
Jakarta - Pemerintah sedang merencanakan impor beras demi menjaga stok pangan nasional, sekaligus menjaga kestabilan harga. Namun banyak masyarakat dan kalangan petani maupun pedagang yang menolak rencana tersebut. Pasalnya petani beras di Indonesia sedang mengalami panen besar. Menurut mereka yang menolak, hal ini bisa merugikan produsen beras domestik.
Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian Universitas Lampung Bustanul Arifin menegaskan, saat ini bukan waktu yang tepat untuk impor beras.
“Kalau mau datang (impor beras) kira-kira di luar musim panen, saat harga mulai naik. kapan itu? bisa bulan Juli sampai Agustus. Saat kemarau rata-rata harga akan naik,” ujar Bustanul dalam wawancara di MNC Trijaya FM, Rabu (24/03/2021).
Menurut Bustanul, wacana impor di awal tahun bukan hal yang baru. Terkait hal ini masyarakat seharusnya bisa menyikapi dengan lebih dewasa. Namun, Bustanul tidak menampik penolakan masyarakat terjadi karena saat ini sedang ada panen besar. Bahkan menurutnya, saat ini di beberapa lokasi di Indonesia harga beras justru sedang turun, dan tidak akan terjadi lonjakan harga dalam waktu dekat.
Di program yang sama, Wakil Sekjen Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Nasional, Zulharman Djusman menyatakan, tidak semata-mata menolak kebijakan pemerintah. Namun, mereka mendukung pemerintah untuk melakukan kaji ulang terhadap rencana impor beras ini.
“Kenapa perlu dikaji ulang, karena pada bulan kemarin sampai bulan Mei nanti, kita sedang panen raya hampir di seluruh Indonesia,” tambah Zulharman.
Menurut Zulharman, yang jadi masalah adalah berita yang muncul di masyarakat terkait beras dengan kadar air yang terlalu banyak akibat musim hujan, yang ditolak oleh pihak Bulog. Padahal, fenomena tersebut hanya ada di sebagian kecil wilayah di Indonesia.
“Sebelum mengimpor beras, paling tidak melihat dulu potensi yang ada di Indonesia ini,” tutupnya. (TIO)