Soal Temuan Seaglider di Selayar, Direktur Namarin: Percayai Penjelasan Kasal

MUS • Wednesday, 6 Jan 2021 - 10:52 WIB

Jakarta - Polemik soal temuan benda sejenis drone bawah laut di perairan Pulau Selayar, Sulawesi Selatan beberapa waktu lalu terus menjadi sorotan publik. Banyak yang menyebut benda tersebut adalah Unmanned Underwater Vehicle (UUV) buatan China dengan nama Sea Wing (Haiyi).

Pasalnya, benda itu dinilai mirip dengan yang ditemukan di perairan Kepulauan Riau (Kepri) pada 2019 silam. Bahkan ada yang dengan jelas menyebutkan institusi dan negara yang telah memproduksi benda tersebut.

Namun secara mengejutkan, Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Yudo Margono dalam konferensi pers di Pushidrosal, Senin (4/1) lalu dengan tegas menyebut tidak ditemukan keterangan negara pembuat dalam benda tersebut.

“Tidak ditemukan ciri-ciri tulisan negara pembuat. Jadi tidak ada tulisan apa pun di sini. Kami tidak rekayasa, bahwa yang kami temukan seperti itu masih persis seperti yang ditemukan nelayan tersebut kita bawa ke sini (Jakarta),” ujar Kasal.

Alhasil pernyataan Kasal tersebut telah menepis berbagai spekulasi yang ber-seliweran sebelumnya. Beberapa politisi dan pengamat telah meyakini benda tersebut berasal dari Negeri Tirai Bambu. Di sisi lain, publik juga telah dibuat bingung dengan berbagai asumsi yang beredar.

Terkait itu, Direktur The National Maritime Institute (Namarin) Siswanto Rusdi berharap kepada publik agar mempercayai pernyataan Kasal sebagai pernyataan resmi yang mewakili negara.

“Kasal memiliki kapasitas secara institusional yang mewakili negara. Kalau dia (Kasal) bilang tidak diketahui negara pembuatnya, itu sudah final. Jadi jangan ada lagi spekulasi-spekulasi soal benda yang disebut Kasal sebagai seaglider itu,” ujar Siswanto.

“Jadi kalau tidak percaya kepada Kasal, kita percaya kepada siapa lagi? Ini institusi negara yang bicara dalam konferensi pers yang resmi,” tambahnya.

Siswanto menilai banyak media, pengamat dan politisi di Indonesia yang termakan dengan pernyataan pengamat dari Australian Strategic Policy Institute, Malcolm Davis. Dikutip dari laman ABC Australia, Davis menyebut penemuan glider oleh nelayan lokal ini merupakan petunjuk berharga.

Davis menyatakan glider itu ditemukan di rute penting perairan antara Laut Tiongkok Selatan menuju ke kota paling utara di Australia yakni Darwin. 

“Ini merupakan sebuah sinyal bahwa Angkatan Laut Tiongkok tengah bersiap mengerahkan kapal selam mendekati area maritim kami di utara Darwin dan kami harus lebih siap menghadapi kemungkinan aktivitas kapal selam,” kata Davis.

Siswanto menuding bahwa pernyataan Davis merupakan pernyataan pertama yang menyebut benda di Selayar itu adalah milik China untuk kepentingan militernya. Menurutnya, Australia sangat memiliki kepentingan dengan posisi Indonesia terhadap konflik di Laut Tiongkok Selatan antara China dengan Amerika Serikat.

“Australia berharap bahwa rakyat Indonesia memiliki sentimen terhadap China. Australia sendiri kita tahu merupakan sekutu Amerika,” ungkap Siswanto.

Oleh karena itu, dia berharap kepada rakyat Indonesia terutama para pengamat agar jernih menilai sesuatu. Namun dia sepakat bahwa kejadian ini sebagai momentum untuk meningkatkan kewaspadaan kita dalam keamanan maritim.

“Kita sepakat kalau ke depan early warning system kita harus ditingkatkan, tapi rakyat juga tetap jangan mudah terkena provokasi,” pungkasnya.