
Jakarta – KRI Nanggala 402 yang dinyatakan hilang kontak pada hari Rabu (21/4/2021), telah ditemukan oleh Remotely Operated Vehicle (ROV) milik kapal Singapura MV Swift Rescue pada Minggu (25/04/2021) dengan keadaan badan kapal terbelah menjadi tiga bagian.
Mantan kru sekaligus mantan Kepala Kamar Mesin KRI Nanggala 402, Laksda Purnawirawan Frans Wuwung meyakini tenggelamnya KRI Nanggala disebabkan oleh blackout kelistrikan.
“Saya setuju dengan informasi bahwa kapal tenggelam akibat blackout. Karena kapal sudah tidak bisa memberi informasi berada di kedalaman berapa atau di posisi mana setelah menyelam, efek dari alat komunikasi yang non aktif,” ujar Frans saat diwawancara oleh Trijaya Hot Topic pagi edisi, Senin (26/04/2021).
Frans juga menjelaskan penyebab dan mengapa Blackout bisa mengakibatkan KRI Nanggala 402 tenggelam.
“Penyebab blackout adalah matinya arus listrik sehingga mempengaruhi alat komunikasi dan tenaga kapal selam. Karena KRI Nanggala ini menggunakan energi dari baterai berarus DC, dan kemudian untuk menyuplai seluruh peralatan yang ada di kapal selam membutuhkan arus AC. Tenaga dari baterai yang berarus DC ini akan melewati converter untuk bisa menjadi arus AC. Jadi saya berpikiran jika ada converter di kapal yang mengalami kerusakan,” kata Prajurit yang mulai berdinas di KRI Nanggala pada tahun 1987.
Frans mengungkapkan dari pengalamannya saat berdinas, ia juga pernah mengalami hal yang sama terkait dengan kerusakan converter listrik.
“Pada saat itu juga kondisinya KRI Nanggala juga sedang menyelam, kerusakan converter terjadi karena bebannya yang terlalu berlebih sehingga converter tidak kuat menahan beban dan akhirnya drop. Untuk menangani putus listrik sepengalaman saya, kita harus mencari saklar yang bisa menjalankan converter kembali,” tutup Frans.
Semua Awak Dipastikan Gugur
Pada kesempatan yang sama, Reporter Inews Bali, Dewi Umaryati menyebut dengan ditemukannya badan kapal dalam kondisi terbelah tiga, maka dapat dipastikan semua awak telah gugur.
“Pada awalnya banyak yang masih mempercayai keajaiban semua awak kapal akan selamat. Namun faktanya dalam pernyataan yang diuraikan Kepala Staff TNI Angkatan Laut Laksamana Yudo Margono, bahwa pada kedalaman 838 meter, tidak mungkin ada awak yang berhasil selamat,” ujar Dewi.
“Proses selanjutnya setelah para awak kapal dinyatakan gugur adalah pengangkatan badan kapal KRI Nanggala 402 serta evakuasi jasad para awak yang masih berada didalamnya. Untuk evakuasi badan kapal pemerintah harus berkoordinasi dengan asosiasi kapal selam internasional (ISMERLO),” tutup Dewi. (Kuh)