Rumah Singgah UGM Masih Memadai Tangani Kasus Covid 19

MUS • Friday, 4 Dec 2020 - 19:23 WIB

Jogya- Sekretaris Rektor UGM, Gugup Kismono, menegaskan UGM memiliki sarana isolasi dan rumah singgah yang memadai untuk menampung dan menangani sivitas UGM yang terpapar Covid-19. “Saat ini ada beberapa sivitas UGM terpapar Covid-19 yang tengah diobservasi dan diisolasi di fasilitas yang disediakan, hingga hasil swab lanjutan telah menunjukkan hasil negatif. Beberapa sedang diisolasi dan akan dilakukan swab ulang,“ kata Gugup, Jumat (4/12).

Berkaitan dengan informasi yang beredar melalui pesan berantai yang menyebutkan bahwa fasilitas isolasi mandiri yang disediakan UGM telah terisi penuh, Gugup menegaskan bahwa pernyataan itu tidak benar. 

“Saat ini sejumlah kamar isolasi tengah digunakan oleh sivitas UGM yang terpapar Covid-19, namun jumlahnya tidak terlalu banyak, sehingga banyak kamar isolasi yang tersedia tidak terisi,“ jelas Gugup.

UGM memiliki sebanyak 8 unit asrama dengan kapasitas 2.617 bed. Dari jumlah itu hanya 1 asrama, yaitu Darmaputra yang digunakan untuk isolasi mandiri bagi internal UGM. Jumlah kamar yang digunakan 43 atau 86 bed.

“Saat ini hanya terisi 20 kamar arau 20 bed. Jadi, tidak benar asrama UGM hampir penuh untuk isolasi mandiri,” tegas Gugup.

Ketua Satgas Covid-19 UGM, Rustamadji, memberi klarifikasi bahwa informasi yang beredar tersebut bukan merupakan pernyataan resmi dari Satgas Covid-19 UGM. 

“Sarana isolasi dan rumah singgah sampai saat ini masih cukup menampung kebutuhan isolasi mandiri Sivitas,” ungkapnya. Akses masuk dan keluar kampus pun diatur dengan memperhatikan protokol kesehatan dan perkembangan situasi. “Beberapa kegiatan luring kami perbolehkan, tapi hanya untuk penyelesaian studi dan pencapaian kompetensi pada bidang ilmu tertentu,” terangnya.

Rustamadji menambahkan, saat ini seluruh pimpinan universitas dalam kondisi sehat. Situasi kasus infeksi Covid-19 di UGM juga menurutnya masih cukup terkendali. Hal ini didukung dengan proses tracing, testing, dan treatment yang telah dijalankan untuk memutus rantai penularan Covid-19. “Evaluasi dan pembenahan sistem juga terus dilakukan, misalnya terkait dengan sistem deteksi, pelaporan, dan penanganan dugaan kasus Covid-19,” imbuhnya. (Ron)