.jpg)
Jakarta – Pemerintah Indonesia berencana mengimpor beras sekitar satu juta ton pada awal tahun ini, sebagai iron stock atau penambah cadangan.
Guru Besar IPB sekaligus Ketua Umum Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI), Professor Dwi Andreas Santosa mengatakan banyak laporan tentang produksi beras di Indonesia yang meningkat. Namun efek La Nina beberapa waktu lalu juga berakibat pada turunnya harga gabah di tingkat usaha tani.
“Dari hasil kajian AB2TI, pada bulan September 2020 harga gabah ada di kisaran 4.800 rupiah, dan saat ini harga gabah di lapangan yang dilaporkan oleh teman teman tani AB2TI, sudah drop di angka 3.800 Rupiah,” ujar Dwi saat diwawancara dalam program Trijaya Hot Topic pagi edisi Rabu,(17/03/2021).
Dwi khawatir keputusan pemerintah mengimpor beras, akan membuat harga gabah turun drastis, seiring dengan produksi beras lokal yang semakin melimpah.
“Pada saat situasi seperti ini (stok beras melimpah-red), kok pemerintah malah mengeluarkan keputusan impor beras? Keputusan ini saya rasa sangat menyakitkan bagi petani, apalagi sekarang sudah memasuki masa panen raya sehingga produksi beras petani lokal akan kembali meningkat,” tukas Dwi. (Kuh)