Dituding Ingin Kudeta AHY di Demokrat, Begini Respon Moeldoko

MUS • Monday, 1 Feb 2021 - 20:23 WIB

Jakarta – Teka-teki tentang sosok orang dalam Istana yang disebut berniat mengambil alih kepemimpinan Partai Demokrat, seperti disebut dalam konferensi pers Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) tadi siang, Senin (1/2/2021), akhirnya terjawab.

Kepala Badan Komunikasi Strategis DPP Partai Demokrat, Herzaky Mahendra Putra menyebutkan orang yang dimaksud adalah Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko.

"Berdasarkan pengakuan, kesaksian, dari BAP sejumlah pimpinan tingkat pusat maupun daerah Partai Demokrat yang kami dapatkan, mereka dipertemukan langsung dengan KSP Moeldoko yang ingin mengambil alih kepemimpinan Partai Demokrat secara inkonstitusional untuk kepentingan pencapresan 2024," kata Herzaky dalam keterangan tertulisnya, Senin malam.

Menanggapi tuduhan itu Moeldoko pun angkat bicara. Moeldoko mengaku sebenarnya enggan bersuara dan reaktif terhadap tudingan Demokrat. Namun ia harus menjawab, karena nama Presiden Jokowi terseret dalam persoalan ini.

“Poin yang pertama jangan dikit-dikit Istana. Dalam hal ini saya mengingatkan sekali lagi jangan dikit-dikit Istana. Dan jangan ganggu Pak Jokowi dalam hal ini. Karena beliau tidak tahu sama sekali. Tidak tahu apa-apa dalam hal ini, dalam isu ini. Jadi itu urusan saya Moeldoko nih bukan selalu KSP. Ini Moeldoko nih,” kata mantan Panglima TNI itu lewat keterangan persnya, Senin (1/2/2021).

Dia mengatakan dirinya memang menerima siapapun tamu yang mengunjunginya. Termasuk dari pihak-pihak yang ingin mengambil alih Partai Demokrat. Dia mengaku bahwa dalam kunjungan tersebut tidak memahami konteksnya. “Secara bergelombang mereka datang, berbondong-bondong ya kita terima. Konteksnya apa saya juga ga ngerti. Tapi dari obrolan-obrolan itu biasanya saya awali dari pertanian karena saya memang suka pertanian. Berikutnya pada curhat situasi yang dihadapi ya gw dengerin aja. Berikutnya ya ya sudah dengerin aja. Saya sih sebenarnya prihatin melihat situasi itu. Karena saya juga bagian yang mencintai Demokrat,” ujarnya.

Menurutnya tudingan ini bersumber dari foto-foto saja. Padahal menurutnya seringkali pertemuan dengannya diakhiri dengan mengambil foto bersama. “Muncul lah tetek bengek dan seterusnya. Mungkin dasarnya foto-foto. Ya orang ada dari Indonesia Timur. Dari mana-mana datang ke sini kan pengen foto sama gw, sama saya. Ya saya terima saja apa susahnya. Itulah menunjukan bahwa seorang jenderal tidak punya batas dengan siapapun,” ungkapnya.

Dia pun tidak masalah jika foto tersebut menjadi bahan gunjingan. Namun dia menegaskan bahwa suatu kudeta tidak berasal dari luar tapi dari dalam. “Berikutnya kalau ada kudeta itu ya kudeta itu dari dalam masa dari luar,” pungkasnya.