kembali naiknya kasus positif, tak lepas dari perilaku masyarakat yang mulai abai dengan protokol Kesehatan. Bahkan penurunan kedisiplinannya mencapai 50%, terutama di daerah pedesaan.

“Prokes mulai menurun saat covid-19 menginjak usia 9 bulan, menurun sekitar 40-50%. Penurunan ini semakin terlihat terutama di daerah pedesaan, nah ini lah penyebab terjadinya lonjakan,” Kata Tri Yunis.

Sementara itu Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Agus Dwi Susanto, virus varian baru yang ditemukan di Indonesia, memperburuk kesehatan pasien hingga 30%. 

“Virus varian India secara penyebaran memang benar, 2 kali lebih cepat. Sedangkan virus varian Inggris memperburuk kondisi pasien sebesar 30% serta meningkatkan risiko kematian,” ungkap Dr. Agus.

Kudus kota darurat Covid-19 
Kurangnya penerapan protokol kesehatan, bersamaan dengan temuan virus varian baru, menjadikan Kudus sebagai kota darurat Covid-19. 

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengungkapkan, ledakan kasus covid-19 membuat Kudus kekurangan tenaga Kesehatan. Karena itu pemerintah daerah berencana meminta bantuan sukarelawan dari mahasiswa kesehatan di perguruan tinggi.

“SDM tenaga kesehatan kami memang berkurang. Untuk pilihan terakhir, kami akan meminta bantuan tenaga kesehatan dari luar daerah serta sukarelawan para mahasiswa kesehatan di perguruan tinggi,” kata Ganjar