COVID-19 & Cerpelai 

MUS • Monday, 9 Nov 2020 - 19:07 WIB

Oleh Prof Tjandra Yoga Aditama
Guru Besar Paru FKUI, Mantan Direktur WHO SEARO, dan Mantan Dirjen P2P & Ka Balitbangkes

Kita sudah mengenal penularan COVID-19 antar manusia yang hingga kini sudah mencapai lebih dari 50 juta kasus di dunia. Selain itu, perlu diketahui bahwa data dari World Health Organization (WHO) November 2020 juga menunjukkan ada penularan antara manusia dan binatang, walaupun tentu jumlahnya masih amat kecil. 

Beberapa binatang yang pernah tercatat positif virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 adalah anjing, kucing, singa, harimau dan laporan terbaru adalah cerpelai (mink). Kita tahu bahwa bulu cerpelai banyak digunakan untuk bahan suvenir berbulu seperti semacam mantel dll.

Sesuai data World Organisation for Animal Health (OIE) sudah ada 6 negara yang melaporkan temuan virus penyebab COVID-19 pada peternakan cerpelainya, yaitu Denmark, Belanda, Spanyol, Swedia, Itali dan Amerika Serikat. Cerpelai ternyata dapat bersifat sebagai reservoar, artinya menularkan COVID-19 diantara sesama cerpelai dan juga kemungkinan risiko penularan dari cerpelai ke manusia. Dalam proses penularan virus antara cerpelai dan manusia ini terjadi modifikasi genetika, yang dapat diidentifikasi melalui proses whole genome sequencing.

Sejalan dengan lockdown di beberapa negara Eropa di bulan November ini, Perdana Menteri Denmark juga mengumumkan lockdown pada sebagian daerahnya yang setidaknya mencakup 280 ribu penduduk. Keputusan ini dibuat menyusul pemusnahan jutaan cerpelai di lebih dari 200 peternakan di Denmark yang memang merupakan salah satu negara dengan peternakan cerpelai terbesar di Eropa.  

Sejak Juni 2020 Denmark melaporkan 214 kasus COVID-19 yang berhubungan dengan peternakan cerpelai, termasuk 12 diantaranya dengan varian khusus sebagaimana dilaporkan pada 5 November beberapa hari yang lalu. Varian khusus ini disebut sebagai “klaster 5” masih terus dalam penelitian para ahli, termasuk kemungkinan penurunan sensitivitas terhadap antibodi neutralisasi yang penting dalam sistem kekebalan manusia. 

Analisa saintifik dan laboratorium mendalam tentu akan terus dilakukan untuk melihat adakah dampak peribahan varian ini pada aspek diagnosis, pengobatan dan utamanya vaksin COVID-19 yang sekarang sedang dalam proses uji klinik fase tiga. Menteri Luar Negeri Denmark memang menyatakan bahwa “We have indications this unique mutation has reduced response to antibodies, which can ultimately affect the efficiency of a potential vaccine.”

Penelitian lain juga dilakukan para ahli pada 16 peternakan dengan 720.000 cerpelai di Belanda. Hasilnya menunjukkan bahwa memang ada penularan antara manusia dan cerpelai, jadi suatu bentuk penularan zoonotik. Data awal penelitian ini menunjukkan bahwa setidaknya ada dua peternak yang tertular dari binatang cerpelai di Belanda. Swedia menemukan wabah korona pada 10 dari 40 peternakan cerpelai negara itu, sementara Italia melaporkan setidaknya dua sampel yang positf SARS-CoV-2 pada peternakan cerpelai negaranya. 

Negara bagian Utah dan Wisconsin Amerika Serikat juga melaporkan ribuan cerpelai yang mati karena virus korona.  Spanyol memusnahkan sekitar 100.000 cerpelai (tepatnya 92.700 ekor) pada Juli 2020 yang lalu, setelah menemukan 87% diantara hewan itu ternyata tertular COVID-19. Pemilik peternakan dan istri serta 6 karyawannya juga ternyata positif COVID-19.  

Perkembangan ini tentu mendapat perhatian WHO, tetapi memang masih perlu penelitian lebih lanjut sebelum mengambil kesimpulan, khususnya tentang kemungkinan dampaknya pada vaksin COVID-19. Pernyataan resmi Chief Scientist WHO beberapa hari yang lalu menyebutkan "We need to wait and see what the implications are but I don't think we should come to any conclusions about whether this particular mutation is going to impact vaccine efficacy." (Jak)