.jpeg)
JAKARTA - Ungkapan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Sukarno Putri yang mempertanyakan kiprah dan sumbangsih kaun milenial untuk Indonesia, menuai kontroversi. Direktur Visi Indonesia Strategis, Abdul Hamid atau biasa dipanggil Cak Hamid menyatakan, hal tersebut merupakan bagian kaum old school yang selalu romantisme seolah generasinya yang paling baik.
"Terkait ungkapan Megawati yang mempertanyakan kiprah atau sumbangsih kaum millenial bagi negeri ini menurut saya bagian dari “penyakit” utama kaum baby bomber atau bahasa anak muda disebut kaum old school yang selalu romantisme seolah generasinya yang paling baik," tegas Direktur Visi Indonesia Strategis, Abdul Hamid, di Jakarta, Minggu (1/11/2020).
Menurutnya, kelompok ini selalu mengukur prestasi dengan simbolis seperti khusuk saat menyanyikan Indonesia raya, mengheningkan cipta dll, sementara kelompok millenial jauh lebih esensialis.
"Saya kira Megawati gagal memahami tentang apa dan bagaimana kaum millenial serta tidak tahu tentang peran dan sumbangsih terhadap negara yang kekinian. Padahal dalam kabinet Jokowi saja ada mas menteri Nadiem dari kaum millenial," ujarnya.
Ia menilai, sumbangsih buat negeri, pihaknya mencontohkan, milenial berhasil membangun gojek sebagai perusahaan startup raksana yang memfasilitasi jutaan orang untuk ngojek dan membantu puluhan bahkan ratusan ribu UMKM lewat gofoodnya.
"Itu satu contoh, sementara contoh-contoh lainnya luar biasa banyaknya bagaimana kaum millenial membuat harum bangsa Indonesia lewat kiprah-kiprah mereka," tambahnya.
"Jadi menurut saya agak aneh jika sekelas Mega pempersoalkan kiprah anak muda, apalagi hanya berdasar karena adanya aksi-aksi memprotes omnibus misalnya? Saya kita itu sangat naif sekali," tutup Cak Hamid. (ANP)