Pemanfaatan Limbah FABA Berguna untuk Rumah di Daerah Tertinggal

MUS • Wednesday, 17 Mar 2021 - 08:52 WIB

Jakarta - Sejumlah akademisi menyambut positif kebijakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang mengeluarkan Fly Ash and Bottom Ash (FABA) dari daftar limbah bahan berbahaya dan beracun (B3), karena FABA mendatangkan manfaat yang luar biasa.

Dosen Teknik Lingkungan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga, Nita Citrasari mengatakan, dalam penelitian yang dilakukan memang tidak ada dasar menjadikan FABA sebagai limbah B3. Karena dari beberapa FABA yang ia teliti, kandungan logam beratnya masih di bawah batas yang diizinkan. Meski seperti itu, jika penggunaannya secara berlebihan maka akan menimbulkan kekhawatiran.

"Tetapi memang yang menjadi kekhawatiran kami, seperti nasi dikonsumsi terlalu banyak efeknya bisa menjadi berbahaya. Karena kita berfikir bahwa setiap bulannya FABA di Indonesia mendekati 10 juta ton di PLTU. Kemudian, kami dari lingkungan itu memfungsikan diri sebagai kontrol," ujar Nita dalam Diskusi Spesial Polemik Radio MNC Trijaya, Selasa (16/3/2021).

Ia menambahkan, tidak serta merta merasa senang FABA keluar dari limbah B3 karena melihat PP 101 tahun 2014, sangat sulit dalam mengabdikan kepada masyarakat. Contohnya seperti daerah-daerah tertinggal, bisa disumbang dengan rumah berbahan fly ash, seperti beton dan batu bata.

"Memang harus dikontrol, kalau kita bawa ke suatu daerah harus tetap analisis daya dukung daerahnya. Maka kemudian dengan jumlah yang banyak itu lalu ada proses, karena konsentrasinya yang sedikit tapi kemudian berbahaya atau beracun makanya harus dikontrol," kata Nita.

PP 101 tahun 2014 sebelumnya memang memperbolehkan limbah B3, namun tetap harus ada pengawasan dan pembinaan. Sehingga ini dapat menjadi pagar pembatas penggunaan limbah B3.

Pemanfaatan FABA yang paling sering dilakukan menurut Nita, adalah blok dan batako, karena bisa dimasukan langsung ke produksi semen sabagai bahan baku seperti di Jepang.

"Kita gunakan untuk fondasi jalan raya, karena memang penggunaan terbesar itu turunan dari bahan konstruksi. Hanya saja memang kalau itu bisa dimanfaatkan dengan bebas, seperti sekarang," ungkap Nita. (FAN)